Menikah Dengannya?

Menikah Dengannya?
Bab 9 Kamar suami istri


__ADS_3

Miyuki menatap waspada pada laki-laki yang berstatus suaminya itu. Tristan tanpa ragu-ragu merebahkan dirinya di samping Miyuki tanpa meminta ijin padanya.


Sayangnya, Tristan masa bodoh dan dengan tenangnya dia memejamkan matanya meskipun tahu tatapan tajam istrinya padanya.


Miyuki semakin kesal karena Tristan tidak peka dengan tatapannya. Semakin lama, dia semakin memajukan wajahnya agar Tristan terganggu dengan tatapannya.


"Mau nyium? Kurang ya ciumannya tadi?" tanya Tristan yang masih memejamkan matanya.


Sontak saja Miyuki menjauhkan wajahnya. Kemudian dia mengerucutkan bibirnya karena kesal pada Tristan yang sudah dua kali meminumkan obat dengan caranya itu.


"Siapa yang mau nyium? Percaya diri sekali anda," ucap Miyuki dengan kesalnya yang terdengar jelas pada ucapannya.


Tristan membuka matanya, kemudian dia menghadap ke samping, di mana istri ya berada dengan menopang satu tangannya di kepala. Kemudian dia berkata,


"Lah terus tadi mau ngapain? Mengagumi ketampananku ya?"


"Dih, kumat. Tinggi sekali percaya dirinya orang ini. Aku cuma mau tanya. Kenapa kakak tidur di sini?" ucap Miyuki dengan tatapan kesalnya pada suaminya.


"Ini kamar kita. Mau tidur di mana lagi aku kalau tidak tidur di ranjang ini, bersama dengan istriku," jawab Tristan sambil terkekeh.


"Kenapa kita harus sekamar? Bukannya di sini ada banyak kamar?" tanya Miyuki masih dengan kekesalannya.


"Kamu mau Bik Saroh lapor pada orang tua kita kalau kita pisah kamar?" tanya Tristan kemudian.


"Iya juga ya. Eh tapi apa kakak harus tidur di ranjang yang sama denganku?" tanya Miyuki yang memberikan kode agar Tristan tidur di tempat lain dalam kamar tersebut.


"Kamu kira aku mau tidur di sofa? Gak mau. Jangan harap. Lagian aku juga gak bakal macam-macam sama kamu kok. Mana mau aku sama kamu," ucap Tristan dengan senyum mengejek pada Miyuki.


Seketika kekesalan Miyuki semakin bertambah. Dia semakin kesal mendengar Tristan yang terdengar mengejek dan merendahkannya. 


Kemudian dia memicingkan matanya sambil wajahnya bergerak mendekati Tristan dan berkata,


"Awas saja jika nanti kamu menyentuhku ketika aku tertidur."


Glek! 


Tristan meneguk ludahnya bukan karena ancaman dari Miyuki, tapi karena tidak sengaja matanya melihat bagian dada istrinya yang bagian depan bathrobe nya tersibak karena tubuhnya condong ke arahnya.

__ADS_1


Sayangnya Miyuki mengira suaminya itu takut dengan ancamannya, sehingga dia tersenyum bangga bisa membuat suaminya takut pada ancamannya.


Untuk saat ini aku biarkan dia tidur di sini. Jika bukan karena tanganku yang sedang memakai infus saat ini, aku pasti menguasai ranjang ini dengan tubuhku, Miyuki berkata dalam hatinya.


Ternyata Miyuki sudah merencanakannya. Dia akan menguasai ranjang tersebut dengan tidurnya yang bar-bar, sehingga Tristan tidak bisa tidur di ranjang yang sama dengannya.


Miyuki pun meletakkan guling di tengah-tengah mereka. Setelah itu dia memejamkan matanya karena efek obat yang membuatnya mengantuk.


Sedangkan Tristan, dia kesal dengan tumpukan guling yang dijadikan pembatas oleh Miyuki di tengah-tengah mereka. Tumpukan guling tersebut membuat Tristan tidak bisa bergerak dan tidak bisa melihat Miyuki karena tingginya guling yang menutupi penglihatannya.


Guling sialan. Kenapa aku jadi tidak bisa bergerak gara-gara benda ini? Tristan mengumpat dalam hatinya.


Setelah dia mendengar dengkuran halus dari arah istrinya, Tristan segera menyingkirkan guling-guling tersebut di lantai.


