Menikah Dengannya?

Menikah Dengannya?
Bab 22 Gara-gara bola


__ADS_3

Keesokan harinya Miyuki masih saja tidak mau berbicara dengan Tristan. Dia tidak terima jika kebebasannya dibatasi oleh Tristan. Karena sesuai dengan perjanjian mereka, tidak ada yang diperbolehkan mencampuri privasi pasangannya.


Dan menurut Miyuki, Tristan telah melanggar perjanjian mereka. Tentu saja Miyuki tidak akan membiarkannya. Dia akan membuat rencana untuk membalasnya.


Ok, rencana kemarin boleh gagal. Tapi untuk selanjutnya, aku yakin tidak akan gagal, Miyuki berkata dalam hati sambil melirik suaminya yang sedang menikmati sarapannya.


Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari depan rumah mereka. Seketika bibir Miyuki melengkung ke atas, dia tahu mobil siapa yang ada di depan rumah mereka saat ini.


Dengan gerakan cepatnya Miyuki menyambar tas yang ada di sampingnya dan berlari kecil menuju halaman rumah tanpa mengucap apa pun pada Tristan.


Tristan pun segera beranjak dari duduknya dan berjalan cepat menyusul istrinya. Kedua tangannya mengepal melihat Max membukakan pintu mobil untuk Miyuki. Dan senyum ceria Max itu seolah mengejek Tristan serta menertawakannya.


Kakinya hendak melangkah untuk mendekati mereka, sayangnya Tristan telat, mobil Max sudah bergerak keluar meninggalkan rumah Tristan.


“Sialan! Mereka masih berani datang ke sini,” seru Tristan dengan amarahnya yang menggebu-gebu.


Di dalam mobil, Miyuki dan Max tertawa melihat Tristan yang terlihat marah berteriak memanggil nama Miyuki agar Max mau menghentikan mobilnya.


“Aku yakin jika suamimu itu pasti sedang marah saat ini,” ucap Max sambil terkekeh mengemudikan mobilnya.


“Biar saja. Jika bisa, aku akan membuatnya lebih marah lagi nanti. Jadi, jangan lelah membantuku untuk membuatnya marah ya Max,” ucap Miyuki sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.


“Tentu saja Princess. Aku tidak akan bisa menolak permintaanmu,” tukas Max di sela kekehannya.


“Tidak salah aku memilihmu menjadi saudaraku Max,” sahut Miyuki sambil terkekeh menanggapi perkataan Max.


Tawa Max pecah mendengar ucapan Miyuki. Di sela tawanya itu dia berkata,


“Kamu ini ada-ada saja. Memangnya bisa kita memilih orang yang akan dijadikan saudara?”


“Waktu pemilihan saudara, aku sudah memilihmu Max. mungkin waktu itu kamu tidak hadir dalam pemilihan. Tapi, untung saja aku sudah memilihmu, sehingga kamu tidak usah bersusah payah memilih saudara,” sahut Miyuki dengan candaan konyolnya.

__ADS_1


Tawa Max pun kembali pecah. Dia selalu terhibur jika bersama dengan Miyuki yang sifatnya menurun dari maminya.


Pas sekali candaan mereka selesai ketika mobil Max memasuki parkiran kampus. Seperti biasa, Max turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil Miyuki.


“Silahkan Tuan Putri,” ucap Max sambil membungkukkan badannya mempersilahkan Miyuki keluar dari mobil tersebut.


Miyuki pun keluar dari mobil tersebut dengan memegang tangan Max yang diulurkan padanya. Senyum mereka berdua seperti layaknya dua manusia yang sedang jatuh cinta.


Semua itu sudah menjadi kebiasaan mereka sejak dulu dan tidak ada yang berubah hingga sekarang.


Bagi mereka berdua, itu merupakan hal yang biasa. Sayangnya berbeda dengan pemikiran orang lain yang melihatnya.


Banyak pasang mata yang melihat mereka dan berbisik-bisik membicarakan mereka. Tepatnya mereka mempertanyakan hubungan mereka berdua.


Tanpa mereka berdua ketahui, ada sepasang mata yang melihat mereka dengan sangat kesal. Dari dalam mobilnya, Tristan menahan amarahnya.


Sedari tadi dia mengikuti mobil Max untuk mencari tahu kepergian mereka. Dia hanya tidak percaya jika Max membawanya pergi ke kampus bersama dengannya.


