MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM

MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM
Bab 7.


__ADS_3

Airin yang kesal dengan ejekan Cika memesan segelas minuman untuknya dan tak lama kemudian minuman itu pun datang, segera meneguk minuman beralkohol itu sampai habis dengan sekali teguk pada hal sebelumnya ia belum pernah sama sekali menimum minuman yang beralkohol.


Minuman yang ia pesan dengan mengatakan minuman apa saja karena ia tidak tau jenis minuman apa saja yang ada disana. Karna ia sadar tidak mungkin memesan minuman jus ditempat seperti itu.


Sisil yang awalnya membiarkan Airin mulai protes ketika Airin memesan kembali minuman untuknya. "Airin! "Sisil keheranan.


"Ada apa? "Airin merasa tidak ada yang salah dengannya. "Kau bisa mabuk! " cegah Sisil merebut gelas itu dari tangan Airin.


"Kau ini kenapa? " Airin merebut kembali gelas miliknya dari tangan Sisil dan meneguk minuman itu sampai habis.


Sisil pun hanya bisa menghela nafasnya ketika Airin tidak mau mendengarkan ucapannya.


Berselang beberapa menit kemudian Airin mulai berbicara tak jelas, Sisil yang tahu jika Airin sedang mabuk hendak mengajak temannya itu untuk pulang namun Airin bersikeras masih ingin berada ditempat itu.


"Kau tau? mereka mengejek ku tadi! dan parahnya lagi aku tidak bisa membalas ejekan mereka kepada ku. " Lirih Airin mengingat perkataan Cika dan teman-temannya yang membuat Airin kesal.


"Mereka seenaknya saja berkata seperti itu, apakah mereka tidak tau bagaimana perasaan ku saat ini? aku bahkan tidak tau bagaimana hidup ku besok dan bagaimana aku melewati semua ini. Dan wanita itu dengan kejamnya menuduh ku seperti itu tanpa bersimpati sedikit pun kepada ku. " Keluh Airin menundukkan kepalanya.


Sisil yang mengetahui perasaan Airin ikut merasa sedih dengan keadaan temannya itu. Sisil membiarkan Airin mengeluarkan semua keluh kesahnya. Dengan demikian Airin akan merasa sedikit lega dengan beban hidup nya saat ini.


Wanita itu berdiri dari tempat duduk nya ketika matanya menangkap sosok Evan yang sedang duduk sambil menatap kearah nya. Ternyata Evan sedari tadi memperhatikan wanita itu, begitu Airin dan Sisil masuk kedalam club itu. Ia sedikit penasaran kenapa wanita itu mengikutinya sampai ketempat seperti itu.


"Kau mau kemana? " Sisil menahan tangan Airin. "Aku ingin menghampiri pria itu! " Jawab Airin menunjuk kearah yang dimaksud olehnya.


"Tunggu! " cegah Airin. "Lepas! " Airin menghempaskan tangan Sisil dari tangannya dan meninggalkan Sisil begitu saja.


Dengan sedikit sempoyongan Airin menemui Evan dan ikut duduk disamping Evan dengan percaya diri. "Hai! " Sapa Airin sementara yang disapa hanya terlihat cuek.

__ADS_1


"Kenalin nama ku.. " Ucapan Airin terhenti ketika Evan memotong ucapannya. "Kau pergilah aku tidak tertarik dengan mu! " ketus Evan.


"Ck" Airin sungguh tidak percaya dengan penolakan pria. Seumur hidup baru kali ini Airin diperlakukan oleh pria sepeti itu.


"Ayolah kau tidak perlu bersikap sekasar itu. " Ujar Airin mengambil gelas minuman milik Evan yang ada dimeja dan meneguknya sampai habis.


Adrian menatap kearah Roni yang kebetulan baru tiba disana. Keduanya saling melemparkan tatapan bertanya namun Roni hanya mengangkat bahunya dengan santai.


Sisil pun menghampiri Airin yang sedang membuat para pria itu tidak merasa nyaman dengan kelakukan temannya itu.


"Ayo kita pulang! "Sisil berusaha menarik tangan Airin. "Maaf sudah membuat kalian terganggu! " Ucap Sisil kepada Evan dan teman-temannya.


