
Semua keluarga Miyuki tidak percaya jika dia tidak hamil. Maka saat itu juga mereka melakukan pemeriksan pada kandungan Miyuki.
“Sudah aku bilang jika aku tidak sedang hamil. Kalian semua terlalu heboh sendiri,” ucap Miyuki kesal karena harus melakukan pemeriksaan kehamilan.
“Ya kan kami ingin tau kebenarannya,” tukas Kiki yang merasa bersalah karena memaksa putrinya itu memeriksakan kehamilannya.
“Tapi kan-“
“Sayang… lebih baik kita segera pulang agar kamu bisa cepat beristirahat lagi,” sahut Tristan yang menyela perkataan istrinya agar tidak berdebat dengan maminya.
Miyuki merasa kembali mual ketika mendengar panggilan sayang yang diberikan Tristan padanya. Max yang beberapa menit lalu sudah datang, tersenyum geli mendengar Tristan dengan lembutnya memanggil Miyuki yang terdengar penuh dengan rasa cinta.
Sedangkan Aydin segera mengajak Kiki, Kenshin dan Raline untuk segera pulang agar tidak mengganggu Miyuki dan Tristan yang akan pulang ke rumahnya.
“Yuki, apa kamu butuh bantuanku?” tanya Max pada Miyuki yang duduk di mobil Tristan.
“Tidak perlu. Dia sudah memiliki aku yang akan selalu membantunya,” sahut Tristan yang terlihat kesal pada Max.
Sontak saja Miyuki menoleh ke arah samping, di mana suaminya itu sedang duduk di belakang kemudi sambil menatap kesal pada Max yang berdiri di depan pintu mobil Miyuki dengan membungkukkan badannya dan memasukkan kepalanya ke dalam mobil melalui jendela mobil Miyuki yang kacanya sedang dibuka.
Max tersenyum tipis melihat Tristan yang terlihat cemburu padanya. Kemudian dia berkata dalam hati,
Sepertinya ini akan sangat menyenangkan. Aku akan bermain-main sekarang.
“Apa tidak ada sesuatu yang kamu inginkan Yuki?” tanya Max kembali sambil tersenyum manis pada saudara sepupunya itu.
Miyuki tampak berpikir. Hal itu membuat Tristan bertambah kesal. Seketika dia membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Max menggantikan Miyuki.
“Tid-“
“Aku ingin es krim,” ucap Miyuki yang membuat Tristan tidak jadi meneruskan ucapannya.
Max tersenyum manis pada Miyuki. Seperti biasanya dia selalu menjaga dan memperhatikan Miyuki sehingga apa pun yang diinginkan oleh Miyuki selalu diturutinya.
__ADS_1
“ES krim yang biasanya?” tanya Max sambil tersenyum.
Dengan mata yang berbinar, Miyuki menganggukkan kepalanya sangat antusias. Tentu saja hal itu membuat Tristan bertambah kesal dan berkata,
“Apa kalian sudah gila? Mimi, kamu baru saja sembuh dan ingin memakan es krim? Dan kamu, apa kamu ingin membuat mimi masuk rumah sakit lagi?” tanya Tristan pada Miyuki dan menatap mereka berdua secara bergantian.
Seketika wajah Miyuki terlihat sedih. Dia mengatupkan bibirnya dan menundukkan kepalanya mendengar suaminya yang terlihat marah dan sangat menyeramkan menurut Miyuki.
“Dia hanya menginginkannya saja, jangan berlebihan seperti itu. Lihatlah dia. Sekarang dia sedang sedih dan ketakutan karenamu. Dia tidak pernah dimarahi oleh siapapun. Bahkan dibentak pun dia tidak pernah. Dan kamu bilang jika kamu adalah suaminya? Suami mana yang membuat istrinya bersedih. Suami yang baik selalu membahagiakan dan menyenangkan hati istrinya,” ucap Max dengan kesalnya sambil tersenyum sinis pada Tristan.
Seketika tangan Tristan memegang tangan Miyuki tanpa sadar dan berkata,
“Maafkan aku Mimi, kamu boleh memakan es krim sepuasnya jika kamu sudah sembuh.”
“Aku sudah sembuh. Buktinya aku sudah diijinkan pulang dari rumah sakit,” sahut Miyuki dengan wajah sedihnya memandang suaminya.
“Besok. Jika hari ini memang kamu sudah tidak merasakan sakit seperti waktu itu dan tidak berulang kali ke kamar mandi, aku janji besok akan memperbolehkanmu makan es krim sepuasnya,” ucap Tristan sambil tersenyum pada istrinya.
