
Miyuki sangat kesal pada suaminya. Selama perjalanan hanya ada keheningan dalam mobil yang mereka tumpangi.
Sama seperti Miyuki, Tristan sangat kesal pada Max yang selalu saja menempel pada Miyuki. Dia sangat terganggu melihat laki-laki lain dekat dengan istrinya.
Setelah mobil yang dinaikinya berhenti, Miyuki dengan cepatnya turun dari mobil itu tanpa menunggu suaminya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang dipikirkan dan dikatakan oleh Tristan padanya. Bahkan dia tidak peduli jika Tristan memarahinya.
Braaakkk!
Pintu kamar ditutup dengan kerasnya oleh Miyuki. Dia tidak bisa mengontrol kekuatannya yang dikuasai oleh kesal dan amarahnya pada suaminya.
Entah mengapa Miyuki merasa kesal dan marah pada suaminya. Dia tidak mengharap dari awal jika suaminya akan menyukai atau mencintainya. Dia hanya merasa kecewa pada Tristan yang mengatakan bahwa dirinya adalah miliknya karena statusnya di atas kertas yang sah sebagai istrinya.
Tristan masuk ke dalam rumah sambil membawa tas yang berisi keperluan mereka selama di rumah sakit saat itu. Dia menghela nafasnya mendengar suara pintu yang ditutup dengan kerasnya oleh Miyuki.
“Ada apa Tuan?” tanya Bik Saroh yang terlihat kaget mendengar kekacauan yang dibuat oleh Miyuki.
“Tidak ada apa-apa Bik,” jawab Tristan sambil tersenyum kaku pada Bik Saroh.
“Apa Nyonya sedang marah Tuan?’ tanya Bik Saroh kembali pada Tristan.
Tristan yang sudah selangkah berjalan, kini menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. Kemudian dia berkata,
“Tidak kok Bik. Dia hanya ingin cepat-cepat ke kamar mandi saja. Siapkan makan untuk kami Bik. Dan untuk menunya tolong tanyakan pada Mami, apa saja yang boleh dimakan oleh istri saya.”
“Baik Tuan,” jawab Bik Saroh sambil menganggukkan kepalanya.
“Kasihan Nyonya, sudah selama itu dia dirawat di rumah sakit, tapi masih saja sering ke kamar mandi. Apa Nyonya belum sembuh?” ucap Bik Saroh bermonolog setelah Tristan sudah menaiki tangga untuk ke kamarnya.
Di depan pintu kamarnya, Tristan mengambil nafas dalam-dalam dan menghelanya secara perlahan sebelum dia membuka pintu kamarnya. Tangannya memegang handle pintu, tapi dia ragu untuk membuka pintu tersebut.
__ADS_1
“Apa ini? Kenapa aku sepertinya takut masuk ke dalam kamarku sendiri? Memangnya dia siapa?” ucap Tristan lirih yang tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
Dia sekarang ini merasa seperti seorang suami yang sedang takut akan dimarahi istrinya. Dia merasa aneh dengan dirinya sendiri yang seolah benar-benar sudah menjadi suami Miyuki. Tapi dia tidak ingin mencari tahu lebih banyak tentang apa yang dirasanya. Dia hanya percaya bahwa dia masih mencintai Raline dan dia percaya bahwa Raline tidak akan tergantikan oleh siapa pun.
Tristan menggerakkan handle pintu tersebut untuk membuka pintunya. Tapi wajahnya berubah menjadi panik ketika pintu tersebut tidak bisa terbuka.
Berulang kali dia mencoba membuka pintu kamar tersebut, tapi tetap saja pintu kamar itu tidak bisa terbuka. Hingga dia lelah dan ingin mendobrak pintu kamarnya itu. Tapi, dia cepat sadar jika emosinya akan berdampak buruk pada semuanya.
“Aku harus tenang. Aku gak boleh emosi. Jika aku dobrak pintu ini, pasti aku juga yang rugi. Badanku akan sakit dan pintunya akan rusak. Akan mengeluarkan banyak uang jika itu terjadi. Aku harus memikirkan cara lain,” ucap Tristan lirih.
Dia berpikir sejenak untuk membuka pintu kamarnya yang ditutup Miyuki dari dalam. Kemudian dia mengingat sesuatu dan berkata,
“Kenapa aku tidak mengambil kunci cadangannya? Pasti Bik Saroh menyimpannya. Aku harus mengambilnya.”
Namun, baru selangkah dia berjalan, dia kembali menghentikan langkahnya. Dia berbalik arah sambil berkata,
“Sepertinya aku harus mencari cara lain. Jika aku meminta kunci cadangan itu, bisa-bisa Bik Saroh akan melapor pada orang tua kita berdua.”
