MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM

MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM
Bab 37.


__ADS_3

Merasa bosan Airin memilih memainkan ponsel baru miliknya sambil berbaring diatas sofa yang ada didalam kamar. Ia berputar-putar sampai ia mengangkat kedua kalinya keatas bertumpu pada sandaran sofa tersebut.


Tanpa ia sadari Evan datang tanpa sepengetahuannya karena terlalu asik dengan ponselnya.


"Sedang apa kau? "


Suara Evan mengagetkan Airin dan ia hendak menurunkan kedua kakinya namun Evan malah menahanya agar tetap berada pada posisi seperti itu.


"Tunggu! tetap seperti itu! " Evan kemudian mengambil ponsel miliknya dan ckrek, ckrek. Evan mengambil foto Airin dengan pose seperti itu.


"Sudah! " ucap Evan dengan santai setelah mendapatkan hasil dari jepretannya.


Airin pun segera menurunkan kakinya dengan kening yang berkerut.


"Kenapa kau mengambil foto ku? "


"Kenapa? " Evan balik bertanya.


"Lupakan, kenapa kau baru pulang jam segini? dan kenapa aku tidak mendengar suara mobil mu? " cecar Airin.


"Jelas saja kau tidak mendengarnya karna kau berada didalam kamar. " Ucap Evan.


"Biasanya juga aku didalam kamar tapi aku tau jika kau sudah tiba karena para pelayan akan sibuk untuk menyambut mu! " Terang Airin karena menyadari situasinya tidak seperti biasanya.


"Ck, kau ternyata memperhatikan setiap gerak-gerik ku. " Ucap Evan kemudian mendudukkan tubuhnya yang terasa lelah disofa tepat disamping Airin. Dengan cepat Airin berdiri dari duduknya karena refleks takut jika Evan tidak suka duduk ditempat yang sama dengan dirinya.


Evan melihat sekilas kearah Airin kemudian ia teringat sesuatu, sesuatu yang satu harian ini sudah ia tahan.


"Kenapa kau tidak membalas pesan ku? " tanya Evan menyelidik.


"Pesan? " Airin yang tidak mengerti maksud dari Evan mengerutkan keningnya. Dan didetik selanjutnya Airin menyadari arah pembicaraan Evan.


"Oh pesan tadi pagi? " Airin hanya beroh ria padahal Evan sampai pusing menunggu balasan pesan darinya yang tak kunjung datang.


"Apa? " sentak Evan.

__ADS_1


"Apanya yang apa? " Airin balik bertanya kepadanya.


"Hanya oh saja? pada hal aku sudah memberikan ponsel terbaru untuk mu! "


"Kan kau sendiri yang merusak ponsel ku, dan aku anggap ponsel pemberian mu itu sebagai bentuk permintaan maaf karena merusak ponsel ku. " Terang Airin merasa benar dengan ucapannya.


"Setidaknya kau berterima kasih karna aku sudah membelikannya. " Sungut Evan dengan kesal.


"Padahal aku sudah berharap kau berterima kasih kepada ku, nyatanya kau tidak melakukan seperti yang aku harapkan. " Gumam Evan sambil memijit tengkuk lehernya.


Tadi ia memilih untuk tidak menemani Cleo karna sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita yang sudah membuat dirinya gelisah. Sampai-sampai ia harus pulang menggunakan taksi online yang sudah dipesankan oleh Hendri. Taksi yang awalnya untuk Cleo namun karna wanita itu bersikeras ingin pergi bersama dengannya, dengan terpaksa ia harus mengalah dan pada akhirnya harus merasakan pulang naik taksi ditambah lagi situasi jalanan yang sedikit macet membuat Evan tambah kesal saja dengan semua yang sudah ia lewati seharian ini.


"Kau kenapa? " tanya Airin menyadari jika Evan tidak seperti biasanya.


"Tidak apa! " sahut Evan singkat. Ia terlalu kesal kepada wanita yang ada dihadapannya itu. Karena wanita itu tidak peka dengan dirinya ditambah lagi kejadian yang bersama Cleo tadi sungguh menguras emosinya.


