Menikah Dengannya?

Menikah Dengannya?
Bab 37 Suami yang perhatian


__ADS_3

Detik itu juga Tristan meluncur ke kampus Miyuki. Baru kali ini dia mengabaikan pekerjaannya dan tanpa berpikir panjang melakukan sesuatu.


Selama dalam perjalanan, dia tidak pernah bisa tenang. Kecemasannya saat ini terasa menyiksanya. Tanpa disadari olehnya, dia cemburu pada istrinya yang dekat dengan saudara laki-lakinya.


Jalan menuju kampus dirasanya begitu panjang, sehingga dia merasa sangat lama untuk sampai di sana.


Klakson ditekannya berulang kali ketika ada sedikit kemacetan setelah dia terjebak lampu merah. Suara klaksonnya itu memperlihatkan betapa cemas dan terburu-burunya dia saat ini.


Dia bergegas melepas sabuk pengamannya dan segera keluar dari mobilnya layaknya orang yang sedang dikejar waktu.


Matanya berkeliling mencari sosok perempuan yang sedang dicarinya. Sayangnya, di sekitar area itu tidak ada sosok yang dicarinya.


Langkah kakinya yang sangat ringan dan tergesa-gesa membawanya masuk ke dalam kampus tersebut. Dia mencoba mencarinya di setiap koridor yang dilewatinya.


Tiba-tiba langkah kakinya berhenti. Matanya tertuju pada sosok perempuan yang sudah memenuhi pikirannya sedari tadi.


Miyuki, istrinya itu kini sedang berjalan bersama dengan Max dan Lucas. Dia diapit oleh kedua saudaranya itu layaknya tuan putri bersama dengan kedua bodyguard nya. 


Seperti biasanya, Max merangkul pundak Miyuki dan Lucas beradu tangan dengan Miyuki yang sedang mengacak-acak rambut Miyuki.


Terlihat jelas mereka sedang bercanda saat ini. Tawa mereka menggema di seluruh koridor, seolah mengolok-olok Tristan yang sedang berada di sana.


Dengan kemarahan yang sudah tidak bisa dibendung lagi, Tristan berjalan menghampiri mereka.


Sreeet!


Tangan Miyuki ditarik dengan kencangnya oleh Tristan, hingga badannya ikut tertarik dan terpental di dada Tristan.


Sontak saja Max dan Lucas terkejut dengan gerakan Tristan yang begitu cepat untuk meraih istrinya.


"Apaan sih Kak? Sakit tau gak?" omel Miyuki yang mencoba melepaskan dirinya dari tangan Tristan yang merangkul pundaknya.


Tatapan mata Tristan menghunus pada Max dan juga Lucas. Tanpa ada niatan menjawab pertanyaan istrinya, Tristan mengalihkan pertanyaan istrinya itu dengan membicarakan hal lainnya.


Tristan mengalihkan pandangannya pada istrinya dan tersenyum padanya, seraya berkata,


"Sudah selesai kan kelasnya? Ayo ikut aku pulang sekarang."


Bibir Miyuki sudah terbuka, sayangnya tangan Tristan yang kini berada di pinggang istrinya itu segera menariknya untuk mengajaknya berjalan.

__ADS_1


Dengan terpaksa Miyuki menurutinya. Dia berjalan bersama dengan Tristan dan meninggalkan Max serta Lucas yang masih memandangnya.


Max terkekeh melihat sikap Tristan saat ini. Dia merasa Tristan sudah masuk ke dalam perangkap yang diciptakannya.


Lucas mengernyitkan dahinya melihat ke arah Max yang tertawa puas seolah memenangkan sesuatu. Kemudian dia berkata,


"Ada apa Max? Kenapa kamu tertawa seperti itu? Kelihatannya kamu sangat bahagia sekali saat ini."


"Tentu saja Bro, aku sekarang merasa menjadi sutradara yang handal," jawab Max yang pandangannya masih tertuju pada punggung Miyuki dan Tristan.


"Sutradara handal? Apa maksudmu?" tanya Lucas dengan menampakkan wajah bingungnya.


"Kita lihat saja nanti, bagaimana akhir dari cerita ini," tukas Max sambil menepuk-nepuk pelan pundak Lucas.


Lucas semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Max padanya. Dia hanya menggelengkan kepalanya melihat Max yang terkekeh menertawakannya.


Berbeda dengan pasangan suami istri yang kini sedang berjalan di koridor. Semua mata memandangnya dengan tatapan yang berbeda-beda. 


Ada yang menatap kagum pada mereka dan ada pula yang mencibir mereka. Miyuki yang cantik dan Tristan yang rupawan membuat orang lain kagum dan ada pula yang iri pada mereka.


Tidak hanya itu saja, banyak yang merendahkan dan mencibir Miyuki yang dinilai suka berganti-ganti laki-laki.


