Menikah Dengannya?

Menikah Dengannya?
Bab 34 Malu


__ADS_3

Tristan terperangah mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Miyuki padanya. Memang dia sendiri belum yakin pada perasaannya. Hanya saja semuanya terjadi dengan begitu saja, hingga dia tidak bisa menanyakan pada hatinya tentang perasaannya saat ini.


“Bukannya kemarin malam aku sudah mengatakannya Mimi,” ucap Tristan seraya tersenyum pada istrinya untuk menutupi kegugupannya.


“Aku hanya ingin mengetahuinya ketika dalam keadaan seperti ini. Jika kemarin malam aku mendengarnya setelah melakukan itu, maka terdengar seperti ucapan terima kasih karena telah memberikan hak mu sebagai seorang suami,” tukas Miyuki dengan tegas.


Seketika mata Tristan terbelalak mendengar perkataan dari istrinya. 


Sungguh dia tidak mengira jika istrinya akan berpikiran seperti itu. Malam itu Tristan melakukan apa yang diinginkan oleh hatinya. Dan apa yang dikatakannya saat itu benar-benar keluar begitu saja dari bibirnya. 


“Mi, aku mengatakannya sesuai dengan apa yang hatiku inginkan. Aku tidak ada pikiran untuk memanfaatkan hubungan kita hanya untuk menginginkan hakku sebagai suamimu. Percayalah Sayang,” ucap Tristan dengan tatapan memohon dan memegang kedua tangan Miyuki, berharap agar istrinya itu tidak meragukannya lagi.


Miyuki melepas tangannya yang sedang digenggam oleh suaminya. Kemudian dia 


berkata,


“Sudahlah. Kita sudahi saja pembahasan ini. Aku lapar Kak.”


Tristan merasa sangat bersalah pada istrinya. Dengan segera dia beranjak keluar kamar seraya berkata,


“Tunggu ya Sayang. Aku akan membelikanmu bubur di tempat kemarin.”


Miyuki tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia tidak berkata apa pun karena merasa aneh dengan hatinya. Dia merasa kecewa pada Tristan yang tidak menjawab pertanyaan tentang perasaanya. Tapi dia juga merasa tidak ingin ditinggalkan oleh Tristan saat ini meskipun hanya sebentar saja. Itu pun untuk membelikannya makanan.


“Huuufffttt… Apa yang sebenarnya kamu harapkan Yuki? Ini bukan rencanamu yang waktu itu. Apa akhirnya kamu masuk ke dalam rencanamu sendiri?” tanya Miyuki bermonolog pada dirinya sendiri disertai helaan nafasnya.


“Ck, rasanya nyeri banget. Jalan juga gak bisa seperti biasanya. Bagaimana besok pas masuk kuliah?” ucap Miyuki sambil berjalan keluar kamar untuk menuju ruang tengah.


Diambilnya remote televisi itu dan ditekannya berkali-kali untuk mencari chanel yang diinginkan.


“Kok gak ada yang bagus sih?” ucap Miyuki kesal sambil menekan-nekan tombol remote tersebut.


Hanya beberapa saat saja Tristan meninggalkannya sendiri, tapi dia sudah mulai bosan menunggu.


“Lama sekali sih Kak Tristan belinya,” ucap Miyuki yang terlihat seperti tidak sabar.


“Mimi, kok di sini? Harusnya kamu di dalam kamar saja. Tadi kamu jalan ke sini?” 


Tiba-tiba suara Tristan mengalihkan perhatian Miyuki dari layar televisi yang hanya dipandang saja, tanpa benar-benar dilihat dan didengarkan.


“Ya iyalah jalan. Gak mungkin kan aku terbang? Lagian beli buburnya lama banget sih?” jawab Miyuki sambil mengerucutkan bibirnya.


Tristan berjongkok di depan istrinya. Dia mengambil kedua tangan istrinya itu dan memegangnya dengan erat. Kemudian dia berkata,


"Sayang, tadi aku bertemu dengan keluarga kamu. Mereka dalam perjalanan pulang ke villa."

__ADS_1


"Lalu bagaimana? Apa mereka menanyakan aku?" tanya Miyuki dengan antusias.


Tristan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia mencium lembut tangan istrinya, setelah itu dia berkata,


"Mereka khawatir pada princess kesayangan mereka. Mungkin mereka akan pulang sore ini. Tapi sebelum pulang, mereka akan ke sini terlebih dahulu untuk mengunjungi princess kesayangan mereka."


"A-apa? Kenapa mereka mengunjungiku? Aku harus mengatakan apa jika mereka melihatku berjalan aneh seperti ini?" tanya Miyuki dengan cemasnya.


Tristan terkekeh. Dia mencubit gemas hidung istrinya, serta memainkannya ke kiri dan ke kanan seraya berkata,


"Biar aja mereka tau. Lagian nih ya, tanpa mereka tanya pun mereka pasti tau kalau kita baru saja–"


Dengan cepatnya tangan Miyuki membungkam bibir Tristan menggunakan tangannya. Dia malu membicarakan soal itu meskipun hanya berdua saja dengan suaminya.


Bibir Tristan tersenyum geli di dalam telapak tangan Miyuki. Dengan perlahan Tristan menyingkirkan tangan istrinya itu dari bibirnya.


Cuuup!


