Menikah Dengannya?

Menikah Dengannya?
Bab 39 Bucin


__ADS_3

Setelah Miyuki ikut bersama dengan Tristan saat itu, hubungan sepasang suami istri itu semakin manis.


Mereka kini layaknya pasangan suami istri yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan Max dan Lucas menjuluki Tristan sebagai suami yang bucin pada istrinya.


Bagaimana tidak, Tristan melarang Max dan Lucas mendekati Miyuki. Bahkan Tristan memberitahukan pada mereka agar berjarak satu meter jika berada di dekat Miyuki.


Sungguh, Miyuki tidak menyetujui aturan dari suaminya itu. Bahkan dia menolak untuk melakukannya. 


Namun, Max lah yang bisa menenangkan Miyuki. Dia memberitahukan padanya jika Tristan bersikap seperti itu karena sudah masuk dalam perangkap cintanya.


Karena itulah Miyuki sekarang hanya diam saja ketika Tristan melarang ini dan itu. Dan karena sikap Miyuki ini, hubungan mereka berdua bisa berjalan dengan baik.


Malam ini, sudah tiga bulan berlalu sejak saat itu. Miyuki berdiri di balkon kamarnya dengan memandang gelapnya langit malam yang dihiasi gemerlapnya bintang.


Tristan berjalan mendekati istrinya dengan membawa sesuatu di tangannya. 


"Sayang, lihat ini, " ucap Tristan ketika sudah berada di samping istrinya.


Miyuki mengernyitkan dahinya dan menatap penuh tanda tanya pada sebuah map yang dibawa oleh suaminya.


"Apa ini?" tanya Miyuki sambil menunjuk map yang diulurkan oleh suaminya di hadapannya.


Tristan tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya. Kemudian dia berkata,


"Bukalah, kamu pasti mengetahuinya."


Tangan Miyuki pun bergerak untuk mengambil map tersebut. Dibukanya map itu dengan perlahan. Jujur saja jika dia sangat takut saat ini. Dia takut jika map tersebut berisi surat perceraian yang sudah ditandatangani oleh suaminya.


Sebelum dia membuka map itu, dia kembali memandang suaminya. Dan suaminya itu kembali memberinya senyuman manisnya seraya berkata,


"Bukalah Sayang."


Dengan berat hati Miyuki membuka map tersebut. Dahinya kembali mengernyit setelah melihat dan membaca kertas yang ada dalam map tersebut.


"Ini…," ucapan Miyuki mengambang, dia tidak bisa menyelesaikan perkataannya.


Tristan berpindah tempat. Kini dia berdiri di belakang istrinya. Tangannya melingkar pada pinggang istrinya seraya berkata,


"Itu surat perjanjian kita sebelum menikah."


"Lalu, untuk apa Kak Tristan memperlihatkannya padaku? Apa Kak Tristan ingin mengakhiri pernikahan ini sekarang?" tanya Miyuki dengan suara yang sedikit tercekat karena menahan rasa sakit di hatinya.


Tristan semakin erat memeluk istrinya. Dia menghirup dalam aroma wangi rambut istrinya. Dan dia pun tersenyum ketika mendengar pertanyaan yang diajukan istrinya padanya. Kemudian dia berkata,


"Aku memang akan mengakhirinya."


Deg!


Seketika air mata Miyuki menetes begitu saja di pipinya. Dan itu tidak diketahui oleh Tristan.


"Aku akan mengakhiri perjanjian ini. Jadi, lenyapkanlah surat perjanjian ini. Aku sudah tidak ingin menyimpannya lagi," sambung Tristan kemudian.


Mata Miyuki terbelalak mendengar perkataan suaminya. Kini air matanya kembali menetes. Kali ini air mata yang dikeluarkannya itu adalah air mata kebahagiaan. Berbeda dengan air matanya yang tadi keluar karena merasakan kesedihan. Entah mengapa dia jadi sangat cengeng akhir-akhir ini.

__ADS_1


Tristan merasa aneh karena istrinya tidak mengatakan apa pun setelah dirinya mengatakan keinginannya untuk mengakhiri perjanjian tersebut.


Segeralah dia memutar tubuh istrinya agar berbalik menghadap padanya. 


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Tristan yang terdengar sangat cemas melihat istrinya mengeluarkan air mata.


Miyuki tidak mampu menjawabnya. Dia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan suaminya.


Tristan menatap intens manik mata istrinya dan mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi istrinya seraya berkata,


"Jangan menangis. Aku tidak bisa melihatmu menangis. Ada apa? Apa kamu tidak setuju jika kita mengakhiri perjanjian itu?" 


Sontak saja Miyuki memeluk tubuh suaminya dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya. Dia menggelengkan kepalanya seolah mengatakan bahwa dirinya tidak mau berpisah dengan suaminya.


"Aku gak mau kita pisah," ucap Miyuki yang masih dalam posisi memeluk suaminya.


Seketika tangan Tristan membalas pelukan istrinya. Dia memeluk erat istrinya itu sambil menciumi kepala istrinya dan berkata,


"Aku juga. Sekarang, lebih baik kita hancurkan saja surat perjanjian itu."


