
Cleo yang sedang kesal memilih pergi keruangan papa Pandu. Membuka pintu dengan kasar sehingga membuat orang yang berada diruangan tersebut terkejut dengan kehadiran putrinya itu.
"Cleo... "
Pandu menatap putri cantiknya itu dengan perasaan bingung karena tidak biasanya Cleo seperti itu.
"Kau keluar lah dulu, nanti akan aku panggil kembali! " Perintah Pandu kepada salah satu karyawan yang kebetulan berada bersama dengannya disana untuk membahas sebuah laporan pekerjaan.
"Baik Pak, saya permisi. " Ucapnya kemudian beranjak dari duduknya. Sekilas ia melihat kearah Cleo sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
"Mentang-mentang putri dari pak Pandu, seenaknya saja mengganggu pekerjaan orang lain. " Gerutu pria tersebut begitu menutup pintu karena kesal terhadap Cleo yang sudah mengganggu sehingga membuat dirinya menunda pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Memang beberapa karyawan kurang suka melihat Cleo yang sering berkeliaran diperusahaan itu. Bukan tanpa sebab yang jelas melainkan karena sikap dan prilaku dari Cleo sendiri. Selain sering mengganggu pekerjaan orang laun, wanita itu juga dinilai kurang mempunyai sopan santun kepada orang lain.
Terkadang perkataan yang keluar dari mulutnya membuat orang lain tersinggung tanpa merasa bersalah sedikit pun. Dengan angkuhnya ia menyombongkan kedudukan dari pak Pandu diperusahaan tersebut.
Semua yang mengetahui sifat buruk Cleo pun memilih untuk tidak mencari masalah dengannya karena sudah dipastikan wanita itu tidak akan pernah menerima jika ia dipersalahkan dalam hal apa pun itu.
"Ada apa? " Hendri yang kebetulan lewat tidak sengaja mendengar ucapan karyawan itu.
"Maaf, saya tidak bermaksud untuk... " Ucapan karyawan tersebut terhenti karena bingung harus berkata apa karena dirinya ketahuan sedang mengumpat pada Cleo putri dari pak Pandu barusan.
"Siapa yang ada didalam? " Hendri bertanya penuh selidik dengan sorot mata tajam nya sehingga membuat pria ia itu merasa ketakutan.
"Nona Cleo. " Sahutnya dengan menundukkan kepalanya tanpa berani melihat kepada Hendri karena takut jika pria yang ada dihadapannya itu akan memarahi dirinya.
"Kau pergilah! " suruh Hendri dan dengan langkah cepat pria tersebut pun pergi meninggalkan Hendri yang masih berada didepan pintu ruangan Pandu.
Hendri membuka sedikit pintu dengan pelan berharap ia dapat mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh keduanya didalam sana.
__ADS_1
"Aku tidak mau lagi pah.. Aku lelah harus terus mengejar Evan sementara dia tidak sedikit pun menganggap ku ada. " Ucap Cleo mengeluh akan sikap Evan yang selalu saja menolak dirinya dengan berbagai alasan.
"Ayo lah Cleo, kau harus terus berusaha sampai Evan bisa kau miliki. Jika perlu gunakan cara apa pun itu, yang penting kau mendapatkan Evan dengan begitu otomatis posisi papa diperusahaan Hamka akan semakin kuat dan kemudian besar papa akan bisa menggeser posisi dari Evan." Ucap Pandu mmbangkitkan kembali semangat putrinya itu untuk mengejar cinta dari Evan.
Selama ini Pandu lah yang selalu menyuruh Cleo untuk mendekati Evan. Walaupun sebenarnya Cleo tidak mau karna Evan terlihat tidak tertarik kepadanya. Tidak dipungkiri memang Cleo juga jatuh cinta dengan pesona dari Evan.
Atas perintah dari papa Pandu Cleo membuang harga dirinya demi mendapatkan pria itu dengan terus menerus mendekatinya bahkan sering kali ia mendapat penolakan tapi dengan tidak tau malunya Cleo terus saja berusaha.
