
Preeet!
Bunyi yang berasal dari Miyuki membuat Tristan terkejut. Bahkan bau yang dihasilkan oleh bunyi tersebut membuatnya harus menutup hidungnya.
Miyuki sangat malu pada Tristan. Dia memejamkan matanya dan merutuki dirinya yang menurutnya sangat memalukan. Kemudian dia berjalan perlahan untuk menjauhi Tristan.
“Stop!” seru Tristan pada Miyuki.
Miyuki pun berhenti tanpa membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Tristan. Dia malu padanya sehingga dia tidak ingin melihatnya. Kemudian dia berkata,
“Ada apa?”
“Gantilah di kamar. Di dalam lemari sudah ada pakaianmu,” ucap Tristan yang terdengar ragu sambil menutup hidungnya.
Dengan segera Miyuki berjalan menaiki tangga dan masih dengan jalan perlahan seperti sedang menahan sesuatu. Sesampainya di lantai atas, dia bingung melihat beberapa pintu yang ada di sana dengan jarak yang lumayan jauh.
Ceklek!
“Di sini kamar kita.”
Tiba-tiba saja ada tangan kekar memegang handle pintu dan membuka pintu tersebut. Dengan suara yang terdengar sangat familiar di indera pendengaran Miyuki, orang tersebut menyuruhnya masuk ke dalam kamar tersebut sambil membuka pintu tersebut.
Ternyata Tristan peduli pada Miyuki. Dia memang menjaga jarak dengan Miyuki karena bau Miyuki saat ini membuatnya sangat mual. Tapi dia tidak bisa begitu saja mengabaikan istrinya meskipun dia mengaku tidak mencintainya.
Masih dengan jalan anehnya, Miyuki masuk ke dalam kamar tersebut dan tanpa berpikir panjang lagi dia segera masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi itu dia menuntaskan kembali hajatnya yang ternyata belum selesai meskipun sudah berulang kali dikeluarkannya.
Sangat lama dia berada di dalam kamar mandi itu hingga rasanya dia ingin pingsan merasakan rasa sakit dan mulas dari perutnya.
Keringat yang mengucur di wajahnya menandakan betapa gigihnya dia berjuang untuk mengeluarkan semua ampas yang membuatnya merasakan sakit saat ini.
Setelah hampir satu jam dia berjuang di toilet, dia merasa gerah dan memutuskan untuk mandi saat itu juga. Di dalam kamar mandi itu dia menyempatkan dirinya untuk berendam beberapa saat.
__ADS_1
Setelah merasa cukup, dia keluar dari bathub dan matanya terbelalak ketika dia mencari baju ganti yang akan dipakainya.
“Gawat, aku lupa membawa baju ganti ketika akan masuk ke dalam kamar mandi. Bagaimana ini? Gak mungkin kan jika aku memakai kembali baju yang bau kotoran dan ada kotorannya juga yang masih basah? Lalu kau memakai apa? Pasti Kak Tristan sedang menungguku di dalam kamar sekarang. Aku harus memakai apa?”
Miyuki terus berceloteh sambil matanya menyusuri dalam kamar mandi yang baru kali ini dimasukinya. Matanya berbinar dan senyumnya seketika mengembang melihat bathrobe putih tersedia di sana.
Dia pun segera mengambilnya dan memakainya untuk menutupi tubuh mulusnya itu dengan rencana dia akan menggantinya menggunakan baju ganti setelahnya.
Ceklek!
Terbukalah pintu kamar mandi tersebut. Miyuki mengeluarkan kepalanya secara perlahan dan melihat sekeliling kamar tersebut yang ternyata tidak ada sosok suaminya di sana.
Keluarlah Miyuki dari dalam kamar mandi tersebut dan dia menyisir rambutnya di hadapan cermin besar yang terdapat di kamar itu.
Namun tiba-tiba dia meringis kesakitan. Rupanya dia kembali merasakan sakit pada perutnya. Segera dia menuju ranjang dan meringkuk menahan perutnya agar tidak merasakan sakit itu kembali. Hingga dia melupakan rencana ganti bajunya untuk mengganti bathrobe yang dipakainya.
Di lantai bawah, tepatnya di ruang berkumpulnya keluarga besar mereka berkumpul, Tristan harus menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh Kiki dan Aydin yang merupakan mertuanya.
Tristan tersenyum kaku pada ibu mertuanya karena kebingungannya dalam menjawab pertanyaan tersebut.
