
"Kau kemarilah! " suara datar Evan memerintah Airin yang baru saja masuki kamar.
"Ada apa? " Airin mendekat kepada Evan yang baru saja selesai dengan makan malamnya.
"Aku tidak mau tau, mulai besok kau harus belajar menyiapkan semua kebutuhan ku dari mulai membuatkan makanan untuk ku dan semua kebutuhan lainnya. Aku tidak ingin melihat mu hanya bersantai. " Tegas Evan.
"Aku ini istri mu, bukan kah begitu banyak pelayan yang bisa melakukan semua itu? " Kilah Airin tidak ingin Evan menindas dirinya.
"Ck, kau pikir aku menganggap mu sebagai istri ku ha? " pekik Evan tersenyum getir.
"Terserah kau beranggapan apa pun tentang aku, tapi aku tidak akan tinggal diam kau memperlakukan aku sesuka hati mu tuan Evan Hamka yang terhormat. Aku tau kau menikahi ku untuk balas dendam. Tapi kau pikir aku akan menerima semua perlakuan mu kepada ku? jika kau beranggapan demikian maka kau salah besar. " Ucap Airin tidak takut kepada Evan.
"Kau berani menentang ku? " Suara Evan yang begitu berat terasa menakutkan di telinga Airin namun ia berusaha bersikap berani didepan Evan.
"Aku pastikan akan membuat mu jatuh cinta kepada ku dan melupakan balas dendam mu yang tidak berdasar itu! " terang Airin memberanikan diri.
"Ha ha..
Ternyata selain bodoh kau juga terlalu percaya diri! " Evan mentertawakan ucapan Airin yang sangat mustahil baginya.
"Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang pada akhirnya aku atau kau! " Ucap Airin lagi.
Wanita itu ternyata tidak lemah seperti dugaan Evan, dimana ia mengira wanita itu hanya akan pasrah dengan setiap perbuatan Evan kepadanya.
"Kau mau bertaruh dengan ku? ingat! hidup mu ada ditangan ku, jika aku mau saat ini juga aku bisa melenyapkan mu menyusul kedua orang tua mu. " Ancam Evan tanpa peduli dengan perasaan Airin.
"Jika itu bisa membuat mu paus maka lakukan lah! " tantang Airin menatap dalam bola mata Evan. Pria yang sudah membuat seorang Airin jatuh cinta dan ternyata perasaan itu tumbuh kepada orang yang salah.
"Kau jangan memancing ku! " Evan mendekati Airin dan mencengkram tangan Airin dengan sangat kuat hingga membuat Airin meringis kesakitan.
"Lepaskan! " Airin tidak tinggal diam. Ia berusaha melepaskan cengkeraman dari Evan.
Evan mendorong tubuh Airin dengan kasar ketempat tidur.
Aw.. Ringis Airin menahan sakit.
__ADS_1
"Aku peringkat, jangan kau berpikir untuk melawan ku! " Ucap Evan kemudian pergi keluar dari dalam kamar itu.
"Aku tidak akan menyerah Evan, akan ku buat kau jatuh cinta kepada ku sekali pun harus mengorbankan tubuh ku untuk mu. " Gumam Airin menatap punggung Evan sampai tidak terlihat dibalik pintu.
Setelah Airin tertidur barulah Evan kembali kedalam kamar. Evan yang sudah merasa lelah ingin beristirahat. Ketika ia menaiki tempat tidur matanya tertuju kepada wajah tenang Airin yang sedang terlelap.
"Kau ingin membuatku jatuh cinta kepada mu? tapi didalam hati ku hanya lah kebencian kepada mu dan sampai kapan pun akan seperti itu. " Ucap Evan kemudian mengalihkan pandangan matanya dari wajah Airin.
Keesekon harinya Airin memutuskan untuk bersikap manis kepada Evan. Ia bangun pagi untuk menyiapkan keperluan Evan sebelum berangkat ke kantor.
"Selamat pagi! " sapa Airin begitu Evan bangun dari tidurnya. Mendekati Evan yang masih berusaha mengumpulkan nyawa dari tidurnya.
Cup
Airin memberanikan dirinya untuk mencium bibir Evan.
