MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM

MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM
Bab 28.


__ADS_3

"Kau sedang apa disana? "


Airin tidak menjawab, ia justru berusaha berdiri dengan berpegangan pada pinggiran ranjang dan setelah berhasil ia mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang itu.


"Masih pagi tapi kau sudah membuat mood ku berantakan. " Gerutu Evan sambil menyibakkan selimut dari tubuhnya dan kemudian turun dari atas ranjang.


Airin melirik kearah Evan yang ternyata berjalan masuk kearah kamar mandi. Kemudian ia pun memaksakan diri untuk berjalan keluar dari kamar. Ia memutuskan untuk menyiapkan sarapan buat Evan terlebih dahulu karena sudah terlambat bangun dari biasanya.


Pergelangan kaki Airin yang membengkak ia paksakan berjalan walau dengan tertatih dan menahan rasa sakit. Ia tidak mau membuat Evan semakin marah lagi karena tadi saja sudah terlihat jelas kekesalan Evan kepadanya.


"Maaf aku bangun terlambat. " Ucapnya kepada pelayan yang sudah berada di dapur untuk membantunya seperti biasa.


"Nyonya, sebaiknya anda tidak turun dari kamar. Apa masih sakit? " tanya pelayan itu menghampiri nyonya nya itu.


"Airin menggelengkan kepalanya. Tidak apa paling juga sebentar lagi sudah baikan. "


"Tapi nyonya kaki anda membengkak apa tidak sebaiknya saya panggilkan dokter saja. "


"Tidak usah! " Airin hendak mengambil pisau dapur untuk melanjutkan memotong sayuran.


"Nyonya, sebaiknya anda duduk saja kasihan pasti rasanya sangat sakit. "


Pelayan itu mengambil pisau dapur tersebut dari tangan Airin dan kemudian membawa tubuh Airin untuk duduk di kursi meja makan.


"Tapi aku harus menyiapkan sarapan jika tidak ingin melihat Evan marah nantinya. "


"Nyonya, tuan Evan tidak akan marah karna kondisi anda seperti saat ini tidak mungkin tuan Evan setega itu. "


"Kalau begitu terserah kau saja. "


Airin pun mau tidak mau menuruti ucapan pelayan itu dengan hanya duduk sambil memperhatikan pelayan itu sedang menyiapkan sarapan.


"Sudah selesai? " tanya Airin ketika pelayan itu membawa masakannya keatas meja makan.


"Sudah nyonya. "


"Aku kekamar dulu. "


"Apa perlu saya bantu nyonya. " Pelayan itu menawarkan diri untuk menuntun Airin kembali kekamar.

__ADS_1


Airin yang merasa kakinya semakin sakit, akhirnya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan dari pelayan itu.


"Kau kenapa? " Evan yang baru datang dan melihat Airin dibantu seorang pelayan untuk berdiri.


"Tidak apa-apa, hanya luka kecil. " Airin enggan memberi tahu keadaan kakinya kepada Evan.


Namun ketika Airin hendak melewati dirinya yang masih berdiri tak jauh dari Airin mengarahkan pandangan matanya kebagian kaki Airin.


"Kenapa dengan kaki mu? " selidik Evan yang memang tidak tau hal tersebut.


Dengan otomatis mereka berdua berhenti didepan Evan.


"Aku tidak memperhatikan langkah ku dan menyebabkan kaki ku seperti ini. "


"Kau ini? " Evan mengambil alih untuk menahan tubuh Airin dari pelayan itu. "Cepat panggil dokter Adrian kemari! " perintah Evan kepada pelayan itu.


"Baik tuan. "


"Biar aku antar kekamar. " Seketika itu Airin merasa tubuhnya melayang diudara karena Evan menggendong tubuhnya menuju kamar. Tangan Airin bergerak dengan sendirinya melingkarkan kedua tangannya dibahu Evan.


Jarak yang begitu dekat dengan keduanya membuat Airin dengan leluasa menatap wajah Evan. Wajah yang yang sangat sempurna dimatanya. Rahang yang begitu tegas, bibir tebalnya, hidung mancung yang terpahat dengan begitu sempurna.


Airin membuang pandangan matanya ke sembarang arah, sudah dipastikan kini wajahnya merah merona menahan malu yang ketahuan sudah dengan berani menatap wajah tampan pria itu.


