
Airin berjalan dari dalam ruangan tadi bersama dengan salah satu pelayan di mansion Hamka menuju sebuah ruangan yang disana sudah ada Evan, Hendri, penghulu yang akan menikahkan mereka dan beberapa saksi serta wali nikah kedua mempelai.
Sebelum ikut duduk, Airin melemparkan tatapannya keseluruh isi ruangan dimana ia tak mengenal satu pun diantara orang yang berada disana kecuali Hendri dan Evan.
"Kenapa kau hanya diam saja? duduk lah? " suruh Evan membuyarkan lamunan Airin.
Airin hendak mengeluarkan suaranya namun belum sempat ia berbicara Evan lebih dulu menarik tangan Airin hingga ia mau tidak mau ikut duduk disamping Evan.
"Pak penghulu silahkan mulai acaranya! " suruh Evan.
*
*
Ketika semua orang didalam ruangan itu mengatakan kata sah secara bersamaan, Airin mendongakkan kepalanya dan sepersekian detik Airin menoleh kearah sampingnya dimana Evan berada.
Airin mengambil tangan Evan, ia cium punggung tangan pria yang baru saja menjadi suami nya itu. Setelah itu Evan pun mencium kening Airin. Sejenak pandangan mata keduanya bertemu satu sama lain. Namun dengan cepat Evan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah menghindari kontak mata diantara keduanya.
Berselang beberapa waktu kemudian, semua orang sudah keluar dari mansion, Evan pun menghampiri Airin didalam kamar miliknya karena sebelumnya Airin sudah diantar oleh salah satu pelayan kekamar Evan.
Clek
Evan membuka pintu kamar, dengan sigap Airin berdiri dari duduknya di pinggiran ranjang milik Evan. Sementara Evan memilih untuk duduk disofa yang tak jauh dari Airin.
Tatapan mata Evan begitu tajam kepada Airin, sehingga yang ditatap merasa ketakutan. Airin yang sebelumnya menatap Evan kini memilih menundukkan kepalanya.
"Kau dengar, diantara kita tidak ada perasaan apa pun dan status pernikahan ini tidak bisa mengikat ku dan melarang kebebasan ku! Terserah kau melakukan apa saja aku tidak peduli selama itu tidak merugikan nama baik ku. " Tegas Evan menatap Airin yang hanya diam menundukkan kepalanya.
"Aku tidak ingin kau mencampuri urusan pribadi ku dan satu hal yang harus kau ketahui, sampai kapan pun aku tidak akan bisa menerima dan mencintai mu jadi aku harap kau tau batasan mu! " Terlihat jelas kilatan kemarahan yang Evan pendam.
"Jika begitu untuk apa pernikahan ini? " Airin memberanikan diri mengeluarkan isi hatinya yang mengganjal mendengar ucapan Evan barusan.
__ADS_1
"Ck, kau masih belum tau juga dan masih bertanya hal bodoh seperti itu? " Evan tersenyum getir.
"Apa maksud ucapan mu? " Airin kembali bertanya.
"Aku menikahi mu hanya untuk balas dendam akan kematian kedua orang tua ku! " Tegas Evan memberitahukan maksud dan tujuannya menikahi Airin.
Deg
Airin bingung dengan apa yang barusan ia dengar dari Evan, dimana ia tidak mengerti sama sekali apa yang sedang dibicarakan oleh Evan.
"Kau tidak tau atau pura-pura tidak tahu? " suara datar Evan sangat menakutkan ditelinga Airin. "Aku benar-benar tidak tau apa yang kau bicarakan." Sahut Airin
"Benarkah? " tanya Evan mengintimidasi dan Airin menganggukkan kepalanya.
"Penyebab kematian orang tuaku adalah orang tua mu. Prasetio! dia lah orang yang harus bertanggung jawab atas kematian kedua orang tua ku! " Jelas Evan dengan kilatan kemarahan dimatanya.
"Tidak mungkin! aku tahu betul jika ayah ku tidak akan melakukan itu kepada sahabat yang sudah banyak berjasa menolongnya. " Jelas Airin menyangkal tuduhan Evan yang tidak berdasar itu.
"Kau masih membela pembunuh itu! " Evan meninggikan suaranya.
"Silahkan saja berkata apa pun itu, tapi pada kenyataannya itulah yang terjadi! dan mulai hari ini kau yang akan membayar semua perbuatan Prasetio. " Ucap Evan sambil mengeraskan rahangnya.