Tristan meletakkan tasnya di dekat pintu kamarnya. Kemudian dia masuk ke dalam kamar sebelah untuk menuju balkon kamar tersebut. Dia memanjat balkon kamar itu dan melompat ke balkon kamarnya.
Ceklek!
Bibirnya melengkung ke atas ketika pintu balkon kamarnya bisa dibuka olehnya. Sesuai dugaannya, Miyuki tidak akan memikirkan untuk mengunci pintu balkon kamarnya.
Masuklah dia ke dalam kamarnya dengan senyum lega yang terulas di bibirnya. Pandangan matanya berkelana menyusuri seisi kamar mencari sosok istrinya yang membuatnya kesulitan untuk masuk ke dalam kamarnya.
Kemarahannya reda ketika dia melihat Miyuki keluar dari kamar mandi dengan menggunakan hotpants dan tank top sambil mengusap rambut panjangnya yang basah menggunakan handuk dan menyanyikan sebuah lagu.
Miyuki terkejut ketika mendapati suaminya sedang berdiri mematung dengan memperhatikannya. Dalam hatinya dia berkata,
__ADS_1
Kenapa dia bisa masuk ke dalam? Bukankah aku mengunci pintunya dari dalam?
Tristan terpaku melihat tubuh istrinya yang sangat menggoda imannya. Kulit putih mulusnya sangat kontras dengan warna pakaian yang dipakainya saat ini.
Sabar Tristan, itu hanya godaan. Kamu tidak boleh menyentuhnya. Kamu tidak boleh melanggar perjanjian yang sudah dibuat. Atau jika tidak, kamu akan mengeluarkan banyak uang untuk membayarnya, Tristan berkata dalam hatinya sambil meneguk ludahnya.
Miyuki mengacuhkan suaminya. Dia berjalan menuju cermin dengan hanya melewatinya tanpa menyapanya, seolah dia menganggapnya tidak ada di dalam ruangan tersebut. Sedangkan Tristan, pandangannya tetap mengikuti ke mana istrinya itu bergerak.
Tangan Miyuki bergerak dengan lihainya mengeringkan rambut panjangnya menggunakan hair dryer di depan cermin rias.
Dari cermin tersebut dia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan oleh suaminya. Tristan masih saja berdiri mematung, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sekarang apa yang harus aku perbuat? Apa aku harus bersikap biasa seperti kebiasaanku di rumah? Apa salahnya? kita sudah berjanji untuk tidak saling mengganggu. Oke, aku akan melakukan seperti kebiasaanku di rumah. Bagus Miyuki, teruskan. Jangan lemah, Miyuki berkata dalam hatinya sambil mengeringkan rambutnya.
Tristan tersadar dari lamunannya, setelah itu dia berjalan menuju pintu untuk mengambil tas yang diletakkannya di luar. Melihat suaminya keluar pintu, Miyuki merasa lega. Dia mematikan hair dryer yang digunakannya dan menyimpannya.
Ternyata Tristan masuk kembali ke dalam kamarnya. Dia membawa masuk tas yang mereka bawa dari rumah sakit dan meletakkannya di meja sambil berkata,
“Semua obatmu ada di sini. Jangan lupa untuk meminumnya,” ucap Tristan sambil mengeluarkan obat-obatan milik Miyuki dari dalam tas tersebut dan memberikannya pada istrinya.
“Gak mau. Aku sudah sembuh. Aku gak mau minum obat-obatan itu lagi,” ucap Miyuki sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menutup mulutnya dengan menggunakan tangannya.
“Kata Mami harus di minum sampai hari ini. Apa mungkin kamu masih mau dibantu untuk meminumnya?” tanya Tristan sambil menyeringai dan bergerak mendekati Miyuki dengan membawa obat di tangannya.
“Enak aja. Sudah berapa kali kamu meminumkan aku obat dengan cara itu selama di rumah sakit dan sebelumnya?” ucap Miyuki sambil membuka tangannya yang menutupi mulutnya.
“Hitung saja,” ucap Tristan sambil terkekeh.
“Sebelum di rumah sakit dua kali. Saat di rumah sakit, sehari minum obatnya tiga kali seha-“
__ADS_1
Bibir Miyuki ditutup oleh bibir Tristan yang sedang berusaha memberikan obat padanya melalui ciumannya, sehingga Miyuki tidak bisa meneruskan ucapannya.
Tristan sialan! Beraninya kamu melakukan ini lagi padaku. Aku berjanji tidak akan sakit lagi selama perjanjian kita masih berjalan, agar kamu tidak bisa melakukan ini padaku, Miyuki mengumpat Tristan dalam hatinya ketika Tristan masih berusaha memberikan obat pada Miyuki melalui ciumannya.