Menikah Dengannya?

Menikah Dengannya?
Bab 26 Kenyataan yang menyakitkan hati


__ADS_3

Semakin lama berada di balkon kamarnya, Tristan semakin cemas. Dia tidak bisa memikirkan hal lainnya. Dalam pikirannya saat ini hanya dipenuhi dengan Miyuki.


“Sebenarnya apa saja yang mereka sedang lakukan di dalam sana saat ini?” tanya Tristan sambil menatap villa yang ditempati oleh Miyuki dan Max saat ini.


Lampu villa itu masih dalam keadaan menyala. Hal itu membuat Tristan semakin penasaran. Dia menolak jika dikatakan ingin tahu tentang Miyuki dan Max, tapi dia merasa penasaran dengan apa yang mereka lakukan saat ini.


Tiba-tiba lampu villa yang ditempati Miyuki dan Max padam. Hanya lampu depan saja yang masih menyala.


“Loh… loh… kok dimatikan sih lampunya?” tanya Tristan yang terlihat cemas.


Pikiran Tristan kini semakin hilang arah. Dia cemas dan kebingungan sendiri hanya karena melihat lampu dalam villa tersebut dimatikan.


“Apa aku dobrak saja ya pintunya? Aku kan suaminya, aku berhak melakukan itu. Tapi bagaimana jika orang tua Miyuki tau aku yang mendobraknya? Mereka pasti marah. Eh tapi aku kan punya alasan untuk melakukan itu. Baiklah, aku akan ke sana,” ucap Tristan sambil berjalan keluar dari kamarnya.


Namun, baru beberapa langkah saja dia berjalan, kakinya terhenti. Tiba-tiba terbersit sesuatu dalam pikirannya.


“Bagaimana jika Miyuki dan Max mengatakan pada Mami dan Papi tentang kejadian pagi tadi? Pasti aku akan disalahkan,” ucap Tristan sambil berpikir kembali.


Akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk mendatangi villa Miyuki. Dia memilih kembali ke balkon kamarnya untuk memperhatikan villa tersebut, seperti tadi.


...----------------...


Di dalam villanya, Miyuki sedang menonton film bersama dengan Max. Mereka sengaja menghabiskan waktu untuk menonton film bersama, seperti yang mereka lakukan ketika sedang berkumpul bersama.


Sayangnya mereka hanya berdua. Biasanya mereka bertiga bersama dengan Lucas. Dan kali ini Lucas tidak bisa menyusul mereka karena sedang banyak tugas yang harus dikerjakannya.


Sedangkan Tristan, dia hanya bisa menunggu dengan cemas di dalam kamarnya. Dia tidak bisa tidur. Matanya selalu melihat ke arah villa yang ditempati istrinya.


Tak terasa mata Tristan terpejam. Dia larut dalam pikirannya memikirkan istrinya yang sedang bersama dengan laki-laki lain, meskipun berstatus sebagai sepupu.


Sinar matahari pagi menerpa wajah Tristan yang matanya masih terpejam. Matanya mengerjap-ngerjap terkena sinar matahari yang menembus kaca jendela kamarnya.


Perlahan matanya terbuka. Matanya memicing merasakan sinar matahari yang menerpa wajahnya. Segera dia bangun dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang untuk mengumpulkan kembali kesadarannya. Dia menatap seluruh ruangan kamarnya dan mencoba mengingat keberadaannya.

__ADS_1


Secepat kilat dia berlari menuju balkon kamarnya setelah teringat akan tujuannya datang ke tempat itu. Matanya terbelalak melihat sosok gadis yang membuatnya datang ke tempat itu. Gadis tersebut sedang berdiri di depan villanya menikmati suasana pagi di tempat itu.


Dengan segera Tristan berlari keluar dari villanya menuju villa Miyuki yang berada di sebelahnya. Perlahan dia melangkahkan kakinya mendekati istrinya.


Gadis itu, Miyuki, sedang berdiri dengan merentangkan kedua tangannya ke samping dan mendongakkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Senyumannya menyatakan bahwa dirinya sangat menikmati udara pagi itu dan wajahnya yang diterpa hangatnya matahari pagi membuatnya terlihat begitu ceria.


Grep!


Kedua tangan Tristan menangkap badan Miyuki. Tangan kiri Tristan melingkar di pinggang Miyuki dan tangan kanannya membekap mulut istrinya.


“Emmm… emmm… emmm…,” Miyuki memberontak mencoba untuk melepaskan diri dari orang yang membekapnya.


Sengaja Miyuki tidak melawan karena dia tahu jika tangan yang sedang membekapnya adalah tangan Tristan. Dia hafal jam tangan yang dipakai oleh Tristan dan dia juga hafal bau parfum Tristan yang biasa dipakainya meskipun Tristan belum mengganti bajunya.


