MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM

MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM
Bab 22.


__ADS_3

Setelah mendapat informasi dari Hendri tentang Pandu dan Cleo, Airin kini tau jika Pandu adalah salah satu orang kepercayaan Paris sekaligus sahabat dari Paris mertuanya dan Cleo merupakan putri dari Pandu yang sudah lama tergila-gila kepada Evan.


Dan kini Airin juga mengetahui jika Pandu kurang menyukai ayahnya Prasetio karena merasa tersaingi dengan kedekatan antara Paris dan juga Prasetio. Entah kenapa Airin merasa harus mencari tau lebih banyak lagi tentang Pandu mengingat dimana Airin mendengar sendiri ucapan Pandu pada waktu itu.


Dimana Pandu menegaskan kepada Cleo harus berusaha lebih keras lagi untuk mendekati Evan bahkan Prasetio sudah tiada pun tetap saja Pandu belum mendapatkan keinginannya.


Hari ini Airin memutuskan mendatangi perusahaan Evan untuk kedua kalinya ia menginjakkan kakinya diperusahaan yang bergerak dalam bidang telekomunikasi, informasi dan teknologi tersebut.


Airin datang dan disambut oleh Hendri karena Airin memberitahukan kepada Hendri jika ia berada di lobi perusahaan dan dengan cepat Hendri datang dan membawanya menuju ruangan Evan dilantai sepuluh.


Dan ternyata didalam ruangan itu ada Cleo juga sudah lebih dulu berada disana bersama Evan. Entah apa sedang dilakukan oleh wanita itu disana. Cleo duduk disofa yang ada didalam ruangan Evan sementara Evan duduk di kursi kerjanya sambil memeriksa beberapa berkas diatas mejanya.


"Maaf tuan nona Airin datang. " Terang Hendri begitu membuka pintu ruangan tuannya.


Cleo dan Evan serentak menoleh kearah pintu dimana Hendri dan Airin masih berdiri dibelakang nya.


"Silahkan nona! " Hendri mempersilahkan Airin untuk masuk.


Airin menganggukkan kepalanya kemudian melewati Hendri berjalan menuju sofa dimana ada Cleo disana tengah menatap tidak suka atas kedatangan Airin didalam hati nya ia bertanya-tanya siapa wanita yang baru saja datang bersama dengan Hendri tersebut.


"Duduklah nona! " Hendri mempersilahkan dirinya untuk duduk bersama dengan Cleo. Sementara Evan hanya memperhatikan dirinya dari meja kebesarannya itu tanpa berkata sepatah kata apapun.


"Siapa dia? " Cleo menatap Evan dan Hendri secara bergantian sambil menunggu jawaban atas pertanyaan tersebut.


Namun kelihatannya Evan enggan untuk menjawab pertanyaan dari Cleo, ia memotong ucapan Hendri yang hendak mengatakan siapa Airin sebenarnya nya.


"Ada apa kau datang kemari? " Evan menatap Airin.


"Tidak ada aku hanya merasa bosan. " Airin membalas tatapan mata Evan.

__ADS_1


Cleo menatap kepada Airin dan Evan secara bergantian. Didalam hatinya ia bertanya-tanya ada hubungan apa Evan dengan wanita yang ada didepannya itu. Wanita yang berpenampilan biasa saja dibanding dengan penampilan Cleo yang selalu tampil dengan pakaian seksinya.


"Cleo kau keluarlah! " suruh Evan tanpa melihat kepada Cleo.


"Kau belum memberitahu ku siapa wanita ini? " Cleo masih penasaran rupanya siapa wanita itu. Wanita yang terlihat jelas Hendri memperlakukannya berbeda dengan dirinya. Dimana Hendri selalu saja mengacuhkan dirinya.


"Kenapa? apa aku harus memberitahukan mu siapa dia? " cecar Evan mengangkat wajahnya menghadap kepada Cleo.


Sementara Airin hanya bisa menundukkan kepalanya merasa jika Evan enggan untuk mengakui dirinya sebagai istrinya. Airin berusaha tidak terlalu memikirkan akan hal itu karna bagaimana pun Airin sadar tidak ada cinta untuk dirinya dihati Evan.


Rupanya Cleo tidak menyerah begitu saja, jika Evan tidak mau memberi tahunya maka ia akan bertanya langsung kepada orang yang sedang duduk bersamanya itu.


