MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM

MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM
Bab 11.


__ADS_3

"Ada apa? " tanya Airin kepada pelayan wanita yang mengetuk pintu kamarnya. "Maaf nyonya, saya hanya ingin membawa barang anda. " Jelas pelayan itu yang membawa tas kecil ditangannya berisikan pakaian yang dibawa Airin dari rumahnya.


"Oh, aku hampir melupakan barang ku. Terima kasih! " Ucap Airin sambil mengambil tas itu dari tangan pelayan itu.


"Biar saya bantu merapikan ketempatnya. " Ucapan pelayan itu.


"Tidak perlu, ini hanya beberapa pakaian ku saja. " Tolak Airin karena memang isi dari tas isi hanya beberapa potong pakaian yang ia bawa sebelumnya.


"Baiklah nyonya, kalau begitu saya permisi. " Pamit pelayan itu segera pergi dari hadapan Airin setelah mendapat anggukan dari nyonya nya tersebut.


Nia menggantikan pakaian nya setelah itu ia keluar dari dalam kamar namun karena belum mengetahui situasi di mansion dan untuk pertama kalinya ia berada di mansion keluarga Hamka membuat Airin kebingungan menuju dapur.


Ia malah tak sengaja melewati ruang kerja Evan dan ternyata Evan sedang berada didalam sana bersama dengan Hendri. Samar-samar Airin mendengar percakapan keduanya kerena memang pintu ruangan itu tidak tertutup dengan rapat.


Airin yang merasa penasaran, memutuskan untuk mendengarkan pembicaraan antara Evan dan juga Hendri dari balik pintu.


"Tuan, apa anda yakin rencana anda akan berhasil? " selidik Hendri.


"Tentu saja! kau tidak lihat bagaimana dengan bodohnya ia mempercayai surat wasiat itu tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Bahkan wanita itu tidak membaca atau pun melihat sekali saja wasiat palsu itu. " Jelas Evan tersenyum penuh dengan kemenangan.


"Apa? jadi wasiat itu palsu? " lirih Airin tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari balik pintu.


"Tapi tuan, apa ini tidak berlebihan menikahi wanita itu hanya untuk membalaskan dendam tuan kepada tuan Prasetio? bahkan orang yang anda maksud telah tiada dan nyonya Airin yang harus menanggung akibat nya. " Hendri merasa kasihan dan tidak membenarkan perbuatan tuannya itu.


"Kau tidak perlu memikirkan masalah itu. Tugas mu adalah menjalankan setiap perintah ku! " Tegas Evan tidak suka jika Hendri menceramahi nya.


Dibalik pintu Airin merasa terkejut dan memilih untuk pergi kembali ke kamarnya dan melupakan haus ditenggorakannya setelah mendengar semuanya secara jelas.


"Ternyata aku dinikahi hanya untuk itu! dan bodohnya lagi aku mau menikah dengannya tanpa banyak bertanya dan mencari tau semuanya. Dan wasiat itu ternyata hanya rekasa yang dibuat oleh Evan untuk mengelabui ku. " Gumam Airin gelisah sambil mondar-mandir didalam kamar.


Airin memutar otaknya untuk melakukan cara agar keluar dari jebakan Evan. "Aku harus kabur, ya kabur adalah jalan satu-satunya! " Airin gusar dan hendak kabur namun sepersekian detik kata-kata Evan berkeliaran di kepalanya. "Jika kau kabur maka aku tak akan segan-segan melenyapkan mu! "


Deg


"Apa yang harus aku lakukan? " Airin prustasi tak bisa berbuat apa-apa kali ini.

__ADS_1


Sementara Evan dan Hendri hendak keluar dari mansion dan Airin menyaksikan hal itu dari balkon kamarnya. "Mau kemana mereka? "selidik Airin sambil menatap mobil yang ditumpangi oleh Evan.


"Ah terserah lah, untuk apa aku mengurusinya bukan kah dia bilang jangan ikut campur urusan pribadinya?" gerutu Airin menirukan suara datar Evan.


Cukup lama Airin didalam kamar, dan setelah kepergian Evan barulah ia keluar dari dalam kamar, mencari-cari letak dapur. Berjalan menuruni tangga sambil memperhatiakan sekeliling nya.


