
Sudah tujuh hari Miyuki dirawat inap di rumah sakit. Genap satu minggu sudah dia tidak diperbolehkan beraktifitas dan hanya beristirahat total di sana.
Tentu saja Miyuki sangat bosan. Gadis manja yang bar-bar dan banyak tingkah itu harus diam di atas ranjang dengan banyak larangan yang harus dipatuhinya. Dia benar-benar tidak bisa mengambil kesempatan sedetik pun karena selalu di awasi oleh semua orang.
Bagaimana tidak, semua perawat dan semua pekerja di rumah sakit itu tahu jika Miyuki cucu dari pemilik rumah sakit tersebut dan dia harus beristirahat total di kamarnya.
Tentu saja mereka semua akan melapor pada maminya yang menjabat sebagai kepala rumah sakit di rumah sakit tersebut yang juga menjadi direktur utama atau CEO rumah sakit tersebut.
Rumah sakit tersebut milik Ayah Aydin yang berarti Papi dari Kenshin dan Miyuki. Karena Aydin lebih memilih bidang lain untuk usahanya, dia menyerahkan urusan rumah sakit pada Kiki, istrinya yang sebagai dokter di rumah sakit tersebut.
“Mami, Yuki pulang sekarang ya…? Please… Yuki bosen Cuma diam aja terus-terusan di sini. Mana gak dibolehin ke mana-mana lagi,” ucap Miyuki sambil mengerucutkan bibirnya ketika Kiki datang untuk memeriksa dan melihat keadaan putri manjanya.
“Apa kamu yakin sudah baik-baik saja?” tanya Kiki dengan senyuman jahilnya.
“Yakin deh Mi seratus persen,” ucap Miyuki dengan mata yang berbinar.
Kiki menatap putrinya itu, kemudian dia tersenyum dan berkata,
“Yakin tidak akan pingsan lagi?”
Seketika wajah Miyuki menjadi cemberut. Dia tahu jika maminya sedang menggodanya dan menyindirnya secara halus. Dengan wajah cemberutnya itu dia berkata,
“Itu kan karena tiba-tiba saja perut Yuki kembali sakit dan mulas dikit-dikit Mi. Mana rasanya dehidrasi banget lagi waktu itu. Sampai-sampai keringat Yuki mengucur dengan derasnya seperti aliran sungai,” ucap Miyuki dengan gaya puitisnya.
Sontak saja Kiki terkekeh mendengar ucapan putrinya yang dibumbui dengan leluconnya. Sedangkan Tristan yang sedang fokus dengan pekerjaannya, dia tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya mendengar kekonyolan istrinya.
Sungguh tidak disangka, seorang Tristan yang mengajak Miyuki membuat kontrak pernikahan sebelum mereka menikah, kini selama satu minggu dia selalu menemani Miyuki di dalam ruangan itu. Dia tidak pernah meninggalkan istrinya keluar dari ruangan itu walaupun hanya sebentar.
Miyuki merasa tersanjung dengan sikap Tristan itu, tapi dia tidak bisa menyimpulkan bahwa Tristan menyukainya hanya karena dia selalu menunggunya di rumah sakit selama ini.
Dia tidak mau berharap lebih dari Tristan karena dia takut jika Tristan memiliki maksud lain saat ini. Dia hanya berharap agar Tristan memenuhi janji yang sudah tertulis dalam surat perjanjian kontrak mereka.
__ADS_1
Lain dengan apa yang telah dipikirkan dengan Miyuki. Semua orang yang melihat, pasti mengatakan jika Tristan seorang suami yang sangat mencintai istrinya hingga dia setia menemani istrinya di rumah sakit tanpa mau meninggalkannya sedetik pun.
“Karena kamu belum sembuh dan memaksa untuk pergi kuliah pagi itu,” sahut Kiki yang mengingatkan kembali tentang Miyuki yang memaksa datang ke kampus pagi itu.
Seketika Miyuki menatap ke arah Tristan yang berada di sofa. Dia menatap tajam suaminya itu yang kebetulan menatap ke arahnya ketika mendengar ibu mertuanya menyahuti ucapannya.
Tristan mengerti arti dari tatapan Miyuki padanya. Saat itu juga dia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati istrinya sambil tersenyum padanya dan berkata,
“Aku harus mengatakan semuanya pada Mami, Sayang….”
