
Cleo yang baru menyadari jika Pandu sudah tidak berada ditempatnya, segera ia mencari papanya itu. Berjalan melewati beberapa kerabatnya tanpa menyapa terlebih dahulu.
Mencari kesana kemari ternyata Pandu sedang berada di dekat kolam renang sepeeti sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telpon.
"Pah... " Mendengar suara Cleo segera Pandu mengakhiri sambungan telponnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari putrinya itu.
"Ada apa? " Pandu berbalik menatap putrinya itu.
"Kenapa papa disini? " tanya balik Cleo.
"Tadi ada telpon penting, kenapa? "
"Tidak ada! " jawabnya singkat kemudian berlalu meninggalkan Pandu.
"Dasar anak itu? " Pandu menggelengkan kepalanya dengan sikap putrinya itu, pergi begitu saja padahal sebelumnya ia mencari Pandu kemana-mana.
Acara keluarga tersebut pun berlalu, dimana yang lainnya sedang menikmati acara demi acara namun tidak dengan Pandu dan juga Cleo yang jadi bahan pembicaraan diantara semua orang. Pandu yang awalnya banyak bicara pun tidak dapat berbuat apa-apa ketika semua bualannya tentang kekasih dari Cleo tidak hadir seperti yang sudah ia katakan sebelumnya.
Demikian juga Cleo, Wanita itu terpaksa pulang lebih awal. karena kesal dengan beberapa sepupunya yang membuat dirinya tidak nyaman berlama-lama disana. Bagaimana tidak jika mereka semua meminta Cleo untuk membawa kekasihnya kepada mereka dilain waktu.
Cleo tidak bisa berkata apa. Maka jalan satu-satunya adalah pergi agar tidak mendengarkan semua pembicaraan dan keinginan para sepupunya itu.
~
~
__ADS_1
~
Didalam kamar ketika Evan yang sudah berpenampilan santainya hendak keluar dari dalam kamar namun matanya menangkap sesuatu yang berada di atas tempat tidur.
Ia berjalan mendekati tempat tidur dan mengambil benda yang terletak disana. Senyum nya seketika mengembang ketika benda itu sudah berada ditangannya. Melihat layar ponsel yang ia genggam itu, siapa lagi jika bukan Airin. Wanita yang belakangan ini terus mengusik pikirannya.
Evan hendak membuka ponsel tersebut namun ia tidak bisa karena ternyata Airin mengunci ponselnya.
"Kau sedang apa? " Suara yang begitu tiba-tiba muncul dari balik pintu membuat Evan terkejut. Ia gugup harus berkata apa kerena seperti sedang ketahuan mencuri sesuatu.
"Tidak ada! " Evan meletakkan kembali ponsel itu ditempat semula dan Airin sedikit bingung dengan apa yang dilakukan Evan pada ponselnya.
Namun ia berusaha tidak memikirkan hal itu karena ia tau Evan tidak bisa membuka ponsel miliknya.
Dengan cepat Evan pergi keluar dari dalam kamar membuat Airin mengerutkan keningnya karena ia keluar seperti sedang terburu-buru.
Keesokan harinya Airin terbangun dari tidur panjangnya, mengerjapkan kedua matanya sembari mengumpulkan kesadarannya. Merasa ada sesuatu yang berat dibagian perutnya, Airin pun melihat kearah perutnya yang ternyata tangan kekar Evan memeluknya sambil tidur.
Airin pun beralih melihat kearah wajah Evan yang masih tertidur pulas. Menatap wajah tenang itu sejenak. Ingatannya kembali pada tadi malam dimana Airin tidur lebih dulu dan tidak mengetahui kapan Evan masuk kedalam kamar.
Airin memiringkan tubuhnya agar dapat leluasa menatap wajah Evan. Wajah tampan yang sedari dulu membuatnya jatuh hati pada pertama kali bertemu dengan pria itu di sebuah cafe. Dan ternyata takdir mempertemukan mereka kembali sehingga keduanya terikat didalam sebuah hubungan.
