MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM

MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM
Bab 20.


__ADS_3

Ingin rasanya Evan menghukum wanitanya itu namun pekerjaan di kantor yang padat terpaksa ia mengurungkan niatnya tersebut. Membiarkan Airin terbebas dari hukumannya untuk sementara bukan berarti ia akan melepaskan wanita itu begitu saja.


Pasalnya Evan tidak terima jika Airin bersama dengan pria lain.


"Kau cari tau siapa laki-laki yang bersama dengan Airin tadi! " suruh Evan kepada Hendri yang masih fokus dengan kemudinya.


"Baik tuan. " Hendri melirik sekilas kekaca mobil kemudian kembali lagi melihat lurus kedepan.


"Aku ingin tau ada hubungan apa diantara mereka dibelakang ku. " Evan menatap kearah samping menembus kaca mobil. Pikirannya kembali mengingat wajah pria yang bersama dengan Airin.


"Kenapa tuan ingin mencari tau tentang pria itu? " akhirnya pertanyaan yang sedari tadi ingin Hendri tanyakan keluar juga dari mulutnya.


"Memangnya aku tidak boleh mengetahui hubungan apa diantara mereka? " Evan menatap tajam kepada Hendri melalui pantulan kaca yang ada didepan asistennya.


"Apa tuan cemburu melihat nona Airin bersama pria lain? " tanya Hendri penuh selidik.


"Ck, yang benar saja! " Evan tertawa sinis.


"Mana mungkin aku cemburu dengan hal yang tidak penting begitu. " Kilah Evan tidak ingin Hendri salah mengartikan perintahnya.


"Bukankah jika tuan cemburu itu juga hal yang wajar diantara pasangan suami istri?"


"Diam kau! " Evan marah mendengar asistennya itu terus mengatakan jika dirinya cemburu sementara Hendri yang tau tuannya itu sedang marah memilih untuk menyudahi percakapan diantara mereka dengan kata maaf.


Di tempat lain Airin sedang menggerutu kesal merutuki Evan yang bertindak sesuka hatinya. Belum lagi tadi Evan pergi begitu saja tanpa berkata apa pun kepada Airin menambah kekesalan Airin.


Dan jika ia bertemu kembali dengan Alvaro pasti pria itu akan mencecar dirinya dengan berbagai pertanyaan. Entah apa yang akan ia katakan kepada Alvaro nantinya karna tidak mungkin jika ia mengatakan tentang pernikahan nya dengan Evan.

__ADS_1


Airin mengambil ponsel miliknya hendak mengirimkan pesan permintaan maaf kepada Alvaro namun belum sempat ia mengetikkan permintaan maafnya, pesan dari Alvaro lebih dulu masuk ke ponselnya.


Menanyakan apakah Airin baik-baik saja. Dengan cepat Airin pun membalas pesan tersebut. Setelah mengatakan jika dirinya dalam keadaan baik Airin pun meminta maaf karena meninggalkannya dengan begitu saja dan tak menjelaskan lebih lanjut lagi.


Malam harinya Evan pulang larut malam tidak seperti biasanya bahkan Airin sudah tertidur pulas dan tak menyadari kepulangan Evan.


Evan memasuki kamarnya dimana ada Airin diatas tempat tidur, berjalan mendekati tempat dimana Airin terbaring. "Kau sepertinya tidur dengan nyenyak sekali sampai-sampai kau tidak menyadari keberadaan ku. "


Niat awal Evan ingin menghukum wanita itu pun terpaksa harus ia urungkan karena tidak mungkin jika ia harus mengganggu Airin yang sedang beristirahat dibawah selimutnya.


Evan duduk di pinggiran ranjang sambil melonggarkan dasi di lehernya. "Kenapa aku tidak bisa bersikap tegas kepada mu? seharusnya aku membuat hidup mu menderita tapi kenapa aku tidak bisa melakukan keinginan ku untuk membalaskan dendam atas kematian kedua orang tua ku." Evan menatap wajah teduh Airin ada ketenangan dihatinya menatap wajah polos Airin ketika sedang tidur.


Tanpa sadar Evan mengangkat tangannya menyentuh wajah Airin. Ia menyusuri wajah Airin dengan jari telunjuk nya. Sesekali menoel-noel hidung Airin yang membuatnya gemas sendiri.


Merasa terusik dengan ulah Evan, Airin pun perlahan membuka matanya.