Tak bisa dipungkiri Airin takjub akan mansion keluarga Hamka yang jauh berbeda dengan tempat tinggalnya selama ini.


"Nyonya, anda membutuhkan sesuatu? " tanya pelayan yang kebetulan lewat dan melihat Airin seperti kebingungan.


"Kebetulan, aku haus dan aku tidak tau letak dapurnya dimana? " Ucap Airin apa adanya.


"Mari nyonya saya antar! " ucap pelayan itu membawa Airin menuju dapur dan menyiapkan air minum untuk nyonya itu.


"Terima kasih! " ucap Airin menerima gelas yang berisikan air putih itu.


"Lain kali nyonya panggil saja jika membutuhkan sesuatu. " Ucap pelayan itu.


Airin hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dengan perlakuan pelayan yang begitu memperlakukannya dengan sangat baik.


'Ia nyonya, tuan Evan hanya tinggal sendiri semenjak kedua orang tua beliau meninggal. " Terang Pelayan itu.


"Apa tidak ada yang lain? seperti adik atau kakak dari Evan? " tanya Airin lagi.


Tuan Evan tidak memiliki saudara nyonya, beliau merupakan anak tunggal dari tuan Paris Hamka dan istrinya." Jelas pelayan itu dengan sopan menceritakan tentang keluarga tuannya.


"Oh begitu! " Airin beroh ria.


"Apa ada lagi nyonya yang anda butuhkan? " tanya pelayan itu. "Tidak! " sahut Airin dengan singkat.


"Aku bahkan tidak mengetahui apa pun tentangnya, tapi aku malah tidak tau malu menjadi istri dari Evan Hamka. " Airin tertawa kecut mentertawakan dirinya sendiri.


Malam harinya Evan yang sudah duduk di meja makan menunggu Airin keluar dari dalam kamar. "Kenapa kau lama sekali? " tanya Evan tidak suka.


"Maaf tadi aku.. "

__ADS_1


"Kau buatkan makan malam untuk ku! " suruh Evan tanpa melihat kearah Airin yang sedang berdiri disampingnya.


"Apa? "


"Kau tidak dengar? aku bilang buatkan makan malam untuk ku! " Evan mengulangi ucapannya.


"Tapi kenapa harus aku? bukan kah ada banyak pelayan disini? " pekik Airin menunjuk pelayan yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka yang setia untuk menunggu perintah dari tuannya.


"Jangan banyak bertanya! aku mau kau yang melakukannya untuk ku. " perintah Evan tidak ingin dibantah.


"Tapi masalah nya aku tidak bisa memasak! " terang Airin berkata jujur. Karena memang ia tidak bisa memasak yang pernah ia lakukan hanya sekedar membuatkan telur ceplok.


"Aku tidak mau tau. Kau lakukan sekarang sesuai perintah ku atau kau memilih untuk aku hukum? " ancam Evan sungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Baiklah! " Airin pun segera menuju dapur dan mencari bahan yang ia butuhkan.


Tak lama kemudian, Airin meletakkan dua piring yang berisikan telur ceplok buatannya didepan Evan.


"Ini makan lah! " Suruh Airin dan ikut duduk.


"Apa ini? "


"Telur! " sahut Airin santai.


"Aku tau ini apa! maksud ku kau hanya membuatkan ku makan malam dengan ini? " Evan benar-benar kesal dibuatnya.


"Ia, memangnya kenapa? " Airin tetep santai menjawap ucapan Evan bahkan ia mulai menuangkan nasi diatas piringnya.


"Kau? " Evan emosi dan melemparkan telur tersebut keatas piring Airin. "Itu kau makan saja sendiri! " ketus Evan kemudian berdiri dari duduknya.


"Pelayan, siapakan makan malam untuk ku dan bawakan kekamar ku! " Perintah Evan dan segera pelayan itu membuatkan makan malam untuk tuannya itu.


"Kenapa dengannya? apa salahnya jika makan dengan telur? " gerutu Airin sambil melahap makan malamnya.


Semenjak orang taunya tidak ada Airin memang sering makan hanya dengan telur saja karena ia tidak tau memasak, sedari kecil ibu Lusi tidak membiarkan putrinya itu untuk mengerjakan pekerjaan dapur karena terlalu sayang kepada Airin dan ternyata hasil dari itu semua Airin tidak bisa memasak untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Bersambung!


__ADS_2