
Prank
Evan melempar ponsel milik Airin setelah membaca beberapa pesan yang ternyata dari Alvaro.
~Airin bagaimana kabar mu?
~Airin tolong balas pesan ku!
~Kau sedang apa? bisakah kita bertemu?
~Airin angkat telpon dari ku!
Beberapa pesan masuk dari Alvaro namun tak satu pun pesan itu dibaca oleh Airin karena ia tak mengetahui pesan dari Alvaro tersebut. Diperjalanan tadi ia tidak lagi melihat ponsel miliknya. Sehingga tak mengetahui jika ada pesan masuk.
Airin membulatkan bola matanya melihat ponsel miliknya dilempar oleh Evan ke lantai.
"Kenapa? " Evan tidak suka dengan cara Airin menatap dirinya.
"Kau itu aneh sekali, kenapa kau melempar ponsel milik ku? "
"Kau ternyata diam-diam berhubungan dengan pria itu dibelakang ku! "
"Siapa? " tanya Airin karena sesungguhnya ia tidak tau alasan Evan membanting ponselnya.
"Kau tidak perlu berpura-pura tidak tau apa yang terjadi. " Evan berusaha menahan emosi dan amarahnya.
"Bisa tidak kau bicara baik-baik agar aku tau apa permasalahannya. " Sahut Airin.
"Ingat, mulai hari ini aku tidak ingin kau berhubungan dengannya! " tegas Evan tidak ingin dibantah.
"Kau gila! " Airin menggelengkan kepalanya karena tidak tau pasal dari kemarahan Evan.
"Mungkin jika tak ada aku tadi maka kau akan mengangkat telpon darinya kan? "
Airin pun baru sadar apa penyebab kemarahan Evan hingga berujung pada melayang nya ponsel miliknya.
"Aku tidak tau jika pesan itu dari Alvaro dan kau bisa lihat sendiri kan aku tidak membalas pesan darinya bahkan aku tidak tau apa yang ia katakan pada pesan itu. " Terang Airin menatap Evan.
__ADS_1
"Sekarang katakan kenapa kau pergi tanpa sepengetahuan dari pelayan? "
"Jika aku minta ijin terlebih dahulu sudah pasti kau tidak akan memberikannya bukan? aku hanya ingin bertemu dengan teman-teman ku dan kami seharian ini hanya pergi ke pusat perbelanjaan, setelah itu aku langsung pulang. " Jelas Airin panjang lebar dan berkata sejujurnya.
"Apa pun alasan mu tetap saja kau salah! " tegas Evan.
"Ya! aku salah dan hanya kau saja yang benar. " teriak Airin dan setelah itu ia masuk kedalam kamar mandi untuk menghindari Evan. Didalam sana ia bisa menangis tanpa ada yang melihatnya.
"Dia yang salah dan kini dia pula yang meninggikan suaranya kepada ku. " Pekik Evan menatap pintu kamar mandi.
Evan mengambil ponsel miliknya dan mengirimkan pesan kepada Hendri untuk membelikan ponsel terbaru untuk Airin dan setelah itu ia keluar dari kamar tersebut membiarkan ponsel yang berserakan dan sudah menjadi terpisah menjadi beberapa bagian.
Airin keluar dari kamar mandi setelah puas menangis dan sekalian ia membersihkan dirinya. Ia melihat sekeliling dan tidak melihat keberadaan Evan disana bahkan ponselnya yang tadi sudah tidak ada lagi dilantai.
Karena setelah Evan keluar ia menyuruh pelayan untuk membersihkan serpihan ponsel yang sudah ia lempar tadi.
Evan kini berada didalam ruang kerjanya, memijit kepalanya yang terasa pusing. Bagaimana tidak pusing jika niat awalnya ingin memberikan hukuman kepada Airin tidak bisa ia lakukan, yang ada Airin malah meneriaki dirinya dan pergi begitu saja meninggalkan dirinya padahal belum juga Evan selesai bicara dengannya.
