
Miyuki berdiri di depan cermin dengan menggunakan lingerie warna merah yang sangat menggoda dan sangat kontras sekali dengan warna kulitnya yang seputih susu. Dia mengabaikan keberadaan Tristan yang sedang menatapnya seolah-olah dia tidak mengetahuinya.
Tristan menatap kagum pada istrinya itu. Matanya seolah terkunci tidak ingin melihat ke lain arah. Baginya saat ini objek yang ada di hadapannya lebih indah dan menarik daripada yang lainnya.
Perlahan Miyuki berjalan dengan berlenggak-lenggok menuju ranjangnya seolah tidak ada seorang pun dalam kamar tersebut. Dia pun bersenandung kecil sambil memainkan ponselnya berpura-pura tidak mengetahui keberadaan suaminya.
Glek!
Tristan menelan ludahnya melihat kemolekan tubuh istrinya yang sangat menggoda dan membangkitkan hasratnya. Bahkan kini miliknya pun bereaksi ingin bertemu dengan sarangnya.
Perlahan Tristan berjalan menuju ranjangnya. Dia tidak bisa menahan rasanya. Bahkan tubuhnya pun bergerak bukan atas kemauannya.
Miyuki masih saja acuh. Dia tetap menjalankan rencananya sesuai dengan perintah dari Max. mereka berdua ingin tahu sejauh mana Tristan akan bertahan. Miyuki ingin merobohkan tembok pertahanan milik Tristan dan mencampakkannya jika sudah benar-benar terseret dalam rencana mereka.
Balas dendam? Mungkin bisa juga dikatakan seperti itu. Tapi lebih tepatnya jika disebut dengan memberi pelajaran pada seorang Tristan yang sombong dan angkuh.
“Mimi, kenapa kamu berpakaian seperti itu? Apa kamu menginginkan kita untuk melakukannya malam ini?” tanya Tristan yang bergerak menaiki ranjang untuk mendekati Miyuki.
Miyuki masih saja sibuk dengan ponselnya. Dia mendengar pertanyaan dari suaminya tapi tidak berniat untuk melihat ke arahnya. Tanpa menoleh ke arah suaminya dia berkata,
“Aku gerah. Dan hanya ini saja yang aku temukan di lemari kamarku.”
“Tapi Mi, kalau kamu memakai seperti ini di hadapan suamimu, itu berarti—”
“Jangan berpikiran macam-macam. Aku sudah biasa memakai seperti ini. Bahkan setiap aku ke pantai dan di kolam renang mana pun aku selalu memakai bikini. Tanya saja pada Max dan Lucas,” sahut Miyuki tanpa menoleh ke arah suaminya.
Sontak saja mata Tristan terbelalak mendengar perkataan dari istrinya. Bahkan dia sangat kesal mendengar nama Max dan Lucas disebut oleh istrinya. Kemudian dia berkata,
“Apa Max dan Lucas pernah melihatmu memakai ini ataupun bikini?”
“Ya pastilah. Kita kan ke mana-mana selalu bertiga. Jadi kita sudah sama-sama tau tentang masing-masing,” jawab Miyuki dengan bangganya.
“Apa? Tau dalam arti apa?” tanya Tristan dengan mengeratkan giginya menahan amarahnya.
__ADS_1
Miyuki mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh suaminya. baginya Max dan Lucas sudah seperti saudara kembar mereka yang ke mana-mana selalu bersama, meskipun mereka bertiga bukan saudara kembar.
Miyuki menoleh ke arah suaminya dan menatapnya dengan wajah bingungnya sambil berkata,
“Apa maksudmu?”
Ingin sekali Tristan berteriak untuk memberitahukan pada istrinya jika mereka bertiga tidak diperbolehkan sedekat itu, sayangnya dia harus menahannya untuk saat ini karena kedua orang tua Miyuki masih berada di sana bersama dengan mereka.
“Lupakan. Besok pagi saja kita bicarakan. Sekarang lebih baik kita tidur saja,” ucap Tristan dengan menahan semua amarahnya.
Dengan santainya Miyuki meletakkan ponselnya di atas mejanya. Kemudian dia merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya hingga sebatas lehernya.
Melihat Miyuki yang benar-benar bersiap untuk tidur, Tristan menghela nafasnya. Dalam hati dia berkata,
Gak peka banget sih.
Dengan wajahnya yang terlihat sangat kesal, Tristan pun merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Hingga beberapa menit berlalu mata Tristan tidak dapat terpejam. Sedangkan Miyuki, dia berpura-pura sudah sangat nyenyak dalam tidurnya.
