Menikah Dengannya?

Menikah Dengannya?
Bab 25 Keresahan Tristan


__ADS_3

“Bukannya kalian sedang kuliah? Kenapa kalian ada di tempat ini?” tanya Tristan sambil menatap tajam Miyuki dan Max secara bergantian.


“Lepaskan!” seru Miyuki dengan tatapan tajamnya pada suaminya.


“Jawab dulu pertanyaanku,” ucap Tristan yang terlihat sangat marah pada istrinya.


Dengan segera Max menarik tangan Tristan agar melepaskan tangan Miyuki yang dicengkeramnya. Badan Tristan terhuyung menjauhi Miyuki. Dia menatap tajam Max yang berhasil menghempaskannya.


Ternyata kekuatan dia boleh juga, Tristan berkata dalam hatinya dengan tatapan tajamnya yang seolah mengibarkan bendera peperangan pada Max.


“Jangan perlakukan Yuki seperti itu,” ucap Max dengan menatap Tristan penuh dengan permusuhan.


Tristan menyeringai mendengar apa yang dikatakan Max padanya. Kemudian dia berkata,


“Dia istriku, aku bebas mengingatkannya.”


Max tertawa setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Tristan. Tawanya itu membuat Tristan bertambah kesal. Melihat wajah Tristan yang sangat kesal padanya, Max pun berkata,


“Lucu sekali kau Tuan. Jika memang benar Yuki istrimu, kenapa kamu lebih dulu menolong Kak Raline dan mengkhawatirkannya? Bukannya Yuki istrimu? Harusnya kamu lebih mengkhawatirkannya dan menolongnya terlebih dahulu. Terlebih lagi istrimu ini terluka demi menolong kakak iparnya. Apa kakak iparnya itu terluka lebih parah dari istrimu ini sehingga Tuan Tristan yang terhormat ini mengkhawatirkan kakak iparnya terlebih dahulu daripada istrinya?”


Max mengatakan semua yang ingin dikatakannya sedari tadi ketika berada di tempat kejadian. Sayangnya semua itu ditahannya karena Miyuki yang melarangnya. Terlebih lagi Max sadar jika mereka sedang ada di tempat umum yang akan mempermalukan mereka.


Tristan menunduk mendengar apa yang disampaikan oleh Max padanya. Semua yang dikatakan Max memang benar adanya. Dia menyadari itu. Sayangnya Tindakan refleknya tadi itu tidak disadarinya. Semuanya karena rasa cintanya pada Raline yang menurutnya masih tersimpan dalam hatinya.


Dia menatap istrinya yang menatapnya penuh kebencian. Kemudian dia mendekati istrinya itu dan memegang tangannya.


Sayangnya Miyuki segera menghempaskan tangan suaminya itu dan menatap penuh kebencian padanya sambil berkata,

__ADS_1


“Mau apa datang kemari?”


“Aku datang menjemputmu. Ayo kita pulang sebelum orang tua kita mengetahuinya,” jawab Tristan dengan tatapan memohon pada istrinya.


Miyuki memundurkan kakinya selangkah untuk menjauh dari suaminya. Kali ini dia berniat untuk benar-benar memberi pelajaran pada suaminya.


“Jangan kira aku cemburu pada Kak Raline. Aku hanya tidak habis pikir denganmu. Bukannya kamu sendiri yang menyuruh kita untuk menjaga sikap kita di hadapan umum agar mereka melihat kita seperti layaknya pasangan suami istri yang bahagia? Lalu kenapa kamu sebodoh itu tadi pagi? Apa kamu benar-benar sudah gila dengan memperlihatkan rasa cintamu pada kakak iparmu itu di hadapan semua orang?”


Miyuki kini benar-benar mengatakan semua yang ditahannya sedari tadi. Sebenarnya dia enggan mengatakannya karena dia takut jika Tristan menganggapnya cemburu padanya. Tapi kini dia tidak bisa menahannya lagi karena Tristan memaksanya untuk lagi-lagi berakting sebagai pasangan suami istri yang bahagia di hadapan semua orang, terutama keluarga mereka.


“Maaf,” ucap Tristan sambil menundukkan kepalanya.


Terlihat sekali memang jika dia menyesali perbuatannya. Tapi hanya sebatas itu karena dia tetap tidak terima dengan kedekatan Miyuki dangan Max hingga terlihat seperti pasangan kekasih. Bahkan dirinya dan Miyuki tidak pernah foto bersama seperti yang dilakukan Miyuki dan Max. Dan untuk ciuman itu, dia benar-benar marah meskipun dia mengatakan jika tidak mencintai Miyuki sebagai istrinya.


