MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM

MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM
Bab 41.


__ADS_3

"Bisa kau jelaskan ada apa ini? " suara datar Evan selepas kepergian Pandu bersama dengan pihak yang berwajib dan meningkatkan mereka berdua didalam ruangan itu.


"Maaf tuan, aku hanya ingin kebenarannya terungkap dan tidak menjadikan yang tidak bersalah menanggung akibatnya. " Ucap Hendri. Tentu saja perkataan yang baru saja didengar oleh Evan, sudah bisa dipahami olehnya jika Hendri yang berperan dalam penangkapan Pandu barusan.


"Ck, ternyata kau masih saja misterius seperti dulu. " Ucap Evan kepada Hendri yang memang asistennya itu selalu saja bertindak cepat dalam hal apa pun itu. Dan bahkan ia melakukan apa yang harus ia lakukan tanpa menunggu dari tuannya itu yang terkesan lambat.


Langkah kaki wanita yang berparas seksi berjalan memasuki gedung yang menjulang tinggi yang tak lain adalah perusahaan Hamka. Wanita itu berjalan dengan begitu cepat tanpa melihat kearah lain dimana semua orang sedang menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.


Wanita itu yang tak lain adalah Cleo, ia mendatangi Evan atas penangkapan Pandu. Membuka pintu ruangan Evan tanpa permisi seperti biasanya.


"Evan... " Panggilnya begitu pintu itu terbuka menampilkan Evan yang sedang bersama dengan asistennya yang menjengkelkan dimata Cleo.


"Kau selalu saja datang dengan kebiasaan mu itu. " Kesal Evan melirik Cleo sejenak kemudian ia kembali dengan pekerjaannya.


"Evan.. Papa ku ditangkap tapi kau kenapa tidak membantunya? " tanya Cleo menahan amarahnya.


"Kenapa aku harus membantunya? " Evan menghentikan pekerjaannya dan kini menatap wajah Cleo dengan intens.


"Kau pasti tau kan? jika tidak mungkin papa ku melakukan hal yang dituduhkan kepadanya! "


"Biarkan pihak yang berwajib mengurus hal itu. " Terang Evan membuat Cleo tidak terima.


"Tidak bisa seperti ini Evan! papa ku susah banyak membantu diperusahaan ini. Setidaknya inilah saatnya kau membalas kebaikannya selama ini. " Ucap Cleo kesal menahan sesak didadanya dengan ucapan Evan yang terkesan cuek.

__ADS_1


"Maaf nona Cleo, tuan Evan tidak bisa berbuat apa-apa jika pihak yang berwajib memiliki bukti yang kuat. Dan anda harus tau jika dalam kasus ini tuan Evan adalah anak dari korban. Jadi sudah bisa dipastikan jika tuan Evan akan mendukung pihak yang berwajib sampai masalah ini tuntas. " Kali ini Hendri yang berbicara memberikan penjelasan kepada wanita itu.


"Diam kau! aku tidak berbicara dengan mu. " Teriak Cleo kepada Hendri. Sementara yang diteriaki hanya bisa menghela nafasnya panjang dengan sikap arogan wanita yang ada dihadapannya itu.


"jika sudah tidak ada lagi yang kau bicarakan keluarlah! " suruh Evan ditengah perdebatan keduanya itu. Kini Cleo beralih manatap kepada Evan.


"Kau itu tidak punya hati apa? "lihat saja nanti, kau akan menyesali telah membiarkan papa ku terkena masalah padahal ia tidak terlibat sama sekali. "


"Hen... "


"Ia tuan. " Sahut Hendri dan tanpa mengatakan apa pun lagi Hendri sudah tau apa yang harus ia lakukan yaitu membawa wanita itu keluar dari ruang tuannya itu.


"Silahkan keluar nona Cleo, tuan Evan sangat sibuk saat ini. " Ucapnya menunjuk pintu keluar mengarahkan kepada wanita itu.


"Kau! " sorot mata Cleo sangat terlihat jika ia sedang menahan amarahnya dan tidak terima dengan perlakukan Evan dan juga asistennya itu.