Namun didetik selanjutnya Airin teringat dengan tujuan pria yang ia pandangi itu menikahinya hanya karena ingin membalaskan dendamnya atas kehilangan orang yang paling berharga didalam hidupnya.
"Seandainya kau menikahi ku karena adanya rasa cinta terhadap ku, sungguh beruntungnya aku menjadi wanita itu. Tapi pada kenyataannya aku tidak ada didalam hati mu. " Lirih Airin menyentuh dada bidang Evan dengan sangat pelan takut jika orang yang disentuhnya itu terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Tidak bisa kah sedikit saja ada aku didalam hati mu? " lagi lagi Airin berbicara masih meletakkan tangannya di dada bidang milik suaminya itu.
Kini tangannya beralih menyusuri wajah teduh yang sedari tadi ia pandangi. "Aku tidak tau harus bagaimana dan sampai kapan aku bertahan di sisi mu? yang jelas perasaan ku yang dulu perlahan semakin hari semakin terkikis, karena aku tidak ingin perasaan ini semakin dalam dan pada akhirnya akan menyakiti diri ku sendiri."
Pergerakan jemari tangan Airin membuat Evan merasa terusik. Sadar jika Airin sedang menyentuh wajahnya namun ia berpura-pura masih tertidur agar mengetahui apa saja yang dilakukan oleh wanita itu.
"Kau tau? dulu aku memimpikan menikah dengan pria yang sangat mencintai ku lebih dari apapun. Mengadakan sebuah resepsi yang meriah menjadikan ku ratu sehari. Namun pada kenyataannya semua itu hanya lah mimpi yang tidak akan pernah akan terwujud sampai kapan pun. Bahkan aku mendapatkan seorang suami yang tidak mencintai ku sama sekali. " Airin menghela nafasnya sejenak sebelum ia kembali menumpahkan isi hatinya yang selama ini ia pendam tanpa seorang pun yang tau apa yang ia rasakan.
"Ck, aku ini sedang bicara apa? ya ampun aku rasa aku ini sudah gila! " Airin menyadari jika yang ia lakukan itu tidak ada artinya berbicara kepada Evan yang sedang terlelap.
Secepatnya ia menurunkan tangan Evan yang masih melingkar diatas tubuhnya dan kemudian turun dari tempat tidur. Setelah merasa Airin sudah menjauh darinya, barulah Evan membuka kedua matanya.
Merasa bersalah atas perbuatannya kepada wanita itu, bahkan ia sendiri yang sudah menghancurkan impian yang baru saja ia dengar dari Airin langsung.
"Maaf. " Evan meminta maaf walaupun Airin tidak bisa mendengar apa yang ia ucapkan barusan. Ia tidak cukup punya keberanian untuk mengatakan permintaan maafnya secara langsung. Karena ia tau betul kata maaf tidak akan merubah apapun sekarang ini.
Karena yang sudah terjadi tidak akan pernah berubah meskipun wanita itu memaafkan dirinya. Jalan satu-satunya hanya lah memperbaiki semuanya sebelum terlambat. Sebelum wanita itu menyerah berada disisinya.
"Kau sudah bangun? " tanya Airin yang sudah rapi setelah membersihkan dirinya kepada Evan yang masih berada dibawah selimutnya diatas ranjang.
"Umm. " Sahut Evan singkat sambil mendudukkan tubuh nya diatas ranjang itu.
"Mandilah dulu aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu! " ucap Airin membuat Evan merasa lebih bersalah lagi atas perbuatannya. Walaupun Airin sudah tau tujuan Evan yang sebenarnya tetap saja ia masih mau melakukan tugasnya sebagai seorang istri walaupun sempat menolak semua tugas itu beberapa hari namun pada akhirnya Airin kembali lagi melakukan tugasnya untuk melayani suaminya itu.
Karena ia sadar hal itu hanya akan membuat keduanya semakin jauh. Dan pada waktunya nanti Evan ingin membuangnya ia tidak akan menyesal karena tidak melakukan tugasnya dengan baik selama menjadi istri dari Evan.
__ADS_1
"Kenapa kau masih saja bersikap baik kepada ku setelah mengetahui kebenarannya? "
"Apa? "