MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM

MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM
Bab 8.


__ADS_3

Tok tok


Ketukan pintu ruang kerja Evan. Dan yang ternyata Adalah asisten pribadinya Hendri yang dulu nya bekerja sebagai asisten pak Paris. Ketika Paris meninggal maka Evan lah yang menggantikan posisi Paris sebagai pemilik perusahaan.


"Ada apa? " tanya Evan begitu Hendri memasuki ruangannya.


"Tuan, aku ingin menyampaikan informasi tentang nona Airin yang Anda maksud memang benar adalah putri dari pak Prasetio dan ibu Lusi. Dan menurut informasi nya jika nona Airin adalah anak tunggal beliau dan sekarang tinggal dirumah peninggalan pak Prasetio hanya sendiri saja." Jelas Hendri yang memang ditugaskan oleh Evan mencari tau tentang Airin.


"Baiklah kau boleh pergi! " Suruh Evan kepada Hendri setelah mengetahui kebenarannya.


"Tunggulah sebentar jika waktunya sudah tiba,maka kau akan merasakan hidup menderita sampai kau menyerah dan menyusul kedua orang tua mu. " Seringai disudut bibir Evan.


Evan sudah tidak sabar untuk menjalankan rencana liciknya. Sore ini sepulang dari kantor Evan akan mendatangi Airin ditempat tinggalnya.


"Kita sudah sampai tuan. " Hendri membukakan pintu mobil untuk tuannya itu. Evan manatap rumah yang menjadi tempat tinggal Airin. Rumah yang Jauh berbeda dengan mansion keluarga Hamka. Kemudian ia berjalan masuk melewati pagar depan rumah yang memang kebetulan tidak di kunci.


Mendengar ketukan pintu, Airin segera berlari membuka pintu karena mengira Sisil yang datang karena ia memang sedang menunggu kedatangan temannya itu dan begitu ia membuka pintu ia dikagetkan dengan keberadaan Evan yang berdiri tepat di depannya.


"Siapa..? " Airin yang terkejut tidak dapat meneruskan kalimatnya. Sejenak ia terhipnotis dengan wajah tampan Evan yang beberapa hari ini merasuki pikirannya.


Ehem..


Evan berdehem menyadarkan Airin dari tatapannya kepada Evan.


"Cari siapa? " tanya Airin gugup pasalnya dia tidak tau maksud kedatangan Evan ketempatnya.


"Sebaiknya kita berbicara didalam! " Ucap Evan masuk begitu saja yang kemudian di ikuti oleh Hendri dari belakang.


Airin bingung tapi hanya bisa mengikuti keduanya menuju sofa yang ada diruang tamu. Tanpa dipersilahkan duduk Evan segera duduk di atas sofa.


"Maaf kalian siapa dan apa maksud kedatangan kalian kemari? " tanya Airin melihat kearah Evan dan Hendri secara bergantian.


"Apa kau tidak mengenal ku? " selidik Evan.


"Aku tidak mengenal mu tapi kita pernah beberapa kali bertemu. " Terang Airin.

__ADS_1


"Lebih tepatnya kau menggoda ku pada waktu itu! " Ucap Evan dengan suara datar.


"Apa? " Airin bingung karna merasa tidak seperti yang dikatakan oleh Evan. "Kapan aku merayunya? " gumam Airin dalam hati.


Airin tidak pernah merasa menggoda Evan karena pada saat itu Airin dalam keadaan mabuk.


"Sudahlah sekarang itu tidaklah penting! " kata Evan kemudian beralih menatap Hendri dan dengan tatapan itu Hendri sudah tau maksud dari tuannya itu.


"Begini nona Airin, maksud kedatangan kami kesini ingin memberi tau anda tentang wasiat dari ayah nona dan juga pak Paris orangtua dari tuan Evan. " Jelas Hendri.


"Wasiat? " Seru Airin kegirangan ia mengira jika mendapat sesuatu sepeninggalan orangtua nya.


"Ia nona! dan isi wasiat tersebut adalah menyatakan jika nona akan menikah dengan tuan Evan. " Jelas Hendri lagi.


"Menikah? " Airin tak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Hendri.


"Benar nona! "


"Tapi bagaimana bisa aku menikah dengannya? " tanya Airin lagi.