Bahkan mereka sekarang melihat Miyuki yang pinggangnya dipeluk erat oleh laki-laki tampan dan berwibawa.


Siapa yang tidak iri pada Miyuki. Setiap laki-laki yang ada di sekitarnya selalu tampan dan rupawan. Semua menjadi incaran kaum hawa di kampus tersebut.


"Kenapa Kak Tristan ada di sini? Bukankah seharusnya Kak Tristan sedang bekerja sekarang?" tanya Miyuki dengan rasa penasarannya.


Tristan menoleh ke samping. Dia tersenyum memandang wajah cantik istrinya. Kemudian dia berkata,


"Aku ingin menunjukkan pada sepupu kamu itu bahwa aku seorang suami yang perhatian dan bertanggung jawab."


Seketika hati Miyuki merasa sakit. Entah sejak kapan dia ingin mendengarkan ungkapan cinta dari suaminya itu.


Dulu, sejak dia menikah dengan Tristan, dia tidak mengharapkan untuk mendengar ungkapan cinta darinya. Tapi sekarang, hatinya menginginkan hal itu.


Tampak sekali kekecewaan dari raut wajah Miyuki, hanya saja Tristan tidak menyadarinya.


Memang sedari dulu Tristan terkenal tidak peka akan hati perempuan. Sejak dulu banyak sekali perempuan yang mendekatinya dan berharap untuk menjadi pasangannya. 

__ADS_1


Namun, semua itu diacuhkan oleh Tristan. Bahkan dia tidak sadar jika semua perempuan yang mendekatinya itu mengharapkannya.


Tristan membukakan pintu mobil untuk istrinya. Dengan senyum menawannya itu, Tristan mempersilahkan istrinya masuk dan melindungi kepalanya dari benturan atap mobil dengan meletakkan telapak tangannya di atas kepala istrinya.


Hati siapa yang tidak meleleh diperlakukan semanis itu oleh laki-laki seperti Tristan. Bahkan dia adalah suaminya.


Apa boleh aku berharap padanya? Eh tapi benar juga apa kata Max. Aku sudah menyerahkan mahkotaku, maka sudah seharusnya aku mempertahankan pernikahan kami, Miyuki berkata dalam hatinya ketika dia sudah duduk di dalam mobil.


Dengan segera Tristan melajukan mobilnya. Dia tidak memandang ke arah istrinya sama sekali. Bahkan melirik pun dia tidak melakukannya.


Kenapa aku jadi aneh begini? Jantungku berdegup sangat cepat. Apa karena aku sangat emosi tadi? Tristan bertanya-tanya dalam hatinya.


"Loh, kita ke mana Kak?" tanya Miyuki pada Tristan ketika melihat jalan yang dilewatinya bukan jalan menuju rumah mereka.


"Ke kantorku. Pekerjaanku belum selesai dan aku meninggalkan tasku di kantor," jawab Tristan tanpa menoleh ke arah istrinya.


"Aku pulang aja deh Kak. Ngapain juga aku ikut ke kantor Kakak? Yang ada aku hanya bengong di sana," sahut Miyuki dengan memperlihatkan wajah memohonnya pada Tristan.


"Kamu harus ikut aku Mimi… Dan ingat, kamu tidak boleh lagi sedekat itu dengan laki-laki mana pun. Termasuk Max dan Lucas. Jangan sampai mereka merangkul atau menggendongmu," perintah Tristan dengan tegas.


Miyuki hendak membantahnya, tapi dia mengurungkannya karena terlalu malas untuk berdebat dengan suaminya. Dia hanya menghela nafasnya ketika mobil yang ditumpanginya berbelok pada sebuah bangunan yang menjulang tinggi.


"Sudah sampai. Ayo kita turun," ucap Tristan sambil melepas sabuk pengamannya.


Miyuki tidak bergerak sedikit pun. Dia merasa enggan mengikuti suaminya masuk ke dalam kantornya.


Tiba-tiba wajah Tristan berada di depan wajah Miyuki. Sontak saja mata Miyuki membelalak.


Tristan tersenyum sangat menawan tepat di wajah istrinya. Dan itu membuat Miyuki layaknya sedang terhipnotis. Dia lupa segalanya dan hanya bulu mata lentiknya saja yang bergerak naik turun.


Klik!


Tangan Tristan membuka sabuk pengaman yang sedang digunakan oleh Miyuki.


Suara itulah yang membuat Miyuki tersadar jika dia terlalu berharap pada suaminya. Dia berharap jika suaminya melakukan hal lebih dari itu padanya.


Cuuup!


Mata Miyuki terbelalak ketika bibir Tristan tiba-tiba mendarat di bibirnya. 

__ADS_1


Ciuman itu hanya sekilas, tapi sangat cukup membuat jantung Miyuki berdegup dengan sangat cepat.


__ADS_2