MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM

MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM
Bab 23.


__ADS_3

Lelah hanya berdiam diri, Airin pun melihat-lihat setiap sudut ruang kerja Evan. Dia melihat sebuah bingkai foto yang berada diatas meja kerja Evan. Foto Evan dengan kedua orang tuanya. Sejenak Airin mengambil foto itu dan menatap gambar itu.


Aku tau tidak mudah untuk menerima kenyataan kehilangan orang yang kita sayangi pergi begitu saja karna aku juga mengalami hal serupa dengan mu. Kehilangan kedua orangtua sekaligus sangat membuat ku terpukul.


Tapi tidak seharusnya kau berpikir jika orang tua ku lah penyebab dari kematian orang tua. karna kepolisian pun belum menemukan siapa dalang dari kematian orang tua mu.


Airin mengelus wajah kedua orang tua Evan yang ada didalam foto tersebut. "Aku ingin memanggil kalian dengan sebutan mama dan papa mertua, apakah kalian mengijinkan ku? " Airin berbicara seolah ia sedang berhadapan langsung dengan orang yang ada didalam foto itu.


Airin tersenyum kecut kemudian meletakkan kembali bingai foto itu ditempat semula. Kini ia memilih berdiri menghadap keluar jendela kaca ruangan itu. Menatap semua gedung-gedung dan jalanan dari ruangan itu. Menatap jauh kedepan sana dengan pikiran kosong.


"Sampai kapan aku akan bertahan dalam keadaan ini? " lirih Airin.


"Bolehkah aku berharap suatu saat nanti aku adalah wanita yang dicintai oleh Evan dan hidup bahagia menua bersama. " Harap Airin.


Setelah selesai rapat Evan kembali kedalam ruangannya. Mengerutkan keningnya begitu membuka pintu ruang kerjanya melihat seseorang tertidur diatas sofa. Ia melupakan jika Airin berada didalam ruangannya.


Evan berjalan masuki ruangannya mencoba mengabaikan Airin yang sedang tertidur. Ia memilih duduk dikursi kerjanya namun pandangan matanya tidak bisa lepas dari wajah Airin yang begitu tenang.


Tanpa ia sadari bergerak mendekati Airin, begitu berada didepan wanita itu ia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Airin sambil menatap wajah yang membuat hatinya terasa nyaman.


Cup


Evan mengecup bibir Airin dan setelahnya merutuki perbuatannya yang diluar akal sehatnya.


"Soal! kenapa malah aku menciumnya? "


Evan hendak berdiri namun pergerakannya berhenti ketika Airin membuka mata. "Kau sudah selesai rapat? " Airin bergerak untuk duduk disofa.


Sementara Evan yang seperti orang baru ketahuan mencuri sedikit gugup seraya menggaruk tengkuk lehernya. "Apa dia tau jika tadi aku menciumnya? "


"Su sudah! " Evan berbalik dan kembali untuk duduk dikursi kebesarannya.


"Kau pulanglah biar Hendri yang akan mengantarkan mu! " suruh Evan sambil mengambil ponselnya untuk menghubungi Hendri.


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. " Ucap Airin menolak.

__ADS_1


"Kenapa? " Evan menghentikan pergerakan tangannya yang hendak mengirimkan pesan kepada asisten nya itu.


"Tidak apa, aku tidak enak jika merepotkan Hendri mungkin dia sedang sibuk sekarang. " Jelas Airin.


"Kau merasa tidak enak atau kau hanya mencari alasan untuk kelayapan diluar sana? " pekik Evan menatap tajam kepada Airin.


Airin menghela nafasnya. "Bukan begitu! "


"Lantas, apa? "


"Sudahlah lebih baik aku pulang sekarang daripada harus berdebat dengan mu membuang waktu ku saja. " Airin bangkit dari duduknya.


Evan tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Airin kepadanya.


"Berani kau keluar dari ruangan ini tanpa seijin ku? " ancam Evan.


"Tadi kau yang bilang agar aku pulang sekarang kau melarang ku keluar dari sini. Maksudnya apa? " Airin menatap penuh tanya akan sikap Evan yang berubah-ubah.