Pada hal tadi Hendri kembali lagi ke perusahaan untuk menjemput tuannya itu karena Cleo tidak mau diantarkan oleh dirinya dan minta diturunkan di tengah jalan. Namun tuannya itu sudah tidak berada disana karena sudah pulang sebelum ia tiba ditempat tersebut.


"Ya sudah jika begitu. " Airin pun pergi keluar kamar meninggalkan Evan dalam keadaan kesal dan lelah disaat yang bersamaan.


"Ponsel mu! " Airin menadahkan tangannya kearah Evan.


"Apa? "


"Ponsel mu! "


"Buat apa? "


"Menghapus foto ku yang tadi kau ambil! " ucapnya tanpa ragu.


"Ck, ternyata wanita ini sudah semakin berani saja kepada ku! " umpat Evan dengan suara pelan hampir tidak terdengar oleh Airin.


"Kau berbicara apa, aku tidak mendengarnya dengan jelas? " tanya Airin dengan polosnya karena ia memang tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Evan.


"Lupakan! " ucap Evan mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang berikan ponsel mu! " pinta Airin lagi.


"Tidak akan aku berikan! " Ucap Evan.


"Kau mau berikan pada ku atau aku ambil sendiri? "Ucap Airin membuat Evan sedikit tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut wanita itu yang semakin berani berbicara kepadanya.


"Wah, wah.. Ternyata kau ini orangnya pemaksa juga. " Ejek Evan sambil menarik sudut bibirnya.


"Bukan begitu, tadi aku sudah meminta mu baik-baik. Tapi kau tidak mau memberikannya kepada ku. " Terang Airin dengan kikuk sadar jika perbuatanya sudah membuat suasana hati Evan tidak dalam keadaan baik.


"Ambillah jika kau mau! " tunjuk Evan mengangkat ponselnya lalu memasukkan kembali ponselnya kedalam saku kemejanya.


"Tidak jadi! " Airin berbalik menghindar dari Evan merasa tidak akan mendapatkan apa yang ia ingikan.


"Kenapa? " pertanyaan dari Evan itu membuat Airin menghentikan langkahnya yang hendak keluar.


"Karna aku sudah tidak tertarik lagi! " ucap Airin tanpa membalikkan badan mengahadap lawan bicaranya.


"Benarkah? " selidik Evan menggoda Airin dan lagi-lagi Airin tidak jadi beranjak dari tempatnya. Seketika Airin mempunyai ide. Ia berbalik dan mendekati Evan.


"Karna kau yang menyuruhnya maka akan aku lakukan! " Airin duduk bersama dengan Evan disofa itu dengan jarak yang cukup dekat. Semakin lama ia semakin mendekatkan tubuhnya hingga berdempetan dengan Evan. Bahkan kini tangan Evan bersentuhan dengan lengan Airin membuat Evan merasakan sesuatu yang tak biasa ia rasakan apa itu.


Jantungnya berdebar lebih cepat seakan ingin keluar dari tempatnya ditambah lagi Airin mendekatkan wajahnya ke wajah Evan. Sial!! umpat Evan didalam hati dimana tadinya ia ingin menggoda Airin justru kini ai lah yang menderita karena ulahnya sendiri.


Ketika disaat seperti itu Airin pun dengan cepat beraksi, mengamil ponsel milik Evan dari dalam saku kemeja Evan. Namun Evan menyadari hal itu dan dengan cepat ia menahan tangan Airin.


"Tidak semudah itu! " ucap Evan dan kini pandangan mata keduanya saling bertemu satu sama lainnya.


"Tentu saja semudah itu! " Airin berusaha merebut paksa ponsel Evan dengan sekuat tenaganya namun tentunya tidak bisa mengalahkan tenaga Evan yang jauh diatas kekuatan dari Airin.


Terjadi lah saling tarik menarik diantara keduanya. Dimana Evan berusaha mempertahankan ponsel miliknya karena tidak ingin kehilangan foto Airin yang didapatkan sebelumnya. Demikian juga dengan Airin yang tetap berusaha bahkan ia tau pasti kemungkinannya sangatlah kecil untuk dapat menghapus foto dirinya.


Karna belum tentu ia bisa membuka ponsel Evan nantinya. Tetap saling tarik diantara mereka berdua hingga keduanya kehilangan keseimbangan dan pada akhirnya.


Bruk

__ADS_1


__ADS_2