
"Sayang….,” rengek Tristan yang memandangnya dengan tatapan sendu dan memohon.
Miyuki menatap iba pada suaminya yang mengharapkan haknya sebagai seorang suami malam ini. Sayangnya semua itu tidak berjalan mulus. Dan dia menahan tawanya melihat ekspresi wajah suaminya yang memelas padanya.
“Maaf. Sakit banget tau gak? Kenapa harus sesakit itu sih? Apa memang rasanya sesakit itu? Kalau rasanya sesakit itu, kenapa banyak orang yang suka dan ketagihan? Kenapa mereka suka merasakan sak—”
Seketika ucapan Miyuki terhenti. Kini bibirnya telah dibungkam oleh bibir Tristan. Tangan kiri Tristan memegang tengkuk leher istrinya dan tangan kananya melingkar di pinggang istrinya.
Ciuman itu sangat dalam dan sangat panas, sehingga Miyuki tidak bisa lagi menolaknya. Kini dia kembali larut dalam buaian suaminya.
Tristan kembali mengulang sentuhannya seperti sebelum dia terkena tendangan bebas oleh istrinya.
Bukan hanya Miyuki saja yang merasakan terbuai oleh apa yang mereka lakukan saat ini. Bahkan Tristan pun merasa terbuai dan sangat bersemangat serta tidak sabar untuk membobol segel keutuhan milik istrinya.
Kali ini Tristan tidak ingin gagal kembali. Dia benar-benar sudah mengantisipasinya agar istrinya itu tidak kembali mengeluarkan jurus-jurus andalannya untuk melindungi dirinya.
Tristan berusaha sangat keras untuk bisa memanjakan dan membuai istrinya, sehingga istrinya tidak berusaha untuk menolaknya.
Benar saja, kini Miyuki merasakan dirinya hanyut dalam buaian suaminya. Dia merasakan sensasi aneh dalam dirinya. Serta dia merasakan sensasi menggelitik dalam perutnya.
Dengan perlahan Tristan melakukan penyatuan mereka. Kali ini Tristan berhasil meskipun dia mendengar suara rintihan dan melihat wajah istrinya yang meringis kesakitan.
Namun, senyum Tristan mengembang ketika tubuh istrinya menggelinjang bersamaan dengan miliknya yang menyemburkan benih kehidupan pada Rahim istrinya.
Tristan merebahkan tubuhnya di samping tubuh istrinya yang bernafas terengah-engah dengan wajah yang terlihat tidak berdaya.
Perlahan tangan kiri Tristan meraih kepala Miyuki. Sedangkan tangan kanannya mengusap dengan lembut peluh yang terdapat di dahi dan pelipis istrinya. Kemudian dia berbisik di telinga istrinya,
“Aku mencintaimu Mimi.”
Tanpa sadar bibir Miyuki melengkung ke atas. Sama seperti Tristan, dari awal dia tidak menginginkan hal itu. Tapi, entah mengapa hati mereka berdua menginginkannya. Meskipun bibir mereka berkata tidak, tubuh mereka tetap melakukannya karena hati mereka menginginkannya.
Setelah itu, Tristan mendaratkan bibirnya di dahi Miyuki. Diciumnya dengan sangat lembut dan penuh cinta dahi istrinya itu. Tristan mencium dahi Miyuki lama, sehingga Miyuki dapat merasakan ketulusan perasaan suaminya.
Tristan membawa tubuh istrinya dalam pelukannya. Dia memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat seolah tidak mau terpisahkan dari istrinya.
Miyuki pun tidak menolak. Dia merasa nyaman dan terlindungi dalam pelukan suaminya. Bahkan dia tidak pernah mengira jika suaminya bisa menjadi tempat terhangat dan ternyaman untuknya.
__ADS_1
Mereka berdua pun memejamkan matanya dan saling berpelukan dengan eratnya, seolah tidak ingin terpisahkan.
Hari pun berganti. Suara kokokan ayam yang terdengar sangat nyaring tidak sedikit pun mengusik kenyamanan tidur mereka. Alarm yang berbunyi dari ponsel mereka berdua juga terabaikan oleh mereka. Bahkan secercah sinar matahari yang masuk melalui gorden jendela kaca kamar mereka pun tidak mengusik nyenyaknya tidur mereka berdua.
Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari ponsel mereka berdua. Berkali-kali ponsel mereka berdua berbunyi tapi telepon itu diabaikan oleh mereka. Hingga semua telepon yang masuk tadi menjadi panggilan telepon tak terjawab.