"Aku tidak akan tinggal diam kau melakukan hal yang tidak ada hubungannya dengan ku! " dengan tegas Airin tidak sudi menerima perlakuan Evan terhadapnya.
"Kau? " Evan mulai habis kesabaran menghadapi Airin.
"Evan berdiri dari duduknya. Mulai hari ini apapun yang kau lakukan harus seijin dari ku dan jangan coba-coba kabur dari tempat ini. Jika tidak, maka aku tidak akan segan-segan menghabisi mu! " ancam Evan membuat Airin dengan susah payah menelan air liurnya sendiri.
"Memangnya kau siapa? kau tidak berhak mengurung ku disini! " teriak Airin menghentikan langkah Evan yang hendak meninggalkan kamar.
Evan membalikkan badannya menghadap ke Airin. "Kau menentang ku ha? " Dengan suara yang menggelegar memengakkan telinga Airin,bEvan sudah tidak bisa menahan emosinya.
__ADS_1
"Dengar! " kali ini Evan tidak tinggal diam dia mencengkram wajah Airin dengan satu tangannya. Memaksa Airin mendongakkan kepalanya. "Jangan coba-coba untuk menentang ku! jika tidak aku akan melenyapkan mu! apa kau tidak dengar itu! "tegas Evan kemudian melepaskan tangannya dari wajah Airin dengan kasar.
Evan meninggalkan Airin setelah memberi sedikit peringatan kepada wanita yang baru saja menjadi istri nya itu.
Airin menghela nafasnya kasar, ia sungguh tidak menyangka jika apa yang terjadi barusan adalah kenyataan hidup yang harus ia jalani.
"Aku pikir menikah dengan mu adalah keputusan yang tepat dan dalam sehari mimpi yang aku bangun beberapa hari yang lalu menikah dan hidup bahagia bersama mu ternyata hanyalah mimpi yang tak mungkin terjadi. Karena kenyataan nya kau memiliki alasan tersendiri menikahi ku untuk membalaskan dendam mu. " Lirih Airin sendu dengan air mata yang menggenang disudut matanya.
Deringan ponsel Airin menyadarkan nya dari kesedihan hatinya. Berbalik mencari sumber suara dari ponsel miliknya.
Ternyata Sisil yang menghubunginya melalui sambungan video call. Sebelum mengangkat telponnya Airin terlebih dahulu berdehem menghilangkan rasa gundah dihatinya. Dan begitu panggilan itu terhubung, ternyata Fita juga berada bersama dengan Sisil.
"Kau kemana saja? " Cecar Fita begitu telpon itu terhubung menatap wajah Airin di layar ponsel itu.
"Aku... " Belum sempat Airin menjawab Sisil sudah lebih dulu menimpali ucapannya.
"Bagaimana? apa kau benar akan menikah hari ini sesuai dengan apa yang dikatakan pria itu? a.. Siapa namanya? " cecar Sisil sembarang saja.
"Evan! " Sahut Airin.
"Ia itu maksud ku. " Ucap Airin.
"Ceritanya panjang nanti kalau kita bertemu aku akan cerita kepada kalian berdua. " Ucap Airin tak ingin kedua temannya itu menghawatirkan dirinya.
Karna ia juga masih terkejut dan merasa bagaikan mimpi dengan kejadian hari ini. Pernikahannya yang diadakan secara tertutup, perkataan Evan yang begitu menyakitkan baginya dan yang paling menusuk hatinya dimana Evan menuduh orang tua nya sebagai pembunuh orang tua Evan.
Sungguh semua itu sulit untuk ia terima dan butuh waktu baginya menenangkan hati dan pikirannya.
Sedang asik berbicara pintu kamar Airin diketuk dari luar. dan terpaksa Airin mengakhiri percakapan nya dengan kedua temannya.
"Nanti aku telpon lagi, sekarang aku ada urasan sebentar. " Jelas Airin langsung mematikan sambungan telponnya tanpa menunggu Sisil dan Fita bicara.
__ADS_1
Airin membuka pintu kamar dan didetik berikutnya ia menarik nafas lega karna yang berada didepan pintu itu adalah pelayan. "Ada apa dengan ku? jika Evan yang datang tentu sja dia tidak perlu untuk mengetuk pintu kamarnya sendiri. " Gumam Airin didalam hati karena berpikir jika Evan lah yang datang.
Bersambung!