
"Siapa yang bersama dengan wanita itu? "
Evan menatap keluar melalui kaca mobil dan bertepatan dengan itu bunyi klakson mobil dibelakang mereka terdengar berisik pertanda menyuruh untuk jalan dan mau tidak mau Hendri pun melajukan mobilnya.
"Berhenti didepan! " Perintah Evan tidak sabar ingin menghampiri wanita yang sudah berstatus istri nya bersama dengan pria lain.
Evan keluar dari mobil setelah Hendri menepikan kendaraan tersebut. Berjalan kearah keduanya dengan rehang yang sudah mengeras menahan kekesalannya.
"Pulang! " Evan menarik tangan Airin membuat wanita itu terkejut dan mengarahkan kedua matanya kearah tangan yang menarik tangannya dengan tiba-tiba kemudian beralih menatap wajah yang sudah melakukan hal itu kepadanya.
Dan di detik selanjutnya ia sangat terkejut setelah melihat siapa orang yang sudah menarik tangannya tersebut.
"Evan? "
"Kenapa? "
"A aku.. "
"Pulang sekarang juga! " Evan kembali menarik tangan Airin.
"Tunggu! siapa kau? kenapa berbuat kasar kepada Airin? " cecar Alvaro menghentikan langkah Evan dan beralih menatapnya.
"Kau tidak perlu tau dan aku tidak harus menjelaskan apa pun terhadap mu! " tegas Evan kemudian kembali menarik tangan Airin berjalan menuju mobil.
"Maaf Al! " Airin menoleh kebelakang merasa tidak enak sudah membuat Alvaro menyaksikan hal tersebut.
"Lepas! " Airin berusaha melepaskan tangan nya dari genggaman Evan namun usaha nya itu hanya sia-sia karena Evan tidak mengdengarkan ucapan nya.
"Masuk! " Evan mendorong tubuh Airin masuk kedalam mobil.
"Aw.. " Rintih Airin karena tubuhnya terduduk di bangku mobil secara kasar.
Evan tidak memperdulikan rintihan Airin dan ikut masuk kedalam mobil.
"Jalan! " perintah Evan dan dengan sigap Hendri pun menjalankan mobil yang ia kemudikan.
__ADS_1
"Kenapa nona Airin berada ditempat itu? bukankah seharusnya ia sudah berada di mansion sekarang? " Hendri bertanya-tanya didalam hati tanpa berani mengeluarkan kata-katanya karena sudah terlihat jelas olehnya apa yang akan terjadi selanjutnya.
Karna Evan sedang marah melihat Airin yang berkeliaran diluar mansion tanpa sepengetahuannya dan yang paling membuat ia kesal adalah wanita itu tengah bersama dengan seorang pria.
"Katakan kenapa kau berada disana? " Suara berat Evan keluar dari mulutnya setelah beberapa detik mencoba meredam emosinya.
"Dia teman satu kampus ku! "
"Aku tidak bertanya siapa dia? yang aku tanya adalah kenapa kau berada disana tadi ha? " ucap Evan penuh selidik.
"Aku tadi makan siang bersama dengan Alvaro. " Terang Airin takut Evan akan marah dengan jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa kau selalu saja membuat ku kesal? apa kau benar-benar ingin mengujiku? " sorot mata tajam Evan seperti ingin memangsa orang yang ada dihadapannya sekarang ini.
"Kau tidak perlu marah hanya karna aku makan siang! " ketus Airin.
"Apa kata mu? beraninya kau berkata seperti itu kepada ku! apa kau lupa jika aku tidak mengijinkan mu keluar dari mansion? "
"Aku keluar juga karna mengantarkan berkas yang kau butuhkan dan apa salahnya aku mampir untuk makan siang? " kilah Airin membuat Evan pusing dengan setiap perkataan dari Airin yang tidak mau kalah.
"Memangnya kenapa? apa kau cemburu? " cecar Airin dengan percaya diri.
