MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM

MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM
Bab 27.


__ADS_3

"Evan, aku ingin bicara dengan mu! " Airin langsung berbicara setelah melihat Evan tiba di mansion bahkan Evan baru saja turun dari dalam mobil. Airin yang sudah tidak sabar inginembicarakan sesuatu yang sangat penting sengaja menunggu Evan pulang. Dan begitu mendengar suara mobil Evan tiba, segera ia berlari keluar menyambut kedatangan Evan.


"Ada apa? " Evan mengerutkan keningnya dengan apa yang didengarnya itu. Pasalnya Airin terlihat serius sehingga membuat Evan penasaran.


"Katakan! " Evan terus berjalan sehingga melewati Airin. Dengan otomatis Airin pun mengikuti langkah kaki Evan dari belakang.


"Aku rasa kau harus mencari tau tentang kebenaran dari peristiwa kematian orang tua mu! " Ucapan Airin tersebut membuat langkah kaki Evan terhenti dan segera berbalik badan menghadap Airin.


Menatap tajam dan penuh selidik dari kedua bola mata Airin karena dengan tiba-tiba wanita itu membicarakan hal tersebut. Airin yang ditatap pun sedikit ketakutan tapi ia harus tetap mengatakan hal itu.


"Aku rasa orang tua Cleo ada hubungannya dengan itu. " Ucap Airin dengan mantap.


"Kenapa kau berkata begitu? "


"Aku tidak sengaja mendengar ucapan Cleo dengan seseorang dari telpon tapi aku yakin jika itu adalah Pandu. " Jelas Airin penuh keyakinan.


"Ck, mana mungkin. Kau jangan berkata konyol? " Evan menggelengkan kepalanya sebagai bentuk ketidak percayaan nya terhadap omong kosong yang baru saja didengarnya. Kemudian Evan pun pergi menuju kamarnya sementara Airin tidak menyerah begitu saja ia mengikuti Evan sampai masuk kedalam kamar.


"Evan... " Panggil Airin.


"Sudah kau jangan membicarakan hal itu lagi. Mana mungkin paman Pandu melakukan itu semua. Sudah jelas ini adalah ulah orang tua mu dan sekarang kau menuduh orang lain? untuk apa? "


"Aku hanya berbicara sesuai dengan apa yang aku dengar? "


Evan duduk disofa yang ada didalam kamar itu, menarik nafas sambil memijit pangkal hidungnya sejenak. Rasa lelah seharian ini ditambah lagi kepulangannya di mansion disambut dengan omong kosong dari Airin membuat rasa lelah ditubuhnya semakin bertambah.


"Hentikan! " Evan kembali menatap wajah Airin.


"Bagaimana aku bisa berhenti jika aku sendiri mendengarnya dengan telinga ku sendiri! " Airin ikut duduk bersama dengan Evan dengan jarak yang sangat dekat.


"Jika semua ucapan mu itu hanya untuk membuat aku melupakan dendam ku kepada orang tua mu, maka itu akan sia-sia saja karna sampai kapan pun itu tidak akan mungkin! "

__ADS_1


"Sudah hampir satu bulan namun pihak kepolisian belum juga bisa mengungkap siapa pelakunya. Apa menurut mu itu tidak sedikit aneh? "


"Aku tau ucapan ku tadi tidak punya bukti yang kuat tapi setidaknya kau bisa menyelidiki nya sendiri. karna kau punya kuasa untuk hal itu dan pastinya tidak akan sulit mengetahui kebenarannya jika memang Pandu ada hubungannya dengan itu semua. "


"Bisa tidak kau diam saja dan jangan mengajari ku tentang apa yang harus aku lakukan! " Kesal Evan meninggikan suaranya membuat Airin terdiam tidak lagi berani berbicara.


"Baiklah, aku tidak akan membicarakan ini lagi. " Airin memilih untuk pergi meninggalkan Evan sendiri didalam kamar yang sedang menahan amarahnya terhadap Airin.


"Bagaimana aku bisa mempercayai semua ucapannya sementara paman Pandu adalah orang terdekat papa yang selama ini selalu mendukung semua apa yang dilakukan oleh papa. " Ucap Evan menatap kearah pintu yang sudah tertutup kembali setelah Airin keluar dari sana.