Tanpa aba-aba, Tristan mendaratkan bibirnya pada bibir istrinya. Sontak saja mata Miyuki terbelalak mendapati bibir suaminya itu membungkam bibirnya.


Perlahan Tristan melepaskan bibirnya dari bibir istrinya. Dia tersenyum manis seraya berkata,


"Lain kali pakai bibir jika ingin membungkam bibirku."


Sontak saja semburat merah terlihat di wajah Miyuki. Entah mengapa hanya dengan mendengar ucapan dari suaminya yang seperti itu saja bisa membuatnya menjadi malu.


"Tapi kan –,"


Mata Miyuki kembali terbelalak. Tristan kembali menyerang bibir istrinya tanpa ampun. Ciuman itu begitu dalam dan menuntut, hingga Miyuki terbuai olehnya.


Miyuki membalas ciuman suaminya. Ciuman itu sangat lama dan sangat panas, hingga membuat mereka lupa jika sekarang mereka tidak sedang berada di dalam kamar.


"Ehemmm…."


Terdengar suara laki-laki yang berdehem di sekitar mereka. Sontak saja ciuman mereka berhenti. Secara bersamaan mereka menoleh ke arah sumber suara.


Seketika mata mereka terbelalak. Bahkan Miyuki mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya.


Bruuuk!


Tristan terjatuh di lantai. Dia menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya karena kembali merasakan jatuh di lantai atas ulah istrinya. 


Seketika terdengar suara tawa di ruangan tersebut. Ternyata di sana sudah ada keluarga Miyuki.


Aydin, Kiki, Kenshin, Raline dan Max berdiri tidak jauh dari tempat duduk Miyuki dan Tristan.

__ADS_1


Max menahan tawanya melihat Tristan yang seolah bernasib buruk mendapatkan istri seorang Miyuki.


Miyuki tersenyum kaku ketika Max menatapnya dengan tatapan menertawakannya. Dia tahu arti tatapan dari Max saat ini. 


Sepertinya Max menertawakan aku. Pasti dia akan menggodaku karena aku bisa terperangkap masuk ke dalam rencanaku sendiri, Miyuki berkata dalam hatinya sambil menatap Max yang sedang menertawakannya.


Memang benar jika Max menertawakan Miyuki dengan alasan tersebut. Tapi, Max juga menertawakan Tristan yang jatuh terperosok dalam rencana dan jeratan cinta Miyuki.


"Kalian itu kalau mau gituan harusnya di kamar saja, jangan di sini. Untung saja kita yang datang. Bagaimana kalau orang lain yang masuk dan memergoki kalian yang lagi begituan?" tutur Aydin yang memprotes kekhilafan anak dan menantunya.


"Begituan apaan sih Pi. Cuma gitu aja kok, belum sempat juga gituan, kalian sudah datang duluan," protes Tristan sambil beranjak berdiri dari lantai.


Mendengar jawaban dari Tristan, membuat Miyuki bertambah malu. Dengan gerakan cepatnya dia membungkam bibir suaminya dengan menggunakan tangannya.


Semua orang terkekeh melihat tingkah lucu sepasang suami istri yang baru saja beberapa hari menikah.


"Oh jadi kalian mau gituan. Ya sudah, kalau begitu kita pamit pulang ke kota saja. Tadi Tristan bilang princess nya Mami lagi sakit, ternyata sakitnya beda ya," tukas Kiki sambil terkekeh.


"Iiih… Mami. Bukan begitu. Mami sini deh, Yuki kasih tau," ucap Miyuki yang menggerakkan tangannya untuk memanggil maminya.


Kiki pun berjalan mendekati putrinya. Setelah itu dia bertanya,


"Ada apa? Apanya yang sakit?" 


Miyuki memandang satu persatu orang yang ada di sana. Kemudian dia berkata dengan tegas,


"Dimohon untuk semuanya meninggalkan ruangan ini sekarang juga."


Dengan berat hati mereka mengikuti kemauan Miyuki. Mereka meninggalkan ruangan tersebut dengan mengikuti Tristan yang mengajaknya ke kolam renang yang berada di belakang villa nya.


Miyuki menghela nafasnya, dia gugup akan bercerita pada maminya.


"Ayo buruan mau ngomong apa," ucap Kiki sambil menatap putrinya dengan penuh tanda tanya.


Miyuki pun membisikkan pada maminya tentang apa yang dirasakannya. 


Tanpa bisa menahannya, Kiki tertawa mendengar pengakuan dari putrinya itu. Kemudian dia berkata,


"Ternyata baru sekarang jebolnya? Mami kira Tristan buka segelnya saat malam pengantin kalian. Ternyata…."


"Mami!" seru Miyuki sambil mengarahkan jari telunjuknya di depan bibirnya sebagai kode agar maminya tidak lagi membicarakannya.


Kiki pun mengangguk dan menghentikan tawanya. Setelah itu dia berkata,


"Mami akan meresepkan salep untukmu. Mami dulu juga pakai itu. Papi kamu yang mengoleskannya di bagian itu."

__ADS_1


Seketika mata Miyuki terbelalak mendengar perkataan maminya. Melihat reaksi putrinya itu, Kiki semakin tidak bisa menahan tawanya. Dan lepaslah tawanya saat ini di hadapan Miyuki yang merasa malu pada maminya. 


__ADS_2