"Anak itu tidak tau apa-apa tentang perusahaan Hamka karena akulah yang lebih tau banyak tentang perusahaan ini dan dari dulu selalu berada bersama dengan Paris membangun perusahaan ini semakin besar seperti sekarang ini." Ucap Pandu panjang lebar.
Sikap serakah Pandu telah membutakan dirinya, ingin menguasai harta peninggalan Paris dan tentunya ia menginginkan posisi Evan sekarang ini menjadi miliknya. Sungguh tidak tau diri bukan?
"Tapi pah, papa tau sendiri kan Evan susah sekali untuk didekati. Belum lagi seorang wanita yang sekarang ada di mansionnya itu, entah apa hubungan keduanya? "
"Wanita? " Pandu memang tidak mengetahui keberadaan Airin dan apa hubungan mereka.
"Mungkin itu hanya kerabat dari Evan. " Tebak Pandu.
"Tidak mungkin pah, karena aku baru pertama kali melihat wanita itu. " Jelas Cleo.
"Singkirkan apa saja yang akan menghalangi rencana kita! " Tegas Pandu tidak ingin melihat putrinya itu banyak alasan untuk berhenti dari rencana mereka sebelumnya.
"Kau harus bisa mendapatkan Evan dengan begitu papa akan aman dari kasus kematian kedua orang tuanya. Karena sampai saat ini kasusnya belum juga ditutup. " Ucap Pandu menghela nafas sambil bersandar di sandaran kursi yang biasa duduki.
Sementara Cleo yang sedari tadi berdiri tepat didepan meja kerja Pandu hanya bisa pasrah dengan apa yang sudah menjadi keputusan papanya itu.
"Kalau masalah itu bukan urusan ku lagi. Papa harus bisa mengatasi masalah itu dengan sendiri." Terang Cleo tidak ingin bertambah pusing dengan segala permasalahan yang ditimbulkan oleh Pandu.
"Kau tenang saja karna papa akan terus berada disamping Evan memastikan bahwa kasus itu tidak akan menyeret papa. " Ucapnya dengan yakin.
__ADS_1
Deg
Hendri tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. "Pandu terlibat? " gumam Hendri didalam hati.
Setelah mendengar semua itu, Hendri menutup kembali pintu dengan perlahan agar tidak ketahuan oleh Pandu dan Cleo jika dirinya sedang menguping pembicaraan keduanya.
"Siapa itu? " Cleo merasa ada sesuatu ketika Hendri mentup pintu tersebut. Hendri yang belum beranjak dari tempatnya pun dengan segara ia pergi meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa ia berjalan menuju ruangannya dan setelah ia duduk dikursi kerjanya barulah ia bernafas lega karna hampir saja ia ketahuan.
"Perasaan tadi ada orang? " bingung Cleo setelah mendapati tidak ada siapa-siapa di depan pintu ruangan Pandu.
"Siapa? " tanya Pandu begitu Cleo menutup kembali pintu itu.
"Tidak ada! " Jawab Cleo dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Pandu.
"Jadi dugaan dari nona Airin ternyata benar. " Lirih Hendri menyadarkan punggungnya di sandaran kursi.
Tidak mungkin baginya untuk memberitahukan Evan tentang semua hal yang baru saja didengarnya itu karena tuannya tidak akan bisa menerima dengan begitu saja. Evan terlalu mempercayai Pandu sebagai sahabat dari almarhum papanya Paris.
Hendri pun memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut tanpa sepengetahuan dari Evan. Dan setelah bukti yang ia dapatkan cukup jelas barulah ia mengatakan semuanya kepada tuannya itu.
Clek
"Kau dari mana saja? " Evan datang mengejutkan Hendri yang sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Tadinya seharusnya Hendri menemui Evan namun ia melupakan hal itu karena pembicaraan Pandu dan Cleo yang mengejutkan dirinya.
Dengan cepat Hendri bangkit dari duduknya. "Maaf tuan sudah membuat anda menunggu. " Hendri membungkukkan badannya sebagai rasa maaf darinya yang sudah melupakan tugasnya.
"Sudahlah, sekarang ikut aku! "
Tinggalkan jejak kalian ya gaes... Like, vote dan juga coment nya.
__ADS_1