MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM

MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM
Bab 35.


__ADS_3

Airin tidak bisa berkata apa-apa setelah Evan pergi meninggalkan dirinya diruangan itu, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis. Airin pun mengikuti Evan keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai sambil menundukkan kepalanya. Harapannya untuk keluar dari tempat yang seperti penjara baginya telah sirna.


"Kenapa hidup ini sungguh tidak adil bagi ku? " lirihnya tanpa memperhatikan langkah kakinya terus berjalan menuju kamarnya.


Sementara Evan kini berada di halaman belakang mansion, ia memikirkan permintaan Airin barusan. Namun keegoisan yang dimiliki Evan tidak bisa menerima apa pun itu termasuk memberikan kebebasan kepada wanita itu. Wanita yang akhir-akhir ini berada disisinya, walaupun belum ada perasaan cinta dihati Evan terhadap Airin namun rasanya ia tidak rela jika wanita itu berada diluar jangkauannya.


"Apa sebenarnya mau mu? kau ingin menghindar dari ku atau memang benar kau merasa tidak berguna hanya karna tidak melakukan apa pun disini? " Ucap Evan sambil menatap jauh kedepannya dengan tatapan kosong.


Keesokan harinya.


"Nyonya, ini ada sesuatu dari tuan. Tadi beliau meminta saya untuk memberikan ini kepada Anda. " Terang pelayan yang sengaja datang kekamar Airin untuk memberikan paper bag dari tuannya itu.


Tadi sebelum berangkat Evan menitipkan benda tersebut kepada pelayan setelah Hendri datang untuk menjemput tuannya sekaligus memberikan barang yang diminta oleh Evan kemarin kepadanya. Karena Airin tidak kunjung keluar dari kamar bahkan ia membiarkan Evan untuk sarapan sendiri.


Airin memutuskan untuk mengabaikan semua perintah dari pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu karena merasa kesal dan sebagai bentuk perlawanan darinya untuk Evan.


"Apa ini? " Airin yang tadi sedang memoles wajahnya dengan sedikit make up menerima barang tersebut dari pelayan itu.


"Saya kurang tau nyonya. " Ucap pelayan itu.


Airin membuka paper bag tersebut. "Ponsel? " Ucapnya begitu melihat isinya.


"Terima kasih, kau boleh pergi! " suruh Airin kepada pelayan itu.


"Permisi Nyonya. " Ucapnya kemudian keluar dari dalam kamar tersebut meninggalkan Airin.


Setelah membuka ponsel tersebut tak lama kemudian ada pesan masuk dari sebuah nomor yang tidak ia kenal.


"Ini untuk mu sebagai ganti dari ponsel mu yang lama. " isi pesan tersebut.


Airin tersenyum sinis setelah membaca pesan tersebut. "Apa ini sebagai permintaan maaf darinya karena telah merusak ponsel ku? " Airin tak membalas pesan tersebut, ia memilih sibuk mengotak-atik ponsel baru miliknya.

__ADS_1


Ponselnya yang lebih bagus dari ponsel miliknya sebelumnya. Sementara ditempat lain Evan sedang kesal karena pesan darinya tidak mendapat balasan dari Airin. "Dasar wanita itu, bisa-bisanya dia hanya membaca pesan dari ku tanpa membalasnya. Setidaknya ia harus berterima kasih bukan? " kesal Evan memasukkan kembali ponsel miliknya kedalam saku jasnya.


"Mungkin nona Airin sedang sibuk tuan. " Ucap Hendri menyahut dari kursi depan sambil mengemudikan mobil yang mereka tumpangi.


"Sibuk apanya? sudah jelas dia sedang tidak melakukan apa-apa, karena jika dia sedang sibuk bagaimana bisa dia membaca pesan dari ku? " Evan tidak terima dengan ucapan dari asistennya itu.


"Ya kan kita tidak tau tuan karna kita tidak melihat apa saja yang sedang dilakukan oleh nona Airin. " Hendri kembali membalas ucapan dari tuannya itu.


"Kau bisa diam tidak? " Kesal Evan karena sedari tadi asisten nya itu justru tidak memihak dirinya.