Bibirnya melengkung ke atas ketika guling-guling tersebut sudah disingkirkannya. Wajah Miyuki yang sedang tertidur dan menghadap ke arahnya, membuatnya tersenyum tanpa sadar.


Bagaikan terhipnotis oleh wajah damai istrinya, mata Tristan pun perlahan terpejam dengan posisi berhadap-hadapan dengan Miyuki.


Keesokan paginya, mata mereka terbuka secara bersamaan ketika suara alarm dari ponsel Miyuki terdengar di seluruh kamar tersebut.


Mata mereka saling menatap dan terpaku oleh sepasang mata yang ada di hadapannya. 


Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Sepertinya mereka sedang menyelami perasaan mereka terhadap pemilik mata yang sedang ditatapnya.


Tok… tok… tok…


"Permisi Tuan, Nyonya, dokter sudah datang untuk melepas infus Nyonya."


Suara Bik Saroh dari depan pintu kamar terdengar jelas di telinga mereka. Seketika mereka bergerak salah tingkah karena tersadar dengan apa yang sedang mereka lakukan.


Tristan segera beranjak turun dari ranjang untuk membuka pintu kamarnya. Sedangkan Miyuki mencoba menetralkan denyut jantungnya yang berdetak dengan kencangnya.


"Ada apa Bik?" tanya Tristan ketika pintu kamarnya sudah terbuka.


"Maaf mengganggu Tuan. Di bawah sudah ada dokter yang akan melepas infus Nyonya," ucap Bik Saroh sambil menundukkan kepalanya di hadapan Tristan.


"Antarkan ke sini Bik. Istri saya sudah bangun kok," tukas Tristan memberi perintah pada Bik Saroh.

__ADS_1


"Baik Tuan," ucap Bik Saroh sebelum meninggalkan Tristan untuk menjemput dokter yang sedang menunggu di ruang tamu.


Tristan masuk kembali ke dalam kamarnya. Dan mengunci pintu kamar tersebut sambil berkata,


"Mimi, kamu gak ganti baju dulu?Ada dokter mau memeriksa kamu."


"Hah?! Bagaimana caranya? Begini saja seperti kemarin gak usah ganti," ucap Miyuki sambil menunjuk selang infus yang masih menancap dengan jarum di tangannya.


"Ya aku bantuin. Aku kan suami kamu," tukas Tristan dengan entengnya.


Sontak saja Miyuki membelalakkan matanya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sambil berkata,


"Enak saja. Gak usah mengambil kesempatan lagi ya."


Tok… tok… tok…


"Tuan, dokternya sudah datang," ucap Bik Saroh sambil mengetuk pintu kamar majikannya.


Tristan menghentikan perdebatannya dengan Miyuki dan berjalan menuju pintu untuk membuka pintu kamar yang tadi sempat dikuncinya.


"Silahkan masuk dok," ucap Tristan setelah membuka pintu kamarnya.


Dokter pun masuk dan mulai memeriksa Miyuki. Tristan berada di samping istrinya memperhatikan dokter laki-laki tersebut yang sedang fokus memeriksa Miyuki.


Dia tidak ingin dokter tersebut melihat bagian depan tubuh istrinya seandainya bathrobe nya kembali tersibak seperti saat bersamanya.


"Apa anda sudah merasa baikan Bu?" tanya dokter tersebut setelah memeriksa Miyuki.


"Setelah semalam meminum obat, sampai sekarang saya masih belum ke kamar mandi dok. Saya rasa saya sudah sembuh dok," jawab Miyuki dengan tegas.


"Baiklah, saya rasa ada kemajuan. Jika masih ada rasa mulas atau sakit perut, lebih baik obatnya tetap diminum saja," ucap dokter tersebut sambil memasukkan stetoskopnya ke dalam tasnya.


"Dok, apa ini bisa dilepas saja?" tanya Miyuki sambil menunjuk jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya.


"Ini masih tinggal sedikit Bu. Apa tidak dihabiskan dulu saja? Nanti jika sudah habis cairan infusnya, biar Pak Tristan yang menghubungi saya untuk datang ke sini melepas infusnya," tutur dokter tersebut pada Miyuki.


"Tapi hari ini saya ada kuliah hari pertama dok. Lepas saja dok, tidak apa-apa. Sepertinya saya sudah sembuh," ucap Miyuki yang memaksa agar dokter segera melepas infusnya.

__ADS_1


Dokter tersebut menoleh ke arah Tristan sambil berkata,


"Bagaimana Pak, apa boleh saya melepasnya?" 


__ADS_2