"Yang benar saja aku cemburu! aku tidak ingin orang lain melihatmu berkeliaran bersama dengan pria lain karna itu sama saja kau akan merusak nama baik ku. " Ketus Evan
"Ck, apa kau lupa jika orang lain tidak ada yang tau tentang hubungan kita? " ucap Airin menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin laki-laki itu berpikir demikian jika pernikahan mereka saja dilakukan dengan tertutup tanpa sepengetahuan orang banyak.
"Tetap saja kau tidak bisa berbuat sesuka mu! " Tegas Evan.
"Terserah aku mau berbuat apa, kau tidak berhak untuk mengaturku! " Airin tidak perduli lagi dengan ucapan Evan yang selalu saja membuatnya kesal.
"Kau? " Evan marah bagaimana bisa wanita itu mengabaikan setiap ucapannya dan tidak takut sama sekali dengan dirinya. Menarik tangan Airin hingga tubuh mereka saling bersentuhan.
"Jangan coba-coba menguji kesabaran ku! " sorot mata tajam Evan sungguh sangat menakutkan bagi Airin namun ia tidak ingin terlihat lemah dimata Evan agar pria itu tidak bisa menindas dirinya.
"Lepas! " Airin menghempaskan tangan Evan dari lengannya namun bukannya terlepas Evan malah mengeratkan cengkraman nya.
__ADS_1
"Lepas kata ku! " ucap Airin berteriak membuat Hendri melirik kekaca mobil untuk melihat apa yang sudah dilakukan oleh tuannya itu.
"Tidak akan! kau mau apa? " tantang Evan bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Kau itu pria tidak berperasaan! " ketus Airin membuang pandangan matanya ke sembarang arah.
"Apa kata mu barusan? " Evan yang tidak terima dengan perkataan Airin menangkup wajah Airin dengan kedua tangannya membawa wajah Airin menghadap kepadanya.
"Katakan sekali lagi apa yang barusan aku dengar dari mulut sialan mu itu! "
"Kenapa? kau tidak terima dengan ucapanku? "Airin tertawa sinis.
"Jangan membuat ku melakukan sesuatu yang membuat mu menyesal! " Peringat Evan mencengkram wajah Airin sehingga wanita itu mendongakkan kepalanya.
"Kau memang pria tidak berperasaan dan tidak punya hati! " umpat Airin memberanikan dirinya untuk mengulangi kata-katanya namun belum selesai dengan ucapannya Evan lebih dulu membungkam bibir Airin.
Bibir Airin dan Evan saling menempel. Wanita itu membulatkan kedua matanya karena terkejut dengan ciuman tiba-tiba dari Evan dan didetik selanjutnya ia berusaha meleskan diri dari Evan.
Bukannya terlepas, Evan malah memperdalam ciumannya perlahan mulai menggerakkan bibirnya sampai Airin susah untuk bernafas.
"Ump" Airin mendorong tubuh Evan dengan Sekuat tenaga sehingga ciuman itu terlepas.
"Aku membenci mu! " teriak Airin sambil mengelap bibirnya yang sedikit basah.
"Semakin kau membenci ku maka itu semakin bagus! dengan demikian kau akan lebih tersiksa dan menderita bersama ku. " Ucapan Evan merasa puas berhasil membuat wanita itu marah dengan perbuatannya.
"Kau jangan senang dulu! aku memang membenci mu tapi aku tidak akan tinggal diam. Aku pastikan kau akan jatuh cinta kepada ku. " peringat Airin. Baginya itulah jalan satu-satu yang harus ia lakukan dengan membuat pria itu jatuh cinta kepadanya? maka dengan sendirinya dendam itu akan hilang tanpa berbekas.
"Ck, jangan mimpi! karna sampai kapan pun aku tidak akan pernah mencintai mu. " Ketus Evan menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Sementara Airin tidak lagi menanggapi ucapan Evan yang menguras tenaganya. Ia memilih memalingkan wajahnya dari Evan.
Airin tidak lagi mengeluarkan suaranya sepanjang perjalanan menuju mansion dan begitu tiba Airin keluar dari dalam mobil tanpa perduli dengan Evan.
"Kembali kekantor! " Ucap Evan kepada Hendri setelah memastikan Airin masuk kedalam mansion.
__ADS_1