"Apa-apaan kau ini? "
"Kenapa? apa ada yang salah jika aku mencium suami ku sendiri? " kilah Airin.
"Turun! " suruh Evan datar.
"Apa kau tidak menginginkan ku? " Airin menggoda Evan menyentuh dada bidang Evan dengan lembut.
"Lepaskan! "Evan menurunkan Arin dari atas pangkuannya dengan kasar ditempat tidur.
"Kau pikir dengan begini akan mengubah ku? kau salah besar bahkan aku tidak selera dengan tubuh mu yang menjijikan itu! " Kesal Evan dengan sikap Arin yang mendadak manis.
Airin sangatlah sakit hati dengan ucapan Evan yang terus menghina dirinya. Namun ia tetap pada pendiriannya yaitu ingin menaklukkan hati Evan dengan memberikan cinta kepada suaminya tersebut.
"Kau mandilah lebih dulu aku tunggu dibawah! "Airin turun dari atas ranjang tanpa menoleh kearah Evan lagi. Ia tidak ingin Evan melihat matanya yang sudah memerah menahan air matanya.
"Aku tidak akan pernah terjebak dengan permainan yang kau buat. Persetan dengan perasaan cinta yang kau ucapkan karna bagi ku itu hanya omong kosong. " Evan menatap kearah pintu kamar yang baru saja tertutup setelah Airin keluar dari dalam kamar.
Evan yang baru selesai membersihkan tubuhnya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Memperlihatkan tubuh tegapnya. Tiba-tiba Arin kembali masuk dan mendekati Evan.
__ADS_1
Deg
"Tubuh itu? " oh ada apa dengan otak ku ini? " gumam Airin mengumpati pikiran kotornya tersebut.
"Aku lupa mengambilkan pakaian mu. " Terang Airin dengan segera memilih pakaian yang akan digunakan oleh Evan.
"Ini pakaian mu! " Airin meletakkan pakaian untuk Evan diatas ranjang. Segera berbalik membelakangi Evan menghindari pemandangan yang akan mengotori pikiran polosnya.
"Tunggu! " kali ini Evan ingin membalas perbuatan Airin yang sudah berani menggodanya sebelumnya.
"Ada apa? " dengan terpaksa Airin pun menghadap Evan.
"Kemarilah! " Suruh Evan menarik tangan Airin dengan tiba-tiba sehingga tubuh Airin berbenturan dengan dada bidang Evan.
"Bukankah tadi kau menggoda ku? maka kita lakukan sekarang! " seringai disudut bibir Evan.
"A aku tidak bermaksud seperti itu! " Airin gugup harus bagaimana. Tubuh mereka yang saling bersentuhan membuat Airin merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jantungnya berdetak lebih cepat seakan ingin keluar dari dalam tempatnya.
Evan mencium bibir Airin sekilas. "Bagaimana? kita lakukan sekarang? " Evan terus mengoda Airin dan tanpa banyak bicara Airin ingin kembali merasakan sentuhan bibir Evan. Dan Airin pun mulai terpancing dengan suasana yang diciptakan oleh Evan.
Airin mencium bibir Evan dan dengan senang hati Evan pun mengikuti kemauan Airin, semakin lama ciuman itu semakin dalam dan menuntut. Begitu tersadar Evan menjauhkan tubuh nya dari tubuh Airin.
"Kau keluarlah! " suruh Evan membalikkan badannya.
"Tapi? " Airin bingung dengan perubahan sikap Evan yang secara tiba-tiba.
"Aku bilang keluar! " Evan meninggikan suaranya.
Mau tidak mau Airin pun keluar dari kamar meninggalkan Evan dengan penuh tanda tanya.
" Sial! hampir saja aku kelepasan! " keluh Evan yang niat awalnya hanya ingin mengerjai Airin namun justru ia hampir terjebak dengan permainan yang ia ciptakan sendiri.
"Terpaksa aku menuntaskan nya sendiri. " Dengan langkah gontai Evan kembali masuk kekamar mandi untuk menidurkan benda pusaka yang sudah terbangun sedari tadi.
Bersambung!!
__ADS_1