
"Bagaimana? " Evan berbicara dengan seseorang melalui ponsel miliknya. Yang tak lain adalah pelayan di mansion memberi tahu jika tugas yang diperintahkan oleh Evan sudah ia lakukan yaitu memastikan Airin sudah sarapan dan sekarang sedang beristirahat didalam kamarnya.
"Ada apa tuan? apa ada masalah di mansion? " tanya Hendri yang baru saja masuk kedalam ruangan tuannya itu begitu Evan sudah selesai berbicara dan mematikan sambungan ponselnya.
"Airin terluka. " Jawab Evan singkat dan kembali duduk dikursi kebesarannya sementara Hendri masih berdiri di sampingnya.
"Terluka? "
"Ck, kau tak perlu berlebihan begitu, dia hanya terkilir dan sebentar juga akan baikan. " Evan berkata tanpa melihat lawan bicaranya.
"Oh, begitu! "
"Kau tau, wanita itu berbicara aneh kemarin. Dia mencurigai paman Pandu atas kepergian kedua orang tua ku. " Terang Evan menghentikan kegiatannya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.
"Kenapa tiba-tiba nona Airin berkata seperti itu? apa beliau mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain? " Hendri malah bertanya setelah mendengar apa yang disampaikan oleh tuannya itu.
"Entah lah tapi rasanya itu tidak mungkin bukan? " Evan menoleh kearah samping dimana Hendri berada.
"Tidak ada salahnya tuan untuk mempercayai ucapan nona Airin. "
"Kau ini bagaimana? itu sama saja membuat paman Pandu tidak akan nyaman nantinya! "
"Tentu saja anda menyelidiki beliau tanpa sepengetahuan darinya. "
"Kau benar, tapi entah kenapa aku merasa hal itu tidak perlu. Apa kau lupa? jika paman Pandulah yang selalu mendukung papa didalam keadaan apapun. " Evan menghela nafas nya setelah mengatakan hal tersebut.
"Tuan, jangan lupa musuh juga bisa bersembunyi dibalik hubungan dekat. " Seolah Hendri sedang berada di pihak Airin kali ini. Karna baginya tidak mungkin juga jika orang tua Airin sebagai pelakunya. Namun juga tidak menuduh Pandu terlibat dalam kasus tersebut. Ia hanya ingin tuannya itu mengikuti apa yang sudah dikatakan oleh wanita itu, wanita yang sudah menjadi istri dari tuannya.
Siapa tau ada hasil dari ucapannya karna tidak mungkin wanita itu berkata seperti itu jika tidak ada sebab dan alasan yang kuat untuk berbicara demikian.
__ADS_1
"Entahlah, kita lihat saja nanti! " putus Evan menyudahi pembicaraan mereka dan beralih membahas masalah pekerjaan.
"Tuan, saya sudah menyelidiki siapa laki-laki yang bersama dengan nona Airin pada waktu itu. " Ucap Hendri di sela-sela pembicaraan mereka.
Evan seketika menghentikan pekerjaannya dan mendongakkan wajahnya kepada Hendri sebagai pertanda ia sedang ingin mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh asisten nya itu. Karena memang Evan memberikan perintah kepadanya pada waktu itu agar mencari tau siapa laki-laki yang bersama dengan Airin itu.
Bukan karena cemburu tapi ia merasa perlu untuk mengetahui siapa orang itu dan ada hubungan apa mereka berdua.
Pria yang bersama dengan nona waktu itu adalah teman satu kampus nona Airin dan menurut informasi yang saya dapat jika dia sudah lama mengejar nona Airin tapi seperti nya nona Airin tidak menanggapi perasaan dari pria yang bernama Alvaro Adijaya itu.
"Adijaya? " Evan merasa tidak asing dengan nama belakang Alvaro tersebut.
"Bukankah? "
"Benar tuan. Beliau adalah anak dari pengusaha Adijaya salah satu rekan bisnis perusahaan anda. " Jelas Hendri kepada tuannya tersebut.