"Tidak bisa seperti itu! " Protes Airin meskipun dalam hatinya ia kegirangan namun tetap saja ia tidak mau terburu-buru menikah apa lagi ia belum mengenal Evan.


"Kau tidak ada pilihan lain selain mengikuti isi dari wasiat itu! " Tegas Evan.


"Apa kau sebegitu ingin menikahi ku? sehingga harus lusa memaksakan pernikahan kita? " cecar Airin sedikit terdengar terlalu kepedean.


"Kau jangan senang seperti itu! aku menikahi mu bukan karena aku menyukai mu tapi itu semua aku lakukan demi kedua orang tua ku. " Terang Evan menekan setiap ucapannya.


"Apa kalian bisa dipercaya? "Selidik Airin menatap keduanya secara bergantian.


"Tentu nona Airin ini adalah surat wasiat yang telah dipersiapkan oleh kedua orang tua kalian jauh hari sebelumnya. " Jelas Hendri meyakinkan Airin.


"Tapi orang tua ku tidak pernah mengatakan apa pun kepada ku demikian juga pak Paris. Terakhir bertemu dengannya pun beliau tidak mengatakan apa-apa. Jika memang mereka merencanakan ini jauh hari sebelumnya pasti orang tua kami akan mengenalkan kami bukan? " Airin penuh tanda tanya dengan semua kebenaran yang baru saja ia tahu.


"Kau meragukan surat wasiat itu? " Evan dengan suara datar dan tatapan mata yang sulit untuk diartikan.

__ADS_1


"Bukan begitu! " sahut Airin.


"Coba kau pikir! untuk apa aku menikah dengan wanita yang tidak aku cintai? tapi demi kedua orang tua ku, aku rela melakukannya. Karna hanya dengan begitu aku membalas kebaikan orang yang sudah membesarkan. " Jelas Evan.


Sungguh Evan pintar memainkan perannya. Demi sebuah balas dendam ia sampai rela berbuat sejauh itu.


"Baiklah jika kau memaksa, maka aku juga akan melakukan keinginan orang tua ku dengan senang hati. " Jawab Airin.


"Bagus! " Evan merasa puas sebentar lagi rencananya. akan berhasil. Evan memang sengaja merekayasa semua itu demi mencapai tujuannya.


Tanpa ragu ia memilih menikahi Airin hanya untuk membalaskan dendamnya kepada wanita yang tidak tau apa-apa tentang kematian orang tuanya.


"Lusa akan ada orang yang menjemput mu! aku harap kau tidak merusak acara pernikahan kita dengan cara melarikan diri! " pinta Evan.


"Kau tenang saja aku tidak akan kabur. Mana mungkin aku kabur dihari pernikahan ku jika calon suami saja setampan ini! " Puji Airin namun tidak membuat Evan bereaksi apa-apa.


Evan pergi meninggalkan Airin tanpa menanggapi ucapan Airin. "Kalau begitu kami permisi dulu nona. " Pamit Hendri sebelum menyusul tuannya itu keluar dari rumah Airin.


"Ya ampun pria itu? siapa tadi namabya? Evan, ya namanya Evan. tidak kusangka akan menikah dengannya tapi sayang sepertinya pria itu sangat dingin dan kaku. Apa ia aku akan menikah scepat ini? " Pikir Airin.


"Kau siapkan semua sesuai dengan perintah ku! " Suruh Evan kepada Hendri begitu keduanya masuk kedalam mobil.


"Baik tuan! tapi apa anda serius akan menikahi nona Airin? " selidik Hendri melirik tuannya itu dari kaca spion mobil yang ada di depannya.


"Tentu saja bahkan aku sudah tidak sabar untuk membalaskan dendam ku! " Sahut Evan.


"Tapi tuan nona Airin tidak bersalah dalam hal ini. " Peringat Hendri.


"Kau tidak perlu mengajari ku tentang ini! " ketus Evan.


"Maaf tuan! " ucap Hendri tidak lagi berani berbicara setelah itu. Dengan segera melajukan mobil tersebut meninggalkan tempat tinggal Airin.


Bersambung!


Minta dukungannya dong buat author, like, vote dan comentnya juga supaya author nya lebih semangat lagi melanjutkan cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2