"Aku tidak mengijinkan mu untuk pulang sendiri, karna aku tau pasti kau akan pergi seperti waktu itu. " Tuduh Evan.


"Kau mau berdiri disitu sampai kapan? " tanya Evan kepada Airin yang masih berdiri karena ia hendak pergi.


"Duduklah dan tunggu aku sampai selesai bekerja kita pulang bersama saja. " Terang Evan tanpa menatap kearah Airin yang sedang menggerutu kesal.


"Tadi aku disuruh pulang olehnya dan sekarang aku di suruh kembali duduk dan menunggu nya disini seharian. Dasar aneh! "


Mau tidak mau Airin pun menuruti perintah Evan. kembali duduk meskipun didalam hatinya ia menggerutu kesal. Seharian menunggu Evan pasti akan membuat dirinya bosan. Tadi saja menunggu Evan sampai selesai rapat ia sampai ketiduran apa lagi menunggu sampai pekerjaan Evan selesai yang pastinya hal itu akan sampai sore bahkan bisa saja sampai malam.


Padahal Airin belum makan siang, ia harus menahan rasa laparnya sampai kembali ke mansion nanti.


Sore harinya dalam perjalanan kembali kemansion. Airin duduk disamping Evan dikursi penumpang sementara Hendri berada kursi depan mengemudikan mobil yang mereka tumpangi.


Kruk kruk


Airin memegangi perutnya yang kelaparan. Sontak menarik perhatian Evan, melihat kearah Airin yang sedang memegangi perutnya.

__ADS_1


"Suara apa itu? " Evan berpura-pura tidak tau asal dari suara tersebut.


Airin yang sedang menahan malu dimana perutnya tidak bisa diajak kerja sama menggigit bibir bawahnya.


"Itu bunyi perut ku. " Ucap Airin dengan malu-malu.


"Kau ini! "Evan tidak menyadari jika Airin sudah melewatkan makan siangnya karena seharian berada diruangan Evan tanpa melakukan apa pun yang dia lakukan hanya memperhatikan Evan yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Maaf, aku lupa jika aku belum makan sedari tadi siang. " Airin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Untuk makan saja kau lupa bagaimana dengan hal yang lain. " Ketus Evan memojokkan Airin.


"Aku bukannya lupa tapi aku terpaksa melewatkan makan siang ku karena aku seharian ini berada didalam ruangan mu! " Balas Airin.


"Siapa yang menyuruh mu tidak makan siang pada hal kau tidak melakukan apa-apa seharian ini. " Ucap Evan lagi.


"Kau lupa jika kau tidak mengijinkan ku pulang tadi? " sengit Airin membalas perkataan dari Evan.


"Tapi bukan berarti aku menyuruh mu untuk tidak makan siang! " Evan tidak ingin dipersalahkan oleh wanita itu.


"Ya ya. Kau selalu saja benar bahkan jika kau berbuat kesalahan sekalipun, kau tetap benar. " Airin berkata sambil membuang arah pandangan matanya keluar melalui kaca mobil.


Di detik selanjutnya tidak ada lagi perdebatan diantara keduanya sampai tiba di mansion. Airin membuka pintu mobil dan segera masuk kedalam mansion tanpa menghiraukan Evan yang sedang menatapnya.


"Wanita ini selalu saja membuat ku kesal. Tidak bisakah ia menunggu ku keluar dari dalam mobil dan masuk bersama kedalam mansion? " keluh Evan.


Ternyata Evan ingin jika Airin memperhatikan dirinya dengan setia menunggu Evan turun dari dalam mobil. Tapi Airin memilih untuk mengabaikan dirinya karena Airin sedang kesal setelah perdebatan keduanya tadi.


"Kau pulang lah! " suruh Evan kepada Hendri begitu pria itu membukakan pintu mobil untuk dirinya.


"Baik tuan! " ucap Hendri membungkukkan badannya dan kemudian kembali masuk kedalam mobil setelah Evan masuk kedalam mansion.


"Kau? "


Airin terkejut dengan keberadaan seorang wanita diruang tengah mansion.

__ADS_1


__ADS_2