
Setelah mereka menikmati matahari terbit di tempat yang biasanya mereka kunjungi, kini mereka berjalan menuju warung bubur ayam yang selalu menjadi favorit mereka sejak Aydin dan Kiki menjadi suami istri.
Banyak sekali kenangan yang mereka torehkan di sana. Kenangan tentang perasaan Kiki yang kala waktu itu masih mencoba melupakan Raditya untuk mulai mencintai Aydin.
(Baca novel sebelumnya yang berjudul: Pernikahan Rahasia KIARA)
Sekarang kenangan itu bertambah dengan adanya anak-anaknya dengan pasangannya masing-masing. Mereka semua duduk dengan pasangan masing-masing. Kecuali max yang selalu bersama dengan Miyuki karena dia tidak mempunyai pasangan saat ini.
“Kenapa kamu ada di meja ini? Semuanya dengan pasangannya masing-masing,” ucap Tristan dengan sinisnya pada Max.
“Ck, jika ada Lucas di sini, aku pasti tidak akan duduk bersama dengan kalian,” sahut Max sambil mencebik kesal pada Tristan.
Miyuki menancapkan sendoknya di dalam bubur ayamnya layaknya memegang sebuah pisau yang siap menggores apa pun. Dengan wajah kesalnya dia berkata,
“Sudah, kalian diamlah. Kalian berdua merusak mood pagiku dengan pertengkaran kalian.”
Seketika Tristan dan Max merapatkan bibirnya karena mendapatkan tatapan bengis dari Miyuki. Dengan segera mereka makan bubur ayam yang sudah ada di hadapan mereka tanpa bersuara.
Melihat keadaan yang sudah tenang, Miyuki kembali memakan bubur kesukaannya itu. Terlihat jelas sekali jika Miyuki sangat menyukainya. Wajahnya mengatakan jika dia sangat menyukai dan menikmati bubur tersebut.
Miyuki meletakkan putih telur puyuhnya pada pinggiran mangkuk buburnya. Tristan yang duduk di sampingnya merasa heran pada Miyuki. Dalam hatinya dia berkata,
Mungkin dia menyimpannya untuk dimakan nanti pada saat terakhir. Lebih baik aku kasih saja punyaku agar dia perlahan lebih dekat denganku daripada dengan Max.
Tristan meletakkan semua putih telur puyuh miliknya pada pinggiran mangkuk milik Miyuki sambil berkata,
“Kamu pasti suka ini kan? Ini untukmu.”
Seketika dahi Miyuki mengernyit melihat semua putih telur puyuh milik Tristan berada di mangkuknya. Kemudian dia menoleh ke samping di mana suaminya itu sedang duduk dan tersenyum padanya. Lalu dia bertanya,
“Kata siapa aku suka putih telur?”
Sontak saja Max terkekeh mendengar sepasang suami istri yang meributkan tentang putih telur. Di sela kekehannya itu dia berkata,
“Katanya kamu itu suaminya. Kok bisa kamu gak tau kalau istrimu ini tidak suka putih telur?”
__ADS_1
Seketika mata Tristan terbelalak mendengar fakta yang dikatakan oleh Max. Tadinya dia kesal pada Max yang seolah sedang menertawakannya. Tapi saat itu juga dia tahu jika dia salah sangka pada putih telur Miyuki yang dipinggirkannya.
“Aku kira putih telur milikmu itu akan kamu makan saat terakhir nanti. Biasanya kan orang akan memakan terakhir makanan yang disukainya,” ucap Tristan yang berusaha membela dirinya sendiri.
“Sayangnya kamu salah. Aku tidak suka dengan putih telur. Dan aku hanya memakan kuning telur saja,” tukas Miyuki sambil mengembalikan semua putih telur yang telah diberikan Tristan padanya.
Bahkan putih telur milik Miyuki pun dipindahkannya pada mangkuk Tristan. Max masih saja terkekeh sambil menikmati buburnya. Dia sangat menikmati sikap kekanak-kanakan Tristan yang seolah sedang berlomba dengannya untuk mendapatkan Miyuki.
Mata Tristan berbinar mendapati banyaknya putih telur yang ada dalam mangkuknya. Kemudian dia berkata,
“Kebetulan sekali Mimi. Aku tidak menyukai kuning telur. Sebaiknya kuning telur milikku kamu makan saja.”
Tristan memindahkan semua kuning telur puyuhnya ke dalam mangkuk Miyuki. Entah mengapa senyumnya terus mengembang hanya dengan mengetahui fakta tentang kesukaan mereka pada bagian telur.
“Mimi, sepertinya kita memang jodoh ya. Kamu hanya suka makan bagian kuning telur dan aku hanya makan bagian putih telur. Sepertinya kita saling melengkapi,” ucap Tristan sambil tersenyum manis pada Miyuki.