"Kau baru pulang? " tanya Airin mengucek kedua matanya sambil mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk. Sementara Evan segera berdiri dari duduknya menghindar dari Airin. Pasalnya ia takut tidak bisa menahan dirinya jika terus berada didekat Airin, ada perasaan yang tidak bisa ia fahami perasaan apa itu. Yang jelas ia merasa tenang ketika menatap wajah Airin barusan.


"Dia kenapa? " Airin bingung sambil menatap punggung Evan yang perlahan hilang dibalik pintu kamar mandi. Airin yang masih mengantuk memutuskan untuk kembali melanjutkan tidurnya, karna percama juga ia bangun jika Evan saja enggan untuk berbicara dengannya.


"Sial! " umpat Evan didalam kamar mandi dimana hampir saja ia ketahuan jika sedang memandangi dan mempermainkan wajah Airin tadi. Belum lagi ia harus membereskan sesuatu yang sedang menegang dibawah sana. Terpaksa malam itu Evan mandi dengan air dingin untuk menidurkan kembali junior nya. Wajarlah ya,, Evan adalah pria normal yang akan tergoda jika berada didekat wanita apalagi wanita tersebut adalah seorang istrinya sendiri.


Evan menegang ketika matanya tertuju pada belahan dada Airin yang menggunakan piyama dan kebetulan tadi kancing piyama yang Airin kenakan terbuka dibagian atas sehingga memancing gairah dari Evan.


Cukup lama Evan berada didalam kamar mandi dan ketika ia keluar dari sana ia melihat Airin sudah kembali tertidur pulas. Evan menatap kearah Airin sambil bertolak pinggang. "Kau bisa kembali tidur dengan tenang sementara aku harus berusaha meredam sesuatu karna ulah mu! " gerutu Evan namun itu semua percuma saja ia lakukan karna orang yang ia maksud tidak mendengar semua gerutuannya itu.


Evan pun ikut naik keatas ranjang dan menarik selimut untuk mereka berdua. Evan menarik tubuh Airin hingga menghadap kepadanya. "Hari ini kau terbebas dari hukuman mu tapi tidak untuk besok karna aku akan pastikan kau menerima hukuman mu setelah apa yang kau lakukan dibelakang ku! " gumam Evan menatap wajah Airin dan tanpa sadar ia mengecup bibir Airin.

__ADS_1


Airin tidak terusik sedikit pun dengan ulah Evan dan alhasil Evan pun mengulangi kembali aksinya mencium bibir Airin sekali lagi. "Apa yang aku lakukan?" Evan merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menahan dirinya sendiri, semakin ia memperhatikan bibir Airin semakin ia ingin mengulang kembali merasakan bibir itu.


Menyadari perbuatan nya salah Evan pun memilih untuk tidur agar tidak lagi mengulanginya dengan terpaksa ia harus memejamkan kedua matanya dengan posisi memeluk Airin. Ia ikut menyusul Airin ke alam mimpi.


Keesokan harinya Airin terbangun dari tidurnya, merasa seluruh tubuhnya terasa berat seperti tertimpa sesuatu dan sulit untuk menggerakkan tubuhnya. Airin mencoba mengerjapkan kedua matanya sambil mengumpulkan kesadarannya penuh. Di detik berikutnya Airin menoleh kearah sampingnya dan alangkah terkejutnya Airin sampai ia berteriak melihat wajah Evan begitu dekat dengan wajahnya bahkan nyaris saja bibir Evan bersentuhan kewajahnya.


"Aaa... " Airin mendorong tubuh Evan yang sedang memeluknya dengan sekuat tenaga hingga membuat Evan terjatuh dari atas tempat tidur.


Bruk


"Aw.. " Rintih Evan mengelus bokongnya yang menyentuh lantai.


"Kau kenapa mendorong ku? " kesal Evan sambil berdiri dari lantai.


"Harusnya aku yang bertanya kepada mu! kenapa kau memelukku? " Airin sedikit meninggikan suaranya.


"Ck, yang benar saja, mana mungkin aku memeluk mu! "


"Kau jangan mengambil kesempatan ketika aku sedang tidur! "


"Percuma berbicara dengan mu! aku tidak mungkin memelukmu atau jangan-jangan kau yang memeluk ku sewaktu aku tidur? "


"Kau? "


"Apa? " Evan tidak mau mengakui jika ia memang tidur sambil memeluk Airin.


Merasa sia-sia berdebat dengan Evan, Airin memilih untuk masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan meninggalkan Evan.

__ADS_1


__ADS_2