"Aku masih mau disini. " Rengek Airin menolak ajakan Sisil dan berusaha untuk duduk kembali setelah Sisil menarik nya.


"Tidak bisa kau harus pulang Airin! " tegas Sisil kemudian memaksa Airin meninggalkan club tersebut.


"Entahlah! " Jawab Evan yang memang tidak mengenal Airin dan juga Sisil.


Kalau aku tidak salah wanita yang tadi itu sekampung dengan Putri adik ku. Dan tadi kalian dengarkan temannya menyebut namanya Airin.


"Setahu ku wanita itu baru saja ke hilang kedua orang tuanya sekali gus dalam sebuah kecelakan tapi kelakuannya sangat aneh bukannya bersedih malah pergi ketempat seperti ini. " Jelas Roni yang mengetahui sedikit tentang kehidupan Airin dari adiknya.


Roni yang hampir setiap hari mengantarkan adiknya kekampus mendengar cerita Putri yang memuji Airin adalah wanita baik dan ramah yang digilai banyak pria sehingga membuat wanita itu menjadi terkenal di kampusnya.


Namun sayangnya Roni berpikir jika Airin bukan wanita seperti yang didengarnya karena mereka bertemu malam ini di sebuah club dimana wanita baik-baik tidak akan pergi ketempat seperti itu ketika baru saja berkabung.


Dan beberapa detik kemudian Roni teringat jika Airin adalah anak dari sahabat orang tua Evan.

__ADS_1


"Oya Van, kau tidak mengenal nya? padahal dia itu adalah anak dari pak Prasetio sahabat dari bokap mu! " Terang Roni mengatakan kebenarannya.


"Benarkah? " Evan sedikit terkejut dengan penjelasan dari Roni yang mengetahui jika Airin adalah anak dari Prasetio orang yang menyebabkan orang tua Evan terbunuh.


Karena sampai detik ini Evan masih yakin jika Prasetio lah dalang dari tewasnya kedua orang tuanya tersebut.


"Bagus jika wanita itu adalah anak dari Prasetio jadi aku bisa membalaskan kematian orang tua ku kepadanya. " Gumam Evan dalam hati.


Diam-diam dia merencanakan balas dendam kepada wanita yang tidak tau apa pun tentang kematian orangtua Evan.


"Apa kau tidak mengenalnya? pada hal kedua orang tua kalian sangatlah dekat. " tanya Adrian kepada Evan yang merasa aneh jika keduanya tidak saling mengenal satu sama lainnya.


"Tidak! aku tidak mengenalnya. " Terang Evan yang memang tidak mengenal Airin secara langsung. Ia memang mengetahui jika Prasetio mempunyai seorang anak perempuan namun keduanya belum pernah bertemu sebelumnya.


Karena Prasetio tidak pernah mengenalkan Airin ke keluarga Evan. Evan hanya pernah bertemu sekali saja dengan ibu Lusi istri dari Prasetio itu pun bertemu tidak sengaja ketika Lusi pernah berkunjung ketempat kerja Prasetio pada waktu itu dan kebetulan Evan tengah berada diruangan Prasetio bersama dengan Paris orang tuanya.


Setelah keluar dari dalam club tersebut Evan segera kembali ke mansion milik keluarga Hamka sejenaknya berpikir cara yang akan ia lakukan untuk membalaskan dendamnya.


Kemudian Evan menghubungi seseorang dan memerintahkan mencari tau lebih banyak tentang Airin.


"Kau tunggu saja, aku pastikan kau akan menanggung perbuatan dari orang tua mu yang bajingan itu! " Terang Evan emosi setiap memikirkan kematian orang yang sangat ia cintai dalam hidupnya.


Terlihat jelas jika Evan tidak main-main dengan ucapannya. Niatnya untuk membuat wanita itu menderita sangat lah besar dan tidak akan ada yang bisa menghentikannya sebelum tujuannya tercapai yaitu balas dendam atas kematian orang tua nya.


Padahal orang yang ia percayai telah menewaskan orang taunya telah tiada dan memilih Airin untuk menjadi sasaran kemarahannya.


Bersambung!

__ADS_1


Like, vote dan comentnya dong para pembaca setia ku.


__ADS_2