"Maaf tuan! " Ucap Hendri karena tidak ingin terkena amukan dari tuannya itu dan memilih untuk tidak lagi mengeluarkan suaranya dengan berbagai pertanyaan yang ada didalam hatinya melihat sedikit demi sedikit perubahan sikap dari tuannya itu kepada Airin.


"Aku rasa sudah ada sedikit perasaan anda untuk nona Airin tapi anda belum menyadari nya. " Gumam Hendri didalam hati tentunya sambil melirik tuannya yang berada di kursi penumpang melalui kaca yang ada didepannya.


Satu harian ini Evan terlihat tidak seperti biasanya, ia seperti sedang tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya seperti biasanya. Bahkan banyak pekerjaan yang ia tunda karena tidak bisa berkonsentrasi seperti biasanya.


"Ada apa tuan? apa anda sedang tidak enak badan? " cecar Hendri yang merasa khwatir melihat Evan yang sedikit gelisah.


"Apa anda ingin sesuatu? " kembali Hendre bertanya.


"Tidak! "


"Lantas kenapa tuan tidak seperti biasanya? apa ada masalah yang harus saya selesaikan? " Hendri masih terus berusaha mencari tau apa yang menjadi penyebab tuannya itu seperti saat ini.


Bukannya menjawab Evan malah mengambil ponselnya dan setelah melihat sekilas ia meletakkan kembali ponselnya diatas meja dengan sedikit kasar.


"Kenapa dia belum juga membalas pesan dari ku? " ucap Evan sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya.


"Ternyata hanya karena nona Airin tidak membalas pesan darinya membuat tuan seperti ini! " Gumam Hendri sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh tuannya barusan tadi.


"Kenapa kau hanya diam saja? " sentak Evan membuat Hendri terkejut karena ia sedang asik dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Saya harus apa tuan? " ucap Hendri yang membuat Evan merasa kesal kepadanya.


"Kau tanyakan kepada pelayan sedang apa dia sekarang sampai ia tidak membalas pesan dari ku! " perintah Evan dan dengan sigap Hendri menelpon pelayan mansion untuk menanyakan keberadaan Airin padahal bisa saja Evan melakukan itu sendiri tanpa harus merepotkan orang lain.


"Beliau sedang ada dikamarnya tuan. " Jelas Hendri begitu ia selesai bicara dengan pelayan mansion melalui sambungan ponselnya.


"Sedang apa dia didalam kamar? " tanya Evan dengan asal.


"Saya kurang tau tuan! " sahut Hendri yang memang tidak tau karena pelayan tersebut tidak memberikan informasi tentang apa yang sedang dilakukan oleh Airin.


"Kalian tidak becus hanya melakukan hal yang ku mau. " Kesal Evan dan pada akhirnya ia menghubungi Airin melalui ponsel miliknya.


"Coba dari tadi tuan menelponnya, tidak perlu harus uring-uringan dulu! " ucap Hendri tanpa sadar apa yang sudah ia katakan barusan.


"Kau mau mati? " sentak Evan menatap tajam asisten tersebut sudah berani berbicara seperti itu kepadanya.


"Tidak tuan! " sahut Hendri dengan cepat agar tidak terkena amukan dari tuannya yang sedang menunggu Airin untuk mengangkat telpon darinya.


"Sial! " Kesal Evan karena Airin tidak kunjung mengangkat telpon darinya.


"Sebenarnya sedang apa dia? pesan ku tidak dibalas olehnya dan sekarang panggilan dari ku juga tidak dijawab! " Gerutu Evan kesal.


Hendri yang tidak tau harus berkata apa terpaksa hanya bisa menghela nafasnya melihat sikap tuannya itu. Namun hal yang ia lakukan itu ternyata tak luput dari perhatian Evan.


"Kenapa? "


"Tidak ada tuan. " Terangnya sedikit kaku.


Didetik selanjutnya, suara dering ponsel Evan terdengar. Dengan cepat Evan meraih ponsel miliknya berharap jika Airin lah yang menghubungi dirinya.


Namun setelah melihat layar ponselnya ternyata bukan nama Airin yang tertera di layar ponsel itu membuat senyuman yang tadi merekah diwajahnya menghilang dengan begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2