"Hai, aku Cleo. " wanita itu mengulurkan tangannya kepada Airin dan Airin pun menerima uluran tangan dari Cleo. "Airin. " Ucapnya singkat memperkenalkan dirinya.


"Senang berkenalan dengan mu. " Cleo memaksakan senyumannya padahal didalam hatinya ia tidak suka jika ada wanita lain yang dekat dengan Evan. "Aku baru melihat mu... " Cleo kembali ingin bertanya namun dengan cepat Evan memotong ucapannya.


"Sebentar lagi aku baca rapat, sebaiknya kau pulanglah Cleo. " Ucap Evan sambil melirik jam tangannya. Evan berusaha bersikap baik kepada Cleo yang sedari tadi terus mengganggu dirinya bahkan wanita itu rela menghabiskan waktunya hanya dengan duduk sambil menunggu Evan untuk meluangkan waktunya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Tapi aku.. "


"Nona Cleo tolong pengertiannya! " potong Hendri membuat Cleo menatap tidak suka kepada pria itu yang selalu saja menyebalkan itu.


Dengan perasaan kesal Cleo pun bangkit berdiri sambil mengambil tas miliknya. "Minggir! " Cleo sengaja menabrakkan bahunya kelengan Hendri yang masih berdiri sedari tadi.


Hendri mengabaikan perlakuan Cleo kepadanya karena ia sudah terbiasa dengan sikap kasar Cleo kepadanya. Ia tau betul wanita itu tidak menyukai dirinya demikian juga halnya dengannya yang tidak pernah menyukai Cleo karena sikapnya yang selalu berbuat semaunya tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Cleo menutup pintu ruangan Evan dengan kasar sehingga orang yang berada diruangan itu terkejut dan melihat kearah pintu secara bersamaan.


"Dasar wanita itu! " Kesal Hendri mengumpati kelakuan Cleo yang menjadikan pintu untuk meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


"Kau antar di pulang sekarang! " suruh Evan tanpa mengalihkan pandangan matanya kepada benda pipih yang ada ditangannya.


"Siapa? nona Cleo? " Hendri mengira jika ucapan Evan baru saja untuk Cleo.


"Siapa lagi jika bukan dia! " tunjuk Evan kepada Airin melalui tatapan matanya.


"Maaf tuan, sepertinya waktunya tidak cukup jika aku harus mengantarkan nona Airin pulang sementara sebentar lagi kita ada rapat bersama dewan direksi. " Hendri berkata sejujurnya.


"Kau ini! " Evan merasa kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Hendri namun itu semua ada benarnya juga.


"Lagian nona baru saja tiba biarlah ia tinggal lebih lama. " Terang Hendri. Entah apa yang sedang ia pikirkan yang jelas ia sangat mendukung jika tuannya dan Airin lebih dekat satu sama lain.


"Siapkan berkasnya sekarang! " Evan mengalihkan pembicaraan diantara mereka.


"Baik tuan! " ucapnya.


"Nona Airin saya tinggal dulu. " Pamit Hendri kepada Airin sementara Airin hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat kearah Hendri yang sudah berjalan menuju pintu.


Setelah Hendri kekuar dari ruangan itu, suasana berubah menjadi canggung. Tidak ada obrolan diantara keduanya. Evan memilih untuk sibuk dengan beberapa dokumen diatas mejanya sambil sesekali melirik kepada Airin secara diam-diam.


Sementara Airin hanya diam tanpa melakukan apa pun. Jujur ia merasa bosan berada dalam situasi seperti itu tapi apa boleh buat, ia sudah terlanjur berada disana dan sebelumnya ia tidak memikirkan jika hal semacam itu akan terjadi.


Evan bangkit dari dari duduknya setelah melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya terlebih dahulu.


"Kau mau kemana? " secara spontan Airin bertanya.


"Kau pikir aku mau kemana lagi kalau bukan mau mengikuti rapat? " ketus Evan.


Merasa tidak enak dengan jawaban dari Evan, Airin memilih untuk diam sambil menatap kepergian Evan dan tinggallah ia sendiri didalam ruangan itu.

__ADS_1


"Hup.. Aku ditinggal begitu saja, sekarang apa yang harus aku lakukan? " keluh Airin.


Hai, hai... Jangan lupa dukungannya ya! like, vote dan juga comentnya.


__ADS_2