“Pfffttt…,” Max menahan tawanya.
Namun, lama kelamaan dia tidak bisa menahan tawanya, sehingga Max terkekeh karena takut menjadi pusat perhatian jika tertawa sendirian.
Sayangnya kekehannya itu tidak berlangsung lama. Ternyata tangan Miyuki sudah menjepit bibir Max menggunakan tangannya. Setelah dirasa Max sudah tenang, Miyuki melepaskan tangannya.
Tristan mengernyitkan dahinya mendengar apa yang dikatakan oleh Max dan berkata,
“Ayah Raditya? Apa dia….”
“Ayah Kak Raline,” sahut Max setelah meneguk teh hangatnya.
Sontak saja mata Tristan terbelalak. Ternyata orang yang ada dalam pikirannya benar-benar yang dibicarakan oleh Max.
“Ck, ternyata kamu tidak bisa menyimpan rahasia Max,” tukas Miyuki di sela kunyahannya.
Tristan benar-benar merasa terkejut. Dia tidak mengira jika keluarga Miyuki sangat rumit. Tapi dia sangat bangga karena mereka bisa mengatasi semuanya dengan baik dan tetap berhubungan baik seperti tidak terjadi sesuatu di antara mereka.
Setelah itu mereka menghabiskan sarapan mereka tanpa mengatakan apa pun. Mereka tidak ingin membahas hal yang memang tidak patut untuk mereka bahas.
__ADS_1
“Kita pulang besok saja. Kita habiskan saja malam minggu kita seperti biasanya di taman ini,” tutur Aydin ketika mereka berjalan bersama menuju villa mereka.
“Nanti Mami akan meminta mereka menyiapkan semua bahan untuk makanan kita seperti biasanya,” ucap Kiki menanggapi perkataan suaminya.
“Kita mengadakan barbeque seperti biasanya Mi?” tanya Raline yang bergandengan bersama dengan Kenshin.
“Iya Sayang,” sahut Kenshin sambil mencubit gemas hidung Raline.
Mereka semua sudah biasa dengan sikap romantis dan candaan dari tiap pasangan. Yang melihat heran dan iri hanya Tristan. Dia belum terbiasa dengan keadaan keluarga yang sangat menyenangkan itu.
Maklum saja karena kedua orang tua Tristan selalu sibuk dengan urusan pekerjaan dan tidak mengusahakan waktu bersama dengan keluarga seperti keluarga Aydin.
Malam harinya, mereka benar-benar menghabiskan waktu di villa Aydin. Dan apa yang mereka lakukan sama seperti biasanya. Kenshin memainkan gitarnya dan Raline yang menyanyikan lagunya. Sedangkan Miyuki tetap dengan dance nya karena Max yang akan berduet bersama dengan Miyuki dilarang oleh Kiki.
Tristan memandang kagum pada istrinya. Dan itu tidak lepas dari perhatian semua orang. Melihat Tristan yang mengagumi Miyuki, membuat Max mempunyai ide untuk memberi Tristan pelajaran.
Max mendekati Miyuki yang sedang mengambil minuman. Kemudian dia berbisik di telinga Miyuki untuk mengatakan idenya.
“Kamu yakin Max?” tanya Miyuki yang seolah tidak yakin dengan ide yang diberikan Max padanya.
“Aku yakin. Coba saja,” jawab Max sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
Dengan segera Miyuki masuk ke dalam Villa keluarganya menuju kamar miliknya. Dia ingat jika Maminya itu sudah menyiapkan barang yang dibutuhkannya untuk melancarkan ide dari Max.
Bibir Miyuki melengkung ke atas setelah mendapatkan apa yang dicarinya. Segeralah dia masuk ke dalam kamar mandi dan memakai barang tersebut.
Setelah memakainya, Miyuki segera keluar dai kamarnya dan mengajak Tristan kembali ke Villa mereka. Tentu saja Tristan merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Miyuki padanya. Apalagi istrinya itu menarik tangannya ketika mengajaknya pulang ke villa mereka.
“Gantilah pakaianmu di dalam kamar mandi. Aku akan berganti di sini,” ucap Miyuki sambil melepas jaketnya.
Tristan pun menurut meskipun dia heran dengan apa yang diperintahkan oleh istrinya. Dalam hati dia berkata,
Tumben dia menyuruhku terlebih dahulu, biasanya dia yang meminta apa pun terlebih dahulu.
Setelah beberapa saat, Tristan pun keluar dari kamar mandi. Matanya terbelalak dan tenggorokannya tercekat ketika melihat istrinya yang sedang berdiri di depan cermin dengan tampilan yang tidak biasanya.
__ADS_1
Glek!
Tristan menelan air liurnya melihat penampilan istrinya dan menatap istrinya itu dengan tatapan mata laparnya yang seolah menginginkannya.