Dan kini, dia juga tidak sadar jika dia melupakan pekerjaannya hanya untuk mengikuti ke mana istrinya itu pergi dengan sepupunya.


Senyum Tristan mengembang ketika melihat Raline mendekati Miyuki dan Max yang sedang berjalan di tengah lapangan basket. Dia turun dari mobilnya, berniat untuk menyapa Raline, wanita yang namanya selama ini ada dalam hatinya.


Tiba-tiba ada sebuah bola basket yang melayang ke arah Raline. Karena posisi Miyuki yang mengetahui ke mana arah bola akan meluncur, dengan segera dia menarik tubuh Raline hingga jatuh di lantai lapangan tersebut.


“Aaaauuu,” seru Miyuki yang tubuhnya menjadi tumpuan Raline ketika mereka berdua terjatuh.


Max yang ada di antara mereka segera membantu Raline terlebih dahulu, karena posisinya ada di atas tubuh Miyuki.


“Kamu baik-baik saja kan Raline? Kamu tidak terluka?”


Tiba-tiba saja Tristan bertanya keadaan Raline dengan suara ngos-ngosannya karena dia segera berlari ketika melihat Raline dan Miyuki terjatuh.

__ADS_1


Tristan terlihat sangat khawatir pada Raline. Bahkan tangannya memegang kedua bahu Raline dan menatapnya dengan tatapan cemasnya serta memutar-mutar tubuh Raline untuk memastikan bahwa wanita yang dicintainya itu baik-baik saja.


Miyuki sangat kesal melihat suaminya yang mencemaskan kakak iparnya. Bahkan istrinya sendiri pun tidak dianggapnya ada di tempat itu.


Grep!


Kerah baju Tristan ditarik oleh Max dengan kasarnya. Bahkan tatapan mata Max menghunus sangat tajam pada Tristan.


“Perempuan yang kamu bilang istrimu itu sedang kesakitan dan terluka karena menolong kakak iparnya. Tapi yang kamu cemaskan dan kamu tolong malah kakak iparnya. Sebenarnya istri kamu itu siapa? Miyuki atau Kak Raline? Jika kamu hanya mempermainkannya, lebih baik kamu lepaskan dia. Tinggalkan dia dan jangan mencarinya lagi!” ucap Max dengan tegas dan menekankan di setiap katanya.


Raline segera menolong Miyuki untuk berdiri. Dengan sangat hati-hati Raline membersihkan pakaian Miyuki yang kotor sambil berkata,


“Terima kasih ya Yuki sudah menolong Kakak. Maaf kamu menjadi seperti ini karena menyelamatkan Kakak.”


Miyuki tersenyum getir mendengar ucapan maaf dan ucapan terima kasih dari kakak iparnya. Dia sama sekali tidak marah pada Raline yang memang sudah sejak kecil hubungan mereka layaknya kakak adik. Hanya saja Miyuki menyayangkan sikap suaminya yang sangat terlihat jelas masih mencintai kakak iparnya.


Tentu saja banyak yang melihat mereka. Hanya saja mereka tidak berani mendekat. Dan mereka tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Max karena suara Max tidak bisa dijangkau oleh mereka.


Miyuki menarik tangan Max dan menghentikan aksi Max yang seolah sedang mengancam Tristan. Dan dia berkata,


“Max, cukup. Tinggalkan dia dan bantu aku untuk mengobati Lukaku.”


Dengan kasarnya Max menghempaskan kerah baju Tristan hingga badan Tristan terhuyung karenanya.


Max berjongkok di hadapan Miyuki dengan posisi membelakanginya. Kemudian dia berkata,


“Naiklah Yuki, aku akan menggendongmu ke ruang Kesehatan.”


Tanpa pikir panjang lagi, Miyuki naik ke punggung Max dan mengeratkan pegangannya hingga tidak ada jarak antara bagian tubuh depan Miyuki dengan punggung Max.


Raline tidak mau ada salah paham ataupun persoalan mengenai hubungannya dengan Tristan. Dengan segera dia mengikuti Max yang sedang menggendong Raline menuju ruang Kesehatan.

__ADS_1


Tristan menatap nanar mereka bertiga. Dia tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya saat ini. Dia memang mengkhawatirkan Raline, tapi dia marah ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Max adalah suatu kebenaran. Dan ancaman dari Max itu membuatnya emosi, tidak terima jika dia harus melepaskan Miyuki sebagai istrinya.


__ADS_2