
Pintu ruang rapat kembali terbuka setelah kedatangan Hendri dan ternyata kali ini yang masuk adalah Pandu Winata. Pria yang seumuran dengan Paris orang tua Evan.
"Maaf sudah membuat kalian semua menunggu! " ucap Pandu menarik kursi untuknya.
"Kau itu sibuk apa? semua orang sudah bersiap bahkan kau dengan santai datang paling terakhir. " Ucap salah satu peserta rapat diruang itu. Sedangkan Evan hanya menatap tajam kepada Pandu. Karena Evan mengetahui kedatangan Cleo yang merupakan putri dari Pandu Winata ke kantor nya dan pasti hal itu yang menyebabkan Pandu datang terlambat keruang rapat.
Tanpa banyak bicara Evan mengisyaratkan agar Hendri segera memulai rapat dan dengan cepat Hendri pun memulai acara tersebut.
Setelah selesai rapat Evan keluar dari ruangan itu diikuti oleh Hendri dari belakang sampai kedalam ruang kerja tuannya itu.
"Tadi nona Airin datang. " Terang Hendri memberitahukan tuannya tentang kedatangan Airin karena sebelumnya Hendri tidak memberitahu jika yang mengantarkan berkas yang ia butuhkan tersebut adalah Airin.
"Untuk apa dia datang kemari? "selidik Evan sambil duduk di kursi kebesarannya.
"Beliau datang untuk mengantarkan berkas yang tadi tuan. " Jelas Hendri lagi.
"Oh! " Evan hanya beroh ria setelah mengetahui itu sementara Hendri hanya menggelengkan kepalanya dengan sikap tidak perduli nya tuannya kepada wanita yang merupakan istri nya sendiri. Meskipun Hendri tau pernikahan itu hanya sebatas balas dendam tapi dilain sisi dirinya berharap Airin dapat merubah pemikiran tuannya itu.
Karena bagaimana pun juga Hendri tau betul bagaimana kesetiaan Prasetio kepada pak Paris dan ia yakin jika semua tuduhan Evan itu tidak berdasar. Tapi karna pengaruh dari Pandu yang menghasut Evan seolah Prasetio lah yang berperan dalam kejadian naas tersebut.
Hendri juga mengetahui sisi lain dari Pandu yang tidak menyukai hubungan dekat antara Paris dan juga Prasetio. Namun berbeda dengan Evan yang tidak mengetahui hal itu karena selama ini Hendri lah selalu berada didekat tuan Paris sebagai asisten pribadi beliau dan sampai sekarang ia masih berada di posisi itu bekerja untuk penerus keluarga Hamka yaitu Evan.
Pembicaraan keduanya terhenti ketika Cleo datang ke ruangan Evan tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Maaf nona Cleo, saya rasa anda tidak sopan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu! " tegas Hendri menatap tidak suka kepada wanita yang berpakaian sedikit terbuka dibagian atas tubuhnya.
__ADS_1
"Aku kesini ingin bertemu dengan Evan, minggir! kau membuat ku tak nyaman dengan keberadaan mu. " Pekik Cleo membalas dengan tatapan tak suka.
"Ada apa kau kemari? " tanya Evan tanpa menoleh kepada Cleo masih sibuk dengan layar ponsel miliknya.
"Aku hanya ingin mengajak mu makan siang diluar! " Ucap Cleo mengutarakan maksud kedatangannya kali ini.
"Aku tidak bisa! " sahut Evan dingin.
"Evan,, Ayo lah kali ini saja! " mohon Cleo penuh harap karna setiap kali ia mencari cara untuk berduaan dengan Evan selalu saja gagal dan kali ini ia tidak mau hal itu terulang lagi.
"Baiklah! " ucap Evan singkat.
"Benarkah? " Cleo mersa senang sekaligus tidak percaya.
Hendri merasa kesal bagaimana bisa tuan Evan mau menerima ajakan dari wanita itu. Jelas-jelas wanita itu ingin mendapatkan perhatian lebih dari tuannya itu.