"Nona Airin memutuskan untuk cuti dari kuliahnya dalam jangka waktu yang belum ia tentukan sampai kapan. " Tambah Hendri lagi mengatakan semua informasi yang ia dapatkan.
"Kenapa? " Tanya Evan penasaran.
Untuk hal itu saya kurang tau tuan karena pihak kampus tempat nona Airin menimba ilmu tidak mengatakan alasan mengapa nona Airin mengambil cuti.
Evan pun menganggukkan kepalanya setelah mendengar semua penjelasan dari Hendri dan setelah itu ia meminta agar Hendri keluar dari ruangannya karna masih banyak pekerjaan yang harus asisten nya itu kerjakan.
"Kenapa dia mengambil cuti? " Evan bertanya sendiri pada dirinya sendiri setelah kepergian Hendri tak terlihat dibalik pintu. Dibalik sikap dinginya kepada Airin ternyata dia masih memikirkan wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
Istri yang didapat nya dengan niat tertentu dan tanpa perasaan cinta sedikit pun. Walaupun awalnya Evan menikahi wanita itu untuk membalaskan dendamnya dan ingin menghancurkan hidup wanita itu tapi pada kenyataannya Evan tidak bisa melakukan hal tersebut karena ia memang bukan orang yang tidak punya hati nurani.
Karena memang pada dasarnya ia adalah orang baik dan penyayang. Dan juga keluarganya selalu mendidiknya dengan baik. Mungkin hal itu juga yang membuat dirinya tidak sampai hati menyakiti Airin sesuai dengan rencana awal.
__ADS_1
Selain itu juga ia tau, jika ia tidak berada dijalan yang benar karena tidak terbukti jika Prasetio lah dalang dari kejadian tragis yang membuat dirinya harus kehilangan orang yang sangat berarti baginya.
Ternyata pengaruh perkataan Hendri pada waktu itu sangat berdampak besar. Dimana Hendri mencoba memberikan pandangan kepadanya dimana Airin tidaklah orang yang bersalah dan tidak seharusnya ia menerima perlakukan buruk dari Evan.
Evan tau betul jika tindakan gegabah nya ternyata salah, menjadikan Airin sebagai istrinya dan sekarang ia malah terjebak sendiri dengan permainan yang di ciptakan olehnya sendiri.
Tiba-tiba lamunan Evan buyar ketika pintu ruangan nya terbuka dan menampilkan wanita yang berpakaian seksi dibalik pintu.
"Evan... "
Wanita itu berjalan memasuki ruangan itu dengan senyuman yang merekah di wajahnya. Berbeda dengan Evan yang kini terlihat kesal dimana wanita itu selalu saja bersikap sesuka hatinya.
"Sudah berapa kali aku katakan, ketuk pintu sebelum kau masuk kedalam ruangan ku! " Ucap Evan dengan tegas namun tampaknya wanita itu tidak terpengaruh dengan ucapan Evan barusan.
Wanita itu malah menghampiri Evan dengan cueknya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku merindukan mu! " Cleo berbicara ditelinga Evan dengan membungkukkan badannya.
"Ck, kau itu berlebihan! "Evan tentu saja tidak mempercayai ucapan dari wanita itu. Pasalnya setiap hari Cleo datang mengunjungi dirinya ke kantor Evan. Walaupun Evan sudah menolak dengan tegas tetap saja Cleo bersikeras menemui Evan.
"Cleo, kau pergi lah, aku sibuk! " Sentak Evan.
"Aku tidak mau! " Cleo membantah perintah Evan dan kini ia malah duduk disofa yang ada didalam ruangan itu.
"Kau mau keluar secara baik-baik atau aku akan panggil Hendri untuk membawa mu keluar? "
Sontak saja membuat Cleo tidak bisa berbuat apa-apa selain keluar dengan sendiri dari pada harus berurusan dengan Hendri yang menyebalkan itu.
Dengan menghentakkan kakinya, Cleo keluar dari ruangan Evan dengan rasa kesal. Sementara Evan tersenyum karena berhasil membuat wanita itu keluar dengan sendirinya.
__ADS_1