Miyuki menganggukkan kepalanya untuk menyetujui usulan suaminya. Setelah itu dia mengurai pelukannya dan mengambil lembaran surat perjanjian itu dari map tersebut.


"Sobeklah. Atau hancurkan saja sekalian agar kamu tidak lagi kepikiran," ucap Tristan sambil mengusap lembut rambut istrinya.


Miyuki segera menyobek kertas tersebut menjadi berkeping-keping. Setelah itu dia membuang kepingan kecil kertas yang sangat halus itu ke dalam tempat sampah.


Tristan tersenyum dan menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Dia memeluk erat tubuh istrinya seolah tidak ingin kehilangan dirinya.


Badan Miyuki dibaringkan secara perlahan di atas ranjang. Tubuh Tristan sudah mengungkung tubuh istrinya. Mata mereka saling menatap seolah mengatakan keinginan mereka.


"Sayang, aku rindu. Boleh ya?" tanya Tristan sambil tersenyum menggoda istrinya.


Seolah terhipnotis dengan senyuman Tristan, Miyuki menganggukkan kepalanya untuk menyetujui permintaan suaminya.


Senyuman Tristan menandakan kebahagiaannya dan matanya berbinar setelah mendapatkan anggukan kepala dari istrinya.


Perlahan Tristan mendekatkan wajahnya dan menciumi semua wajah istrinya. Setelah itu dia mencium bibir istrinya.


Ciuman itu semakin lama semakin dalam dan menuntut, hingga mereka berdua tidak bisa mengendalikan keinginan mereka.


Dalam hitungan detik, pakaian yang mereka gunakan sudah teronggok di lantai.


Mereka pun terbuai dengan apa yang mereka lakukan. Kini ranjang itu menjadi berantakan dan berpeluh karena ulah mereka. 


Tubuh mereka kini terbaring dengan nafas yang terengah-engah. Bahkan peluh mereka memperlihatkan betapa kerasnya usaha mereka.


Tristan membawa Miyuki dalam pelukannya. Dia mencium lembut kening istrinya seraya berkata,


"Kita tidur sekarang."


Mereka berdua tidur dalam keadaan tidak memakai apa pun. Hanya selimut tebal yang mereka gunakan untuk menutupi tubuh mereka saat ini. 


Pakaian mereka masih bercecer di lantai karena mereka berdua melemparkannya ke sembarang arah ketika tadi akan melakukan ritual mereka.

__ADS_1


Paginya, seperti biasa, mereka berdua masih saja seperti pasangan pengantin baru. Mereka selalu melakukan mandi bersama ketika ada waktu. 


Setelah mereka selesai melakukan aktivitas mereka di dalam kamar mandi, mereka sarapan bersama.


"Sayang, diminum dulu susu UHT nya," ucap Tristan sambil menunjuk segelas susu milik Miyuki.


Miyuki menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya, mirip sekali dengan bocah yang tidak mau meminum obat.


Tristan mengernyitkan dahinya. Dia merasa heran dengan istrinya yang bersikap tidak biasa. Kemudian dia berkata,


"Loh kenapa? Bukannya itu susu UHT kesukaan kamu?" 


Miyuki menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia berkata,


"Aku merasa enek mencium baunya."


Seketika Tristan menempelkan tangannya pada dahi Miyuki seraya berkata,


"Apa kamu sakit?"


Miyuki melepaskan tangan Tristan dari dahinya. Dan dia menggelengkan kepalanya seraya berkata,


"Aku gak sakit. Entah mengapa aku jadi enek bau susu itu."


"Ya sudah, kita beli di minimarket saja nanti. Siapa tau kamu sudah bosan dengan rasa susu yang itu," tutur Tristan sambil menarik tangan istrinya bermaksud untuk membantunya berdiri dari duduknya.


Mereka berdua pun berangkat bersama. Sudah menjadi kesepakatan jika Tristan yang mengantar jemput istrinya. Dan dia selalu mengusahakan agar tidak terlambat ketika menjemputnya pulang.


"Kenapa Sayang, masih mengantuk?" tanya Tristan ketika melihat istrinya sedang menguap setelah melepas sabuk pengamannya.


Miyuki menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Gak tau kenapa, beberapa hari ini aku selalu mengantuk."


"Coba nanti cek ke lab. Aku gak mau kesehatanmu terganggu. Karena banyak artikel yang menyebutkan jika orang yang sering mengantuk bisa jadi mengidap penya-"


"Jadi menurut kamu aku penyakitan?" sahut Miyuki dengan tegas dan dengan tatapan tidak terima.


Glek!


Tristan menelan ludahnya sendiri melihat istrinya kini sedang marah padanya. Dia tidak sadar jika perkataannya bisa menyinggung istrinya.


"Tidak Sayang. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya-"


Braakkk!


Pintu mobil ditutup sekeras mungkin oleh Miyuki. 


Dia meninggalkan suaminya tanpa berpamitan padanya ketika turun dari mobilnya.


Tristam menghela nafasnya melihat punggung istrinya yang menjauh dari pandangannya.


"Gara-gara ini nih," ucap Tristan sambil memukul-mukul bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2