"Wanita itu selalu saja membuat ku tidak bisa berbuat apa-apa. " Ucap Evan sambil menyandarkan punggungnya yang terasa lelah di sandaran kursi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Evan bingung apa rencananya selanjutnya tentang pernikahan antara dirinya dan juga Airin. Ia bingung dengan perasaannya sendiri, tak bisa dipungkiri pernikahan itu terjadi bukan atas dasar cinta satu sama lain namun untuk melepas Airin rasanya tidak mungkin baginya.
Airin keluar dari dalam kamar untuk mencari keberadaan dari Evan. "Dimana Evan? " tanyanya kepada seorang pelayan.
"Sepertinya tuan sedang berada didalam ruang kerjanya, nyonya. " Terang pelayan itu memberitahukan keberadaan dari tuannya itu.
Setelah mengetahui keberadaan Evan, Airin pun pergi menuju ruang yang diberitahukan oleh pelayan tadi.
Airin mengetuk pintu berulang-ulang kali namun tidak ada sahutan dari dalam sehingga ia membuka pintu tersebut dan masuk begitu saja.
Ia melihat Evan yang sepertinya sedang tertidur di meja kerjanya. Airin mendekati Evan dan berdiri tepat disamping laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
Tak ingin menganggu tidur Evan, Airin memutuskan untuk keluar dari tempat itu dan mengurungkan niatnya untuk berbicara kepada Evan.
Namun belum sempat ia membuka pintu suara Evan menghentikan langkah kakinya.
"Ternyata selain suka keluar tanpa ijin, kau juga suka masuk keruangan orang tanpa ijin. "
__ADS_1
Airin sontak membalikkan badannya menghadap sumber suara itu berasal.
"Aku sudah mengetuk pintu berulang kali tapi kau tidak mendengarnya dan aku memutuskan untuk masuk. " Jelas Airin.
"Ada apa sampai kau mencari ku kemari? "
"Tadinya aku ingin bicara, tapi sepertinya kau sedang kelelahan. Kita bicara lain kali saja. " Ucap Airin dan hendak pergi begitu saja.
"Tunggu! " panggil Evan dan mau tidak mu Airin pun tidak bergerak dari tempatnya.
"Bicaralah! " suruh Evan.
Namun kini Airin justru diam saja karena bingung harus mengatakan apa.
"Kenapa kau diam saja? " selidik Evan sambil mengarahkan pandangan matanya kepada Airin yang masih berdiri tak jauh darinya.
Airin pun memberanikan dirinya untuk mendekat kepada Evan.
"Aku ingin kita bicara baik-baik dan aku harap kau tidak akan marah setelah apa yang aku katakan nanti kepada mu. " Ucap Airin membuat Evan mengkerut kan keningnya karena merasa aneh dengan sikap Airin kali ini.
"Aku ingin melakukan kesepakatan dengan mu. "
"Apa itu? "
"Sebelum terbukti orang tua ku lah yang menjadi dalang atas kematian orang tua mu, aku ingin tinggal ditempat tinggal ku sebelumnya. Namun jika terbukti orang tua ku bersalah maka aku siap menerima hukuman apa pun dari mu. "
"Ada apa dengan mu? kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu? " selidik Evan.
"Aku merasa hidup ku tak berguna dan sia-sia jika hanya berada disini tanpa bisa melakukan apa-apa. setidaknya aku akan mencari pekerjaan jika aku tidak berada disini."
"Ck, apa yang kau bicarakan? "
"Aku mohon lepaskan aku! aku janji akan menerima hukuman apa pun itu jika orang tua ku terlibat tapi aku tidak bisa seperti ini karena aku tidak terima kau memperlakukan ku seperti ini tanpa adanya bukti. "
"Jangan harap aku akan menerima permintaan konyol mu itu! " Sentak Evan pergi begitu saja meninggalkan Airin yang membuat dirinya semakin marah.
Gagal sudah rencana Airin untuk keluar dari mansion Hamka yang membuat dirinya merasa tertekan.
__ADS_1