"Sepertinya aku harus mencari tau sendiri tapi bagaimana caranya? " Lirih Airin sambil berjalan menuruni tangga.


Airin yang sedang melamun tak memperhatikan langkahnya hingga ia terpeleset dan terjatuh.


"Aw"


Airin meringis kesakitan sambil memerangi kakinya yang sepertinya keseleo sambil duduk di anak tangga.


Dengan susah payah Airin mencoba untuk berdiri dan pada saat bersamaan seorang pelayan melihat dirinya kemudian membantu memapah tubuh Airin.


"Aku tadi terpeleset! "


Pelayan itu pun menuntun Airin masuk kedalam kamar namun sepertinya Evan sedang berada didalam kamar mandi terdengar suara gemercik Airin dari dalam sana.


"Nyonya biar saya bantu ambilkan obat. " Pelayan itu hendak pergi namun Airin menahannya.


"Tidak perlu! "


"Tapi nyonya.. "


"Aku tidak apa-apa, nanti juga akan sembuh sendiri. " Ucap Airin merasa tidak ada apa-apa dengan kakinya.

__ADS_1


Pelayan itu keluar dari kamar setelah pamit kepada Airin dan beberapa menit kemudian Evan yang sudah selesai membersihkan tubuhnya keluar dari kamar mandi sambil mengelap rambutnya yang masih basah dengan handuk yang ada ditangannya.


Menatap sekilas kepada Airin yang berada diatas ranjang kemudian ia keluar dari kamar setelah meletakkan handuknya ditempat semestinya dan menyisir rambutnya.


Airin hanya bisa menatap Evan sampai menghilang dibalik pintu kamar dan kemudian menghela nafasnya dalam.


"Seandainya aku menikah dengan laki-laki yang mencintai ku, pasti disaat seperti ini dia akan memberikan perhatiannya. " Lirih Airin sambil memijit pergelangan kaki kirinya.


Evan yang sedang berada di meja makan hendak makan malam tanpa mengajak Airin untuk makan bersama dengannya pada hal Airin belum makan malam karna sengaja menunggu Evan untuk makan malam bersama.


Para pelayan pun menyiapkan makanan untuk tuan mereka itu tanpa bersuara dan tak lama kemudian pelayan yang bernama Nurul pun bertanya kepada Evan.


"Tuan, apa saya harus mengantarkan makan malam untuk nyonya dikamar? " tanyanya yang mengira jika Airin tidak ikut turun karna sedang mengalami cidera tadi ketika menuruni tangga yang disampaikan oleh pelayan yang melihat dan yang mengantarkan Airin kekamar tadi.


Evan mengerutkan keningnya karna merasa tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Nurul barusan.


"Memangnya kenapa? jika dia lapar dia akan turun untuk makan. " Evan berbicara dengan cueknya tanpa mengetahui apa yang terjadi kepada Airin.


"Tapi tuan.. "


"Sudahlah! aku mau menikmati makan malam ku. " Seru Evan yang mengisyaratkan tidak ingin diganggu saat menikmati makan malamnya.


Setelah selesai makan malam Evan tidak langsung kembali kedalam kamarnya, ia masuk kedalam ruang kerjanya sampai larut malam. Dan begitu ia kembali kedalam kamarnya, Airin sudah tertidur pulas dan tanpa Evan ketahui bahwa Airin sudah melewatkan jam makan malamnya.


Evan yang merasa kantuk pun segera naik keatas ranjang dan berbaring disebelah Airin. "Kau tidur dengan begitu nyenyak tanpa merasa terusik dengan kehadiran ku. " Gumam Evan sebelum menutup kedua matanya.


Keesokan paginya Airin terbangun dari tidurnya, sedikit terlambat bangun dari biasanya. Dengan terburu-buru Airin turun dari atas ranjang.


"Aw.. " Teriak Airin begitu ia menginjakkan kakinya kelantai hingga ia terjatuh. Ia merasa kesakitan dibagian kakinya. Karena tergesa-gesa ia tak mengingat keadaan kakinya sendiri.


"Kau berisik sekali padahal ini masih begitu pagi! " Kesal Evan yang merasa terganggu dengan teriakan Airin.

__ADS_1


"Maaf. " Ucap Airin yang masih berada dilantai.


"Kau sedang apa disana? "


__ADS_2