
Airin yang baru tiba didepan gerbang mansion menggunakan taksi online, turun dengan harap cemas. Berharap jika tidak akan ketahuan oleh pelayan jika dirinya kabur. Airin berjalan masuk melewati pagar yang kebetulan terbuka. Mungkin petugas yang bertugas menjaga gerbang lupa untuk mengunci gerbangnya.
Berbeda dengan sebelumnya, Airin keluar secara diam-diam dengan mengambil kunci gerbang dari petugas yang sedang tertidur, sementara kunci gerbang itu terletak begitu saja di meja yang ada dipos jaga itu.
Airin melihat kesana kemari memastikan keadaan sekitar. "Aman! " pikir Airin dengan rasa senang karena langkahnya seolah dipermudah untuk masuk kembali kedalam mansion.
Bertepatan tadi petugas lupa mengunci kembali gerbang tersebut setelah membukan gerbang ketika mobil milik Evan masuk dan dengan tergesa-gesa petugas itu masuk mengikuti mobil tuannya. Karena ia tau betul jika tuannya itu kembali karena mendapat laporan jika nona Airin kabur dari mansion.
Semua pelayan termasuk petugas yang berjaga di gerbang kini sedang berada diruang tengah mansion, tak ada yang berani berbicara karena tuan mereka kini sedang marah karena kelalayan mereka.
Bahkan mereka mendapat kata-kata kasar dari Evan, bagaimana mungkin mereka bisa kecolongan seperti itu padahal hanya satu orang saja yang mereka jaga itu saja tidak bisa.
Airin yang merasa senang setelah melewati gerbang dengan mudahnya tidak memperhatikan mobil Evan yang ada di garasi. Ia berjalan sedikit terburu-buru takut jika ada yang melihat dirinya. Airin kini berada tepat didepan pintu mansion hendak masuk namun ia ragu hingga memutuskan untuk masuk melalui pintu belakang mansion saja seperti saat ia kabur sebelumnya.
"Sepi? " Airin mengarahkan pandangan matanya keseluruhan sudut ruangan, karena biasanya para pelayan akan mondar-mandir disana tapi kali ini tidak ada satu pelayan pun. Jika sebelumnya ia harus bersusah payah keluar berbeda dengan sekarang ia masuk kedalam mansion tanpa hambatan sedikit pun.
"Mungkin mereka sedang beristirahat. " Gumam Airin meneruskan langkahnya. Namun seketika perasaan senangnya yang berhasil masuk kedalam mansion langsung berubah dengan rasa terkejut.
Pandangan matanya melihat para pelayan yang sedang berdiri didepan Evan. Mau melarikan diri juga sudah tidak bisa karena sudah terlanjur beberapa para pelayan melihat kearahnya.
"Nyonya? " Bahkan salah satu pelayan sampai memanggilnya. Dan sedetik selanjutnya Evan mengikuti arah pandangan mata pelayan tersebut.
Deg
Airin terdiam, langkah kakinya terhenti ketika matanya melihat tatapan mata Evan yang begitu menakutkan.
"Dari mana saja kau? " teriak Evan membuat Airin ketakutan. Kakinya terasa lemas seolah tidak dapat menopang berat badannya bahkan ia tidak punya kekuatan untuk menggerakkan kedua kakinya.
"A aku... " Airin tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
"Kali ini kalian selamat karena dia pulang dengan sendirinya tanpa harus merepotkan ku untuk mencari keberadaannya." Evan menatap satu persatu kepada para pelayan yang berdiri di depannya dengan menundukkan kepala mereka tanpa berani melihat tuannya yang sedang marah karena kesalahan mereka yang tidak bisa menjaga Airin.
"Kalian bubar! " Perintah Evan dan Hendri yang sedari tadi berada disamping tuannya itu pun mengisyaratkan agar mereka secepatnya pergi dari hadapan tuannya itu.
__ADS_1
"Dan kau, kenapa masih berdiri di situ? " Ucap Evan dengan suara yang menakutkan ditelinga Airin.
Airin pun menatap kearah Hendri yang kemudian dibalas anggukan kepala oleh Hendri seolah mengatakan untuk mengikuti perintah tuan Evan tersebut.