Seketika perut Miyuki mual seperti akan muntah ketika mendengar Tristan memanggilnya dengan sebutan sayang. Dia tidak mengira jika laki-laki yang menjadi suami di atas kertas itu mau memanggilnya dengan sebutan sayang di hadapan Kiki demi totalitas rencana mereka.
Kiki tersenyum senang dan menatap Miyuki dengan tatapan jahilnya setelah mendengar sebutan yang diberikan oleh Tristan pada istrinya.
Sedangkan Tristan, dia sangat menikmati kekesalan yang diperlihatkan oleh wajah Miyuki saat ini. Ternyata dia benar-benar menjadikan Miyuki seperti mainannya yang bisa mengubah mood nya menjadi membaik.
Miyuki tidak bisa melawan Tristan dengan kata-katanya. Dalam hatinya dia Menyusun rencana agar bisa membalas apa yang dilakukan Tristan padanya.
“Yeaaayyy… akhirnya aku bisa menghirup udara bebas…,” seru Miyuki sambil merentangkan kedua tangannya ke atas.
Semua keluarganya tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Miyuki. Mereka tidak heran dengan sikap gadis manja dari keluarga mereka yang selalu menjadi kesayangan semua orang itu.
“Memangnya kamu baru keluar dari penjara?” tanya Tristan sambil terkekeh menanggapi perkataan istrinya.
Sontak saja Miyuki menoleh ke arah suaminya yang sedang menata keperluan mereka berdua selama menginap di ruangan itu. Dai menatap suaminya itu dengan tatapan yang seolah ingin menghabisinya. Dengan seringaian di bibirnya itu dia berkata,
“Iya benar, aku memang baru keluar dari penjara yang diawasi sangat ketat oleh seorang sipir kejam.”
Seketika gelak tawa memenuhi ruangan tersebut. Mereka tidak bisa menahan tawa mereka yang menyertai perdebatan suami istri itu.
Sedangkan Tristan, dia menyeringai menatap Miyuki sambil berkata,
__ADS_1
“Tentu saja, karena sipir itu harus menjaga dengan ketat tawanan yang ada dalam penjara cintanya.”
Seketika tawa semua orang yang ada di sana kembali pecah. Sedangkan Miyuki, dia kembali merasakan mual ketika mendengar ucapan Tristan yang ditujukan padanya.
“Yuki kenapa? Kamu hamil?” tanya Raline ketika melihat Miyuki mual dan terlihat akan muntah.
Senyum lebar karena kemenangannya itu tiba-tiba musnah setelah Tristan mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Raline pada Miyuki.
Semua pasang mata tertuju pada Miyuki, tak terkecuali dengan Tristan. Dia juga ingin tahu dengan jawaban apa yang akan diberikan oleh istrinya itu pada semua orang.
“Enggak lah. Sangat tidak mungkin sekali aku bisa hamil,” sahut Miyuki dengan cepat untuk pembelaan dirinya ketika semua orang melihat kepadanya.
“Loh memangnya kenapa? Kamu sudah menikah dan kamu juga memiliki suami. Wajar saja jika kamu hamil,” ucap Kiki menanggapi ucapan putrinya.
Tidak dipungkiri jika dia sangat menginginkan kehadiran cucu di antara keluarga besar mereka. Kenshin dan Raline yang sudah menikah terlebih dahulu dengan jarak satu bulan dari pernikahan Miyuki dan Tristan juga belum merasakan tanda-tanda kehamilan.
Dua pasangan suami istri itu menjadi harapan Kiki dan Aydin untuk mendapatkan generasi penerus keluarga mereka nantinya.
“Tapi Yuki kan belum-“
“Sayang, apa hanya ini saja barang yang akan dibawa pulang?” tanya Tristan yang berniat menyela ucapan Miyuki.
Tristan tahu jika istrinya itu akan mengatakan yang sebenarnya jika hingga detik ini mereka belum melakukan hubungan suami istri yang sesungguhnya. Entah mengapa hati kecil Tristan melarang istrinya mengatakan hal itu pada orang lain.
Padahal dia ingin sekali mengatakan pada Raline jika dia dan Miyuki tidak akan melakukannya. Sayangnya, bibirnya mengatakan apa yang ada dalam hatinya sehingga dia menyela ucapan istrinya.
“Hamil? Siapa yang hamil?”
Tiba-tiba suara seorang pria dewasa mengalihkan perhatian mereka semua dan dengan serempak mereka berkata,
“Papi?!”
__ADS_1