Max menahan senyumnya. Dia merasa umpannya telah dimakan oleh Tristan. Kini dia akan meneruskannya hingga rencana yang dimilikinya berhasil.
Melihat istrinya diam saja, Tristan menarik kembali tangannya dan bersiap untuk mengemudikan mobilnya.
“Kalau begitu aku ingin pergi ke suatu tempat dengan Max. Sudah lama sekali aku tidak ke tempat itu. Kamu pasti tau kan Max, di mana tempatnya?” ucap Miyuki yang berniat memberitahu keinginannya pada Tristan dan dia beralih bertanya pada Max sambil tersenyum manis padanya.
Mendengar keinginan istrinya itu dan melihat bagaimana reaksi istrinya yang tersenyum sangat manis pada Max, memuat Tristan sangat kesal. Dengan cepatnya dia menyahuti ucapan Miyuki,
“Besok saja akan aku antar kamu ke tempat itu. Sekalian aku akan membelikanmu banyak es krim.”
Seketika perhatian Max dan Miyuki yang sedang saling pandang dan saling tersenyum, teralih pada Tristan. Mereka menatap heran pada Tristan yang sepertinya tidak memperbolehkan Miyuki untuk pergi bersama Max.
“Dia cemburu padaku,” bisik Max di telinga Miyuki.
Mendengar bisikan dari Max membuat bibir Miyuki tersenyum tipis. Sedangkan Tristan semakin kesal melihat Max yang mendekatkan bibirnya ke telinga Miyuki yang terlihat seperti sedang mencium pipinya.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan Max?” tanya Tristan yang terlihat sangat kesal.
“Tidak ada,” jawab Max sambil tersenyum manis pada Tristan.
“Apa kamu sedang cemburu dengan Max?” tanya Miyuki yang merasa penasaran dengan perasaan Tristan yang membuat sikapnya berubah menjadi sangat manis pada Miyuki.
“Apa? Tidak. Aku hanya tidak suka jika milikku disentuh oleh orang lain,” jawab Tristan yang terlihat gugup.
“Milikmu?” celetuk Miyuki sambil mengernyitkan dahinya, memperlihatkan jika dia tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Tristan.
“Iya benar. Kamu istriku, berarti kamu milikku,” jawab Tristan dengan tegas seolah tidak ingin dibantah.
Tanpa sadar bibir Miyuki melengkung ke atas. Bahkan pipinya bersemu merah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Kemudian dia berkata,
“Berarti Kak Tristan men-“
“Bukan berarti itu terjadi,” sahut Tristan memotong ucapan Miyuki yang mengarah pada perasaannya.
Memang Tristan tidak merasa jika dirinya menyukai atau mencintai istrinya. dia hanya mengakuinya sebagai miliknya. Sepertinya Tristan tidak tahu dengan apa yang dirasakannya pada istrinya. dia tetap mengatakan pada dirinya jika nama Raline masih bersemayam di dalam hatinya.
Seketika senyum Miyuki pudar setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Tristan tentang perasaannya. Dalam hatinya berkata,
Apa yang bisa aku harapkan dari manusia macam dirinya. Lihat saja, aku pasti akan membalasnya.
“Max, aku pulang bersamamu,” ucap Miyuki sambil melepas sabuk pengamannya.
Sontak saja Tristan menoleh ke arah Miyuki dan Max yang ada di sampingnya. Terlihat sekali kekesalan Tristan yang berlipat ganda saat ini.
Max tersenyum puas pada Tristan, kemudian tangannya membukakan pintu mobil Miyuki. Sayangnya pintu tersebut terkunci dan tidak bisa dibuka. Max dan Miyuki menoleh pada Tristan yang sedang tersenyum sinis pada mereka.
“Lebih baik kamu pulang dengan suami kamu yang kekanak-kanakan itu Yuki. Jika ada apa-apa, hubungi aku segera. Aku pasti akan segera datang menemuimu,” ucap Max sambil mengusap lembut rambut Miyuki dan tersenyum manis pada sepupunya itu yang memandangnya seolah meminta tolong padanya.
Merasa kesal dengan ucapan MAx,tanpa membuang waktu, Tristan menutup kaca jendela Miyuki secara perlahan sehingga Max mengeluarkan kepalanya yang masuk ke dalam mobil tersebut. dan segera melajukan mobilnya meninggalkan Max yang masih berdiri di sana.
__ADS_1