Dia malu jika harus mengatakan yang sebenarnya karena apa pun yang diperbuat oleh istrinya akan membuatnya malu juga nantinya meskipun mereka tidak saling mencintai.
“Mimi sedang berada di kamar, ganti baju,” ucap Tristan yang terdengar ragu di telinga mereka semua.
“Wah… sebaiknya kita pulang saja Pi. Ternyata mereka sudah tidak sabar untuk membuatkan kita cucu,” tukas Kiki pada Aydin yang ada di sampingnya.
“Bukan Mi, bukan seperti itu. Tadi… tadi itu Mimi…,” Tristan menggantungkan ucapannya karena ragu untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa dengan Princess kami?” tanya Kiki yang dengan segera menyahuti ucapan menantunya.
Tristan tersenyum kaku karena semua pasang mata tertuju padanya. Dengan terpaksa dia menahan malu untuk mengatakan yang sejujurnya pada keluarga besar yang ada di sana.
Seketika semua orang tertawa mendengar apa yang disampaikan oleh Tristan dengan jujur dan tanpa ditutup-tutupinya.
__ADS_1
“Jadi ingat Mami pada saat itu,” ucap Aydin sambil terkekeh mengingat kejadian yang hampir sama dengan yang dialami oleh istrinya.
Sontak saja Kiki menoleh ke arah suaminya dan menatap tajam padanya sambil berkata,
“Kenapa Papi masih ingat?”
Seketika tawa Aydin langsung lenyap ketika mendapat tatapan yang seolah ingin membunuhnya dari istrinya. Dia tersenyum kaku pada istrinya itu sambil berkata lirih,
“Maaf.”
Kenshin dan Raline terkekeh melihat papinya yang dengan mudahnya dapat ditaklukkan oleh pawangnya. Sayangnya, keluarga besar mereka saling menyahut membahas kembali kejadian saat itu di mana Kiki dijuluki sebagai Princess preet-preet.
“Untungnya Miyuki sakit tidak pada saat pernikahan. Jika pada saat pernikahan, maka tuh anak fix nurun emaknya,” ucap Kevin yang menjadi kakak terjahil untuk Kiki selama hidupnya.
Seketika Kiki menoleh dan menatap kakaknya dengan tatapan membunuh. Tapi Kevin tak gentar dengan tatapan Kiki, bahkan dia menjulurkan lidahnya sebagai ungkapan bahwa dia tidak takut dengan adiknya itu.
Kiki hendak maju untuk melawan kakaknya, untung saja Aydin dengan sigapnya memeluk istrinya dan menahannya agar tidak kelepasan bertengkar dengan Kevin di hadapan menantu barunya.
Tristan tersenyum melihat keseruan keluarga istrinya. Kini dia mengerti alasan Raline sangat menyukai keluarga Aydin dan Kiki, hingga tidak bisa lepas dari keluarga tersebut.
Dan kini dia sudah masuk dalam keluarga tersebut. Dia memang tidak pernah merasakan kenyamanan seperti sekarang ini dari keluarganya sendiri. Dalam lubuk hatinya dia tidak ingin meninggalkan keluarga tersebut, tapi dia juga belum bisa mengikhlaskan cintanya pada Raline.
Selang beberapa saat Kiki melihat Miyuki yang sedang tidur dengan posisi meringkuk menahan perutnya. Kemudian dia memutuskan untuk segera keluar dari kamar tersebut untuk bertemu dengan Tristan.
“Tristan, Mami sudah membeli obat di apotek secara online. Nanti jika obat itu sudah datang, jangan lupa berikan pada Yuki untuk segera diminumnya,” ucap Kiki setelah keluar dari kamar Miyuki.
“Baik Mi, pasti Tristan akan laksanakan perintah Mami,” ucap Tristan tanpa ragu.
“Ya sudah, sekarang kita pulang dulu. Berikan kesempatan untuk mereka yang jadi pengantin baru,” tukas Aydin sambil melihat ke semua orang yang ada di sana.
Setelah mereka semua pulang dari rumah tersebut, kini tinggallah Tristan dengan beberapa pekerja yang bertugas untuk menjaga dan mengurusi rumah tersebut.
Tristan masuk ke dalam kamarnya dan mendekat ke arah istrinya yang sedang tidur dengan posisi tidak wajar. Seketika matanya terbelalak melihat istrinya yang masih tertidur, tapi seolah bisa memanjakan mata Tristan sehingga tidak berkedip sedetik pun.
__ADS_1