"Jelaskan! " Suruh Evan begitu Airin sudah berdiri dihadapannya.
"Apa? " Airin bingung dengan maksud dari ucapan Evan.
"Kau dari mana saja dan siapa yang mengijinkan mu keluar ha? " bentak Evan membuat Airin terkejut.
"Aku hanya... "
"Hanya apa? " Evan mantap tajam kepada Airin sambil menahan emosinya karena Airin sudah membuat jadwal pekerjaan Evan menjadi berantakan. Bagaimana tidak bahkan Evan meninggalkan rapat karena mengira jika Airin kabur seperti laporan pelayan mansion yang menghubungi dirinya sebelumnya.
"Aku bosan, dan keluar sebentar tadi. " Jelas Airin berharap Evan akan mempercayai ucapannya.
"Hen.. Kau kembalilah ke perusahaan dan hendel semua pekerjaan ku! " Perintah Evan berbicara tanpa melihat kearah lawan bicaranya karena matanya terus menatap kepada Airin seolah sedang mengintimidasi wanita itu.
"Baik tuan! " Hendri pun mengikuti perintah tuannya itu namun sebelum beranjak dari tempatnya ia melihat kearah Airin yang sedang menatapnya seolah meminta bantuannya.
Evan berdiri dari duduknya, berjalan melewati Airin begitu saja. Airin memutar badannya mengikuti Evan yang sudah berjalan menjauh darinya, sontak ia mengikuti langkah kaki Evan yang ternyata menuju kamar milik mereka.
Setelah berada didalam kamar, Evan membuka jas dan dasinya, melempar ke sembarang arah kemudian menggulung lengan bajunya. "Katakan dari mana saja kau tadi? " Evan manatap Airin sambil mencoba bicara dengan baik-baik.
"Aku tadi pergi bersama dengan teman ku. " Terang Airin menundukkan kepalanya.
"Siapa teman mu itu? apa pria yang waktu itu? " selidik Evan.
Airin mengangkat wajahnya menatap Evan kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Bukan! " sahutnya dengan cepat takut jika Evan salah paham.
"Lantas siapa? "
"Fita dan Sisil! " Ucapnya singkat.
__ADS_1
"Benarkah? " selidik Evan lagi.
"Nah kan percuma juga aku kasih tau, pasti kau tidak akan percaya dengan ucapan ku. "
"Jika benar apa yang kau katakan kenapa kau keluar dengan melarikan diri? "
"Aku tidak melarikan diri hanya saja aku keluar diam-diam tanpa ada yang tahu. " Kilah Airin membela dirinya sendiri.
"Itu sama saja! " sentak Evan.
"Terserah kau saja! " Airin malas untuk berdebat dengan Evan karena ia merasa sangat lelah setelah satu harian ini menghabiskan waktu bersama dengan kedua temannya.
Airin berjalan melewati Evan dengan santainya dan meletakkan tas kecil miliknya diatas tempat tidur dan pada saat bersamaan ponsel Airin berdering.
Airin pun mengambil ponselnya dari dalam tas miliknya dan melihat layar ponselnya.
"Alvaro " gumam Airin. Ia membiarkan panggilan tersebut.
"Kenapa tidak diangkat? " Ucap Evan.
"Tidak apa! " seru Airin dan kemudian ponselnya miliknya kembali berdering.
Airin yang tidak ingin Evan marah membiarkan ponselnya begitu saja namun hal itu justru membuat Evan merasa ada sesuatu dan mengambil ponsel Airin.
"Kenapa, kau tidak ingin berbicara denganya karena ada aku? " Evan mulai merasa kesal lagi.
"Bukan begitu! "
Evan melihat kembali layar ponsel tersebut yang sudah berhenti berdering. ada beberapa pesan masuk yang belum dibaca oleh Airin.
"Buka! " suruh Evan meminta agar Airin membuka kata sandi ponsel miliknya. Airin pun menurut begitu saja karena tidak ingin membuat Evan lebih marah lagi.
"Ini! " Airin memberikan ponsel tersebut kembali kepada Evan.
__ADS_1
Dan didetik berikutnya.
Prank