Hendri berusaha tetap bersikap biasa saja tanpa memperdulikan tatapan dari Cleo baginya itu tidak akan berpengaruh apa pun selama tuannya masih meminta dirinya untuk ikut bersama maka itu bukan lah merupakan suatu masalah baginya.
"Kalau bukan karena papa yang menginginkan harta mu aku tidak akan sudi mengemis perhatian dari mu! " gumam Cleo merasa kesal dengan sikap Evan yang selalu saja mengabaikannya. Pada hal ia sudah melakukan semua cara agar bisa mendapatkan Evan tapi tetap saja pria yang dihadapannya itu tidak bisa ia gapai. Ditambah lagi dengan kehadiran Hendri yang selalu saja menempel dengan Evan layaknya perangko membuat Cleo kesal sendiri.
"Ada apa nona? apa makannya tidak enak atau tidak sesuai dengan selera anda? " tanya Hendri yang sedari tadi memperhatikan Cleo hanya mengaduk-aduk makananya saja.
Evan pun meletakkan sendok miliknya diatas piring makananya. "Apa benar yang Hendri bilang? " tanya Evan.
"Tidak! Bukan begitu, aku suka makannya hanya saja aku sedang diet jadi tidak makan banyak. " Jelas Cleo mencari alasan.
__ADS_1
Evan mengangguk kemudian melanjutkan kembali makan siangnya. Sementara Cleo kini melempar tatapan membunuhnya kepada Hendri. "Kau selalu saja mencari masalah dengan ku asisten sialan! " umpat Cleo dalam hati.
Bukan Hendri namanya jika ia tidak bisa mengabaikan tatapan tajam dari Cleo tatapan seperti itu tidak akan berpengaruh apa-apa baginya.
Setelah selesai dengan makan siang ketiganya pun keluar dari restoran setelah membayar tagihannya dengan cepat Cleo memanfaatkan situasi ia menggandeng tangan Evan dengan begitu manja sementara Evan tidak bereaksi apa-apa, membiarkan Cleo bersikap sesukanya justru kini Hendri yang tidak terima jika wanita itu bersikap melewati batas.
"Nona Cleo, tolong jaga sikap anda! " peringat Hendri.
"Memangnya kenapa? " Cleo tidak terima dengan teguran dari Hendri.
"Jika anda bersikap seperti ini, bisa saja orang lain akan salah faham. Apa anda lupa siapa tuan Evan adalah orang yang menggantikan tuan Paris penerus keluarga Hamka? bisa saja orang akan beranggapan buruk dengan apa yang mereka lihat. " Jelas Hendri.
"Untuk apa aku perduli dengan semua itu? terserah mereka mau berkata apa. Itu bukan urusan ku! " ketus Cleo.
"Benar itu bukan urusan anda tapi bagi ku itu sangat penting karena berita buruk akan sangat berpengaruh besar dengan perusahaan Hamka."
"Kau bilang berita buruk? apa dengan menggandeng tuan mu ini akan menimbulkan berita buruk? aku rasa kau salah besar. Justru berita kedekatan kami akan membuat heboh semua orang. " Pekik Cleo tidak terima jika Hendri menjatuhkan harga dirinya.
"Itu menurut anda nona! " peringat Hendri lagi tetap pada pendapatnya.
"Sudah! kalian berdua membuat ku pusing saja. Dan kau pulang lah aku masih ada urusan lain! " tunjuk Evan kepada Cleo dan melepaskan tangan Cleo yang sedari tadi menempel di lengannya.
"Tapi aku.. " Protes Cleo tidak ingin pulang sendirian.
"Kau dengar tidak aku bilang apa? " Evan mulai habis kesabaran dengan sikap Cleo.
__ADS_1
Cleo menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal dan mau tidak mau ia harus pergi karena Evan sudah menatapnya dengan tatapan yang sangat menakutkan baginya.
"Minggir! " Cleo sengaja menyenggol bahu Hendri sebelum ia pergi.