"Tunggu! " bukannya berjalan kearah pintu wanita itu justru berjalan mendekati Evan yang masih berada di meja kerjanya itu.


"Apa yang sebenarnya kau rencanakan? apa ini cara mu untuk membuang orang yang sudah membantu keluarga Hamka selama ini? " Perkataan Cleo membuat Evan menghentikan pekerjaannya dan kini keduanya saling bertatapan satu sama lain.


"Apa kau sadar dengan apa yang kau bicarakan itu? " Bukannya menjawab pertanyaan dari Cleo justru Evan menjawab dengan sebuah pertanyaan juga.


"Ck, Kau pikir aku ini tidak waras apa? " Cleo masih tidak memutus kontak mata dengan Evan.

__ADS_1


"Kau terkesan hampir menuju dengan yang kau bicarakan barusan. " Ejek Evan membuat wanita itu sangat marah dari sebelumnya.


"Hentikan omong kosongnya mu itu Evan! aku datang kesini bukan untuk mendengar ejekan mu itu. Setidaknya kau punya rasa kasihan kepada orang yang sudah berjasa dalam kemajuan perusahaan Hamka hingga sampai saat ini. " Ucap Cleo panjang lebar.


"Aku tau apa yang harus aku lakukan dan kau tidak perlu mengajari ku dalam hal apa pun itu. " Tegas Evan masih mencoba berbicara dengan nada biasanya saja.


"Benarkah? kalau begitu kau pasti akan membebaskan papa ku?" Cleo seperti mendapat setitik harapan jika Evan akan mengurus semuanya.


"Aku tidak berkata demikian. Kau tau betul jika tidak ada bukti yang mengarah kepada orang tua mu maka tidak mungkin pihak berwajib membawanya. " Jelas Evan lagi.


Pupus sudah harapan Cleo yang sempat berpikir jika Evan akan membantunya untuk membebaskan Pandu orang tuanya dari jerat hukum.


"Kau tau betul jika papa ku adalah sahabat baik dari mendiang paman Paris." Wanita itu ternyata belum menyerah dan masih mencoba membujuk Evan agar mau membantunya, dan kali ini ia sudah tidak bisa bersikap tenang lagi. Terlihat jelas wanita itu sedang gusar menantikan Evan berbicara apa kali ini.


"Aku tau Cleo tapi persahabatan tidak bisa menjamin apa pun jika dia tidak terlibat dalam kasus ini. Maaf jika aku harus berkata demikian tapi aku harap kau tidak lagi meminta ku untuk membantunya karena aku tidak akan melakukan hal itu selama barang bukti mengarah kepadanya." Turut Evan berharap agar Cleo mau mengerti dengan apa yang ia katakan.


Kini wanita yang sedari tadi berdiri dihadapannya itu mulai meneteskan air matanya. "Kau sungguh tega Evan! " Ucap Cleo sambil terisak dan tangannya begerak menyeka air matanya.


Melihat hal itu Evan menarik nafasnya panjang, walaupun merasa kasihan terhadap Cleo namun ia tidak akan menuruti keinginan wanita itu karena baginya yang bersalah harus tetap menerima hukuman atas perbuatannya terlebih lagi yang menjadi korban adalah orang tuanya sendiri yang sudah membesarkannya.


Hendri yang selalu peka akan tuannya itu mulai mendekati Cleo dan membawa wanita itu menjauh dari hadapan Evan menuju pintu keluar ruangan Evan.


"Nona Cleo, saya harap anda dapat menerima kenyataan jika pak Pandu terlibat. Dan saya berani jamin jika beliau tidak terlibat maka saya sendiri yang akan berbicara dengan tuan Evan agar membebaskan pak Pandu. " Ucap Hendri sambil menuntun wanita itu.

__ADS_1


"Diam kau! " Kesal Cleo sambil menghempaskan tangan Hendri menjauh darinya.


Cleo pun pergi begitu saja tanpa menghiraukan ucapan Hendri sementara Hendri hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Cleo yang sedari dulu tak pernah berubah selalu saja bersikap kasar kepada semua orang.


__ADS_2