Setelah berkali-kali telepon tersebut tidak terjawab. Terdengarlah suara notifikasi pesan dari ponsel mereka berdua.
Beberapa menit berlalu, ponsel mereka kembali berdering secara bersamaan. Kali ini mereka merasa terganggu, hingga mata mereka secara perlahan terbuka bersamaan.
Tatapan mata mereka beradu. Mereka saling terpanah menikmati pemandangan di hadapan mereka. Wajah menawan yang alami pada saat bangun tidur itu membuat mereka terpukau.
“Selamat pagi Sayang,” ucap Tristan lirih sambil menatap intens manik mata istrinya.
Miyuki tersenyum mendengar sapaan pagi yang sangat menyenangkan dari suaminya. Dia pun menjawab dengan suara seraknya,
“Pagi.”
Mereka saling terdiam dan menikmati wajah masing-masing pasangannya. Dalam tatapan mata mereka itu tersirat rasa kagum pada wajah yang ada di hadapan mereka. Selama beberapa saat mereka betah dalam posisi seperti itu.
Seolah terhipnotis, Miyuki menjawab tanpa protes akan panggilan sayang yang diberikan Tristan padanya.
“Aku gak tau,” jawab Miyuki malu-malu.
Tristan tersenyum sambil mencubit gemas hidung istrinya dan berkata,
“Bagaimana kalau kita di kamar saja seharian?”
Miyuki melepaskan tangan Tristan dari hidungnya dan berkata,
“Gak mau ah kalau gituan lagi, sakit.”
Seketika Tristan menampakkan wajah memelasnya dan kedua tangannya berada di pipi Miyuki seraya berkata,
“Ayolah Sayang… aku berjanji tidak akan sakit untuk yang selanjutnya. Percaya deh, kamu pasti akan menyukainya.”
Tangan Miyuki melepas tangan Tristan yang ada di pipinya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
“Tidak untuk sekarang. Lagian ada yang lainnya di villa sebelah. Mungkin saja saat ini mereka menunggu kita seperti kemarin.”
Sontak saja Tristan melihat ke seluruh ruang kamarnya. Dia malu jika mereka semua menangkap basah dia bersama dengan istrinya sedang tidak menggunakan sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka.
“Huuufffttt… aman…,” ucap Tristan sambil menghela nafasnya lega.
Miyuki terkekeh melihat ekspresi lucu suaminya yang tidak pernah dilihatnya. Kemudian dia berkata,
“Kenapa? Takut ya?”
“Bukannya takut Sayang, aku malu. Memangnya kamu gak malu dilihat mereka dalam keadaan seperti sekarang ini?” ucap Tristan sambil melihat tubuh istrinya seolah menunjuk keseluruhan tubuh istrinya menggunakan matanya.
Sontak saja Miyuki menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal hingga menutupi wajahnya.
Tristan terkekeh melihat reaksi istrinya yang malu-malu. Pagi ini mereka lupa akan segalanya. Lupa akan harga dirinya, rencananya dan juga orang yang ada di sekitarnya.
Tiba-tiba terdengar kembali suara notifikasi pesan dari ponsel mereka. Tristan meraih ponselnya yang diletakkannya di atas meja dekat ranjangnya.
Matanya terbelalak ketika melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dari Aydin. Kemudian dia membuka pesan yang dikirimkan oleh Aydin padanya. Dia menghela nafasnya dan menoleh ke arah istrinya sambil berkata,
“Sayang, sepertinya kita sudah kesiangan.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Tristan, Miyuki membuka selimutnya dan menoleh ke arah jendela kamarnya. Miyuki tersenyum lebar sambil berkata,
“Mataharinya sudah tinggi.”
Namun, senyum lebar Miyuki berangsur memudar ketika suaminya itu memperlihatkan layar ponselnya yang terdapat pesan dari papinya.
Kalian berdua cepat bangun dan kita berjalan pagi bersama.
Jangan malas-malas. Cepat bangun dan berolahraga.
Kita tunggu kedatangan kalian di warung bubur kemarin.
Kenapa kalian tidak datang-datang? Apa kalian sedang membuatkan kami cucu?
Semua pesan itu tentu saja bukan Aydin yang mengirimnya. Kiki lah yang mengirimnya dengan menggunakan nomor milik Aydin.
__ADS_1