Miyuki menatap suaminya itu dengan tatapan merendahkan. Bahkan dia menyeringai mendengar permintaan maaf dari suaminya. Tanpa berkata-kata, dia menarik tangan Max dan mengajaknya berjalan masuk ke dalam Villa.


“Mimi tunggu!” seru Tristan sambil menarik tangan Miyuki untuk menghentikan langkahnya.


Namun, tetap saja Tristan tidak mau melepaskan tangan Miyuki. Dengan kasarnya Max melepaskan bogeman mentahnya pada wajah Tristan. Badan Tristan terhuyung hingga jatuh di tanah.


Miyuki terkejut dengan apa yang terjadi. Dia hanya menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. dia menarik tangan Max yang akan memberikan kembali pukulannya pada Tristan ketika Tristan berdiri kembali.


“Sudah cukup Max,” tukas Miyuki sambil menarik tangan Max.


Miyuki menarik tangan Max untuk berjalan masuk ke dalam Villa. Tristan tentu tidak begitu saja membiarkan mereka meninggalkannya. Dengan langkah lebarnya dia mengikuti Max dan Miyuki dan berusaha menghentikan istrinya kembali.


Misi Tristan datang ke tempat itu adalah untuk membawa istrinya kembali ke rumah dan menjauhkan istrinya dari sepupu yang bertindak seperti kekasihnya. Dia tidak akan kembali pulang sebelum misinya dapat dijalankannya.

__ADS_1


Dengan cepatnya Max menghadang Tristan sehingga Miyuki bisa masuk ke dalam villa tersebut. Setelah Miyuki masuk ke dalam villa tersebut, Max segera masuk dan mengunci pintu tersebut agar Tristan tidak bisa masuk menyusul mereka.


“Maaf aku memukulnya,” ucap Max setelah mengunci pintu tersebut.


Miyuki tersenyum getir pada Max sambil berkata,


“Tidak apa Max. Dia pantas menerimanya. Rasanya lucu ya Max, kamu meminta maaf padaku karena menghajar suamiku. Tapi aku bingung dengan hubungan kami saat ini.”


Max membuka sedikit gorden jendela kaca yang ada di hadapannya. Dia melihat Tristan yang berjalan keluar dari halaman villa mereka.


“Kamu yakin tidak mau kembali pulang? Sebentar lagi malam. Jika kita pulang sekarang, sampai rumah pasti tidak terlalu malam,” ucap Max sambil memperhatikan Tristan dari kaca jendela.


Miyuki ikut melihat apa yang dilihat oleh Max dari jendela kaca. Dia tersenyum getir ketika melihat suaminya meninggalkan villa itu.


“Ternyata dia tidak bersungguh-sungguh,” ucap Miyuki sambil tersenyum getir.


Max menoleh ke arah Miyuki. Dia melihat kesedihan di matanya. Kemudian dia melingkarkan tangannya pada pundak Miyuki dan berkata,


“Sudahlah. Aku yakin dia akan menyesalinya. Kamu pegang ucapanku.”


Miyuki tersenyum mendengar ucapan Max. Dia bersyukur mempunyai Max yang selalu ada untuknya.


“Aku bersyukur mempunyai kamu Max. kamu selalu ada di setiap aku merasa sedih dan terluka. Bahkan masalah yang aku buat selalu kamu yang menyelesaikannya,” ucap Miyuki sambil tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Max untuk memeluknya.


Di tempat yang berbeda, Tristan sangat merasa kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa membawa Miyuki bersamanya. Bahkan kini dia tidak bisa membayangkan apa saja yang dilakukan oleh istrinya bersama dengan sepupu laki-lakinya itu.


“Sialan. Bagaimanapun caranya aku harus membawa kembali Mimi bersamaku,” ucap Tristan dengan suara yang menahan amarahnya melihat villa yang ditempati oleh Max dan Miyuki dari balkon kamarnya.

__ADS_1


Waktu terus bergulir dan Tristan tidak melihat Max ataupun Miyuki keluar dari villa tersebut. Berbagai pikiran buruk menghinggapinya ketika dia terlintas kembali bayangan ketika Miyuki mencium pipi Max.


“Sedang apa mereka di dalam sana?” ucap Tristan yang terlihat sangat marah hingga tangannya mencengkeram kuat pagar yang ada di balkon tersebut.


__ADS_2