Tristan sepertinya lupa jika istrinya itu mempunyai ilmu bela diri yang mampu melindungi dirinya sendiri. Dia terlalu percaya diri dengan kemampuannya, hingga dia melupakan keahlian apa saja yang dimiliki oleh istrinya itu.


Miyuki sendiri ingin tahu sejauh mana suami kontraknya itu akan bertindak. Dia hanya mengikuti alur rencana Tristan dengan berakting panik dan ketakutan, seperti yang diharapkan oleh Tristan.


Brak!


“Apa yang kamu inginkan?” tanya Miyuki dengan ketusnya.


Tristan menyeringai mendengar pertanyaan dari istrinya itu. Dia berjalan mendekati istrinya untuk mencoba menakut-nakutinya.


“Kenapa kamu menanyakan itu? Apa kamu akan memberikan semua yang aku inginkan?” tanya Tristan sambil mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.


Miyuki tersenyum sinis mendengar pertanyaan dari suaminya. Dia menatap tajam pada suaminya sambil berkata,


“Apa? Cerai? Silahkan saja. Aku tidak takut menjanda, selama aku belum ternoda olehmu.”


Mendengar kata cerai keluar dari mulut istrinya, Tristan merasa hatinya sangat sakit dan serasa dadanya bergemuruh hingga membuatnya sangat marah.


“Cerai? Jangan mimpi! Aku tidak akan menceraikanmu sampai kapan pun itu,” ucap Tristan dengan tegas dan emosi.

__ADS_1


“Kamu amnesia? Atau hanya berpura-pura lupa? Bukankah kamu sendiri yang menyarankan pernikahan palsu ini agar kedua orang tua kita tidak malu?” tanya Miyuki sambil menyeringai pada suaminya.


Tristan hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari istrinya. memang semua itu benar adanya. Dia tidak bisa mengelaknya. Dalam diamnya itu dia tetap dalam posisi menatap intens manik mata istrinya yang wajahnya berjarak sangat dekat dengannya.


“Kenapa kamu meminta untuk bertunangan denganku jika kamu tidak bisa melupakan Kak Raline?” tanya Miyuki dengan ketusnya.


“Aku hanya mengatakan pada Papaku jika aku ingin dijodohkan dengan anak dari Pak Aydin. Yang aku inginkan adalah Raline. Aku kira Raline adalah anak dari Pak Aydin. Dan ternyata semuanya salah sangka. Aku salah sasaran,” ucap Tristan tanpa merubah posisinya.


Kesal dan marah kini dirasa oleh Miyuki. Dia tidak mengira jika Tristan bermaksud untuk menikahi kakak iparnya. Dengan emosinya itu, dalam hati Miyuki berjanji akan membalas dendam pada Tristan dengan caranya.


Lihat saja, aku akan membuatmu bertekuk lutut dan menangis ketika aku akan meninggalkanmu, Miyuki berkata dalam hatinya.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, di depan kamar itu sudah berdiri Aydin, Kiki, Kenshin, Raline dan juga Max.


“Masih pagi, apa semalam kalian belum melakukannya?”


Tiba-tiba suara berat seorang pria membuat Miyuki dan Tristan menoleh ke arah pintu. Mereka berdua terkejut setelah melihat keluarganya berdiri di sana.


“Papi,” ucap Tristan yang sedang terkejut.


“Mami,” ucap Miyuki bersamaan dengan Tristan menyebut papi mertuanya.


“Ehemmm… apa kalian akan tetap dalam posisi seperti itu?” tanya Kenshin sambil tersenyum geli pada Tristan dan Miyuki.


Sontak saja Miyuki dan Tristan bergerak saling menjauhkan badan mereka. Kini mereka berdua salah tingkah dan canggung pada semua orang.


“Kalian berdua bersiap-siaplah. Kita akan berkeliling ke tempat biasanya,” ucap  Aydin memerintahkan pada Miyuki dan Tristan.


Setelah itu Aydin meninggalkan kamar tersebut diikuti oleh yang lainnya. Kiki tersenyum geli pada Miyuki. Dengan senyumannya itu, Miyuki bisa mengartikan apa yang ada dalam pikiran maminya saat ini.


Miyuki menghela nafasnya melihat semua keluarganya yang seolah menangkap basah mereka sedang melakukan sesuatu. Dalam hatinya dia berkata,

__ADS_1


Dari mana mereka tau aku ada di sini. Ah… sepertinya aku melupakan sesuatu. Aku adalah anak seorang Aydin Permana yang sudah pasti tidak akan dilepaskan begitu saja tanpa pengawasan dari orang kepercayaan mereka.


__ADS_2