Tanpa terasa mereka berdua sudah berada didepan pintu kamar dan Evan mengisyaratkan agar dirinya membukakan pintu kamar.


Airin yang mengerti maksud dari Evan segera membuka pintu tersebut. Setelah berada didalam Evan kembali menutup pintu itu dengan sebelah kakinya.


"Kau jangan keluar dari kamar dulu untuk sementara ini! " Perintah Evan sambil menurunkan tubuh Airin diatas tempat tidur. Kemudian Evan mengangkat kedua kaki Airin keatas ranjang agar Airin merasa nyaman.


"Kenapa bisa sampai seperti ini? " Evan menyentuh pergelangan kaki kiri Airin yang membengkak itu.


"Aku tidak sengaja hampir terjatuh saat menuruni tangga tadi malam. " Tutur Airin mengatakan sejujurnya.


"Apa kata mu? " Evan sedikit terkejut mengetahui jika Airin mengalami itu tadi malam tanpa sepengetahuannya dan seketika itu ia teringat jika tadi malam salah satu pelayan bertanya kepadanya apa mereka sebaiknya mengantarkan makan malam untuk Airin.


Namun dengan tegasnya ia berkata Airin pasti akan turun untuk makan malam jika ia merasa lapar. Sedikit merasa bersalah akan hal tersebut yang berarti tadi malam Airin tidak mengisi perutnya dan menahan lapar.


"Kenapa tidak memberitahu ku? "

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Setidaknya aku harus tau maka tidak akan sampai seperti ini! " tegas Evan yang memang merasa kasihan kepada Airin.


Airin hanya diam saja namun didalam hatinya sedang bertanya-tanya dengan sikap Evan yang kadang terlihat sangat baik namun terkadang perkataan dari Evan membuatnya sakit hati.


"Aku bingung dengan sikap ku yang kadang berubah-ubah. " Gumam Airin didalam hati sambil terus menatap wajah Evan.


Evan pun menemani Airin didalam kamar sampai dokter Adrian tiba. Sesekali ia melihat jam tangannya. "Kenapa lama sekali? " Evan berkata sambil melihat kearah pintu.


"Kau pasti terburu-buru, pergilah! " suruh Airin kepada Evan yang mengira jika Evan seperti itu karena sudah hampir terlambat untuk berangkat kekantornya.


"Aku tidak sedang terburu-buru tapi aku kesal karna dokternya belum juga tiba sampai sekarang! " gerutu Evan.


Airin kembali terdiam, ia tidak bisa berkata-kata melihat Evan seperti sekarang ini membuat ia merasa sedikit senang, setidaknya dibalik kata-kata tajam yang sering keluar dari mulut Evan kepadanya ternyata masih ada rasa kepedulian dihati Evan untuk nya.


"Apa begitu sakit? "


"Lumayan. " Sahut Airin singkat.


"Pasti sakit bukan? " Evan menyentuh pergelangan kaki Airin dengan pelan agar wanita itu tidak merasa kesakitan dengan sentuhannya.


"Sudahlah, ini tidak sesakit yang kau bayangkan. Paling nanti juga akan sembuh sendiri. " Ucap Airin yang merasa Evan sedikit berlebihan namun entah kenapa hatinya justru senang dengan kekhawatiran Evan kepadanya.


Tiba-tiba saja pintu pintu kamar terbuka tanpa adanya ketukan terlebih dahulu. Menampilkan sosok dokter Adrian yang berdiri disana bersama dengan seorang pelayan yang mengantarkannya.


"Kau kenapa lagi ha? " sentak dokter Adrian sambil berjalan masuk kedalam kamar.


Seketika mata dokter Airin menangkap sosok seorang wanita yang baru pertama kali ia lihat.


"Siapa dia? " tanya dokter Adrian penuh selidik.


"Kau jangan banyak tanya, cepat periksa dan obati dia! " perintah Evan mendorong tubuh dokter Adrian mendekat kepada Airin.


"Apa ini ulah mu? " tuduhnya kepada Evan setelah melihat keadaan Airin dan kini ia menatap penuh selidik kepada Evan yang mengira jika itu adalah perbuatan Evan.


"Kau jangan banyak bicara, tunggu apa lagi sekarang cepat kau obati istri ku! "


"Apa, istri? "

__ADS_1


__ADS_2