“Mimi, kita—”
Sebelum perkataan Tristan selesai, Miyuki menggerakkan badannya untuk menghadap ke samping sehingga dia membelakangi suaminya.
Sontak saja wajah Tristan yang sudah tersenyum manis untuk merayu istrinya itu seketika memudar berganti dengan wajah kesal.
Tristan pun kembali ke tempatnya. Dalam kegelisahannya menahan keinginannya itu, dia mencoba untuk memejamkan matanya kembali. Dalam hatinya berkata,
Apa aku harus memaksanya? Dia istriku, sudah sewajarnya saja dia menuruti keinginanku.
Tristan hendak bergerak untuk mendekati istrinya, tapi diurungkannya karena dia masih mengingat akan keluarga Miyuki yang mungkin akan segera datang ke dalam kamar mereka jika mendengar teriakan dari Miyuki.
Akhirnya Tristan hanya bisa memandangi punggung istrinya dan berharap agar istrinya menghadap ke arahnya.
Setelah beberapa saat, Miyuki yang sudah tertidur bergerak menghadap ke arah suaminya. Tristan yang baru saja memejamkan matanya seketika membuka kembali matanya ketika wajahnya merasakan nafas dari Miyuki.
__ADS_1
Bibir Tristan pun melengkung ke atas. Tentu saja dia tidak akan melepaskan kesempatan itu. Tanpa sadar tangan Tristan bergerak menyentuh bibir lembut nan mungil berwarna pink alami milik Miyuki.
Seperti layaknya sebuah magnet, bibir Tristan bergerak mendekati bibir Miyuki. Lama kelamaan bibir Tristan meraup bibir istrinya yang sedang tertidur itu.
Lama kelamaan Tristan terbawa oleh napsunya. Ciumannya bertambah dalam dan panas, hingga terdengar suara lenguhan dari bibir istrinya.
Mendengar suara lenguhan dari bibir istrinya itu, Tristan bertambah semangat dan mendorongnya untuk menginginkan lebih dari sekedar ciuman.
Tangan Tristan pun mulai bergerilya menyentuh semua bagian tubuh istrinya. Dia pun tidak melewatkan aset berharga milik istrinya. Sentuhan tangannya dan gerakan lincah lidahnya membuat sensasi tersendiri untuk dirasakan oleh istrinya.
Desisan lirih terdengar jelas di telinga Tristan. Bibir Tristan pun tersenyum mendengarnya. Perlahan mata Miyuki terbuka. Dia membelalakkan matanya ketika melihat suaminya sedang memainkan aset berharganya.
Miyuki ingin melepaskan diri dari suaminya. Sayangnya, dia tidak bisa melakukannya. Badannya terasa lemas dan dia merasakan sensasi aneh dalam tubuhnya.
Tidak dipungkiri oleh Miyuki jika tubuhnya tidak menolak sentuhan dari suaminya. Dan hatinya pun mengatakan jika dia menyukai apa yang dilakukan oleh suaminya saat ini padanya.
Kini Miyuki hanya bisa pasrah. Dia menerima semua sentuhan dan perlakuan suaminya padanya. Tristan memperlakukan istrinya dengan sangat lembut agar istrinya itu merasa nyaman dan tidak berteriak.
“Mimi, rileks Sayang…,” ucap Tristan dengan sangat lembut di telinga istrinya.
Miyuki menatap pasrah pada suaminya. Dengan nafasnya yang terengah-engah itu dia menganggukkan kepalanya untuk menyetujui perintah suaminya.
Tristan tersenyum dan mengecup sekilas bibir menggoda milik istrinya itu. Secara perlahan dia bergerak untuk menyatukan milik mereka.
Namun, milik Miyuki yang masih tersegel itu membuat si pemilik merintih kesakitan.
Bruuk!
Badan Tristan mendarat dengan kerasnya di lantai. Tanpa sadar kaki Miyuki menendang Tristan yang sedang berusaha membuka segel keutuhan milik Miyuki. Rasa sakit yang tak tertahankan itu membuat Miyuki tanpa sadar menendang tubuh suaminya sehingga mendarat dengan kerasnya di atas lantai dekat ranjang mereka.
Tristan menatap dengan tatapan sedihnya pada istrinya yang masih berada di atas ranjang. Bahkan dengan wajahnya itu dia mengiba pada istrinya seraya berkata,
“Sayang….”
__ADS_1