
Setelah kejadian itu, Airin memilih untuk menghindari interaksi dengan Evan. Berusaha untuk patuh dan tidak melakukan kesalahan yang mungkin ia lakukan agar terhindar dari sebuah hukuman yang akan merugikan dirinya sendiri.
Tapi seperti nya Evan justru malah mencari celah agar Airin mendapat hukuman darinya. Kali ini Evan meminta agar tidak ada seorang pelayan pun yang membantu Airin untuk menyiapkan makanan untuknya.
Karena Airin selalu meminta bantuan kepada pelayan untuk membantunya menyiapkan makanan yang akan dihidangkan kepada Evan bahkan bisa dibilang Airin hanya membantu sebagian kecil seperti memotong sayuran yang diperlukan saja selebihnya adalah tugas dari pelayan yang bertugas di dapur.
"Kau tidak bisa seperti itu! aku tidak tau apa-apa tentang dapur tapi setidaknya kau menghargai usaha ku untuk belajar. " Protes Airin tidak terima dengan perintah Evan.
"Aku tidak ingin dibantah, kau mengerti! " tegas Evan namun sesungguhnya ia sedang pusing memikirkan cara untuk menyiksa wanita yang sudah menjadi istri nya itu. Karena sampai pada saat ini ia tidak berhasil dengan rencananya sebab Airin tidak mudah ditindas seperti yang ia pikir.
Airin selalu berusaha untuk tidak lemah dengan perlakuan Evan, ia pasti akan melawan dengan caranya sendiri.
Jika Evan membiarkan para pelayan membantu Airin maka wanita itu tidak akan merasa kesulitan namun jika dibiarkan Airin melakukannya sendiri sudah dipastikan semua akan menjadi kacau.
Seperti pagi ini Airin membuat semua orang yang berada di mansion menjadi panik karena ulangnya yang tak sengaja menumpahkan sop buatannya yang baru saja selesai dimasak dan yang ada tumpahan sop itu mengenai tangannya.
Evan yang melihat kejadian itu dengan sigap menarik Airin menuju kran air yang ada didapur dan menyiram bagian tangan Airin yang memerah akibat menahan panas dari kuah sop tersebut.
"Kau ini bagaimana? hal semacam itu saja tidak bisa kau lakukan dengan baik! " pekik Evan kesal sekaligus merasa bersalah.
Airin hanya diam saja kali ini walaupun Evan mengeomelinya karena memang benar ia tidak bisa melakukan hal sekecil apapun tentang dapur.
"Maaf! " Airin menundukkan kepalanya karena ia tau betul ia sudah melakukan kesalahan.
Begitu serasa cukup Evan lalu membawa Airin menuju ruang tengah dan meminta kepada pelayan untuk mengambilkan kotak p3k untuknya.
"Ini tuan! " Nurul meletakkan kotak p3k beserta kotak tissu diatas meja.
__ADS_1
Evan mengeringkan tangan Airin dengan meniup -niupnya dan tak lama kemudian Evan mengoleskan salep ketangan Airin yang kini memerah.
Airin diam-diam mencuri pandang kepada Evan. "Jika kau bersikap seperti ini sungguh hati ku menghangat. " Gumam Airin dalam hati.
"Sudah! " ucap Evan begitu selesai mengoleskan salep ketangan Airin.
"Terima kasih! " sahut Airin kemudian ia berdiri dari duduknya karena ia tak bisa terus menerus berada di dekat Evan. Bisa-bisa ia tidak dapat menahan perasaan yang sedari dulu bersarang dihatinya. Sementara sekarang niatnya adalah ingin membuat Evan jatuh cinta kepadanya bukannya malah jatuh lebih dalam lagi dengan perasaannya sendiri.
"Kau mau kemana? " Evan menahan lengan Airin yang satu lagi.
"Aku mau melanjutkan pekerjaan ku." Sahut Airin menoleh kepada Evan.
"Kau duduklah! biar pelayan yang melanjutkannya. " Ucap Evan menoleh kepada Nurul dan dengan cepat pelayan yang bernama Nurul tersebut membungkukkan badannya sebagai bentuk mengerti apa yang harus ia lakukan.
Airin pun kembali duduk bersama dengan Evan tepatnya disamping suaminya itu. Evan beralih menatap jam tangan yang melingkar ditangannya kemudian ia pun berdiri dari duduknya. "Kau mau kemana? " tanya Airin melihat pergerakan Evan.
"Bukan begitu! sarapan mu belum selesai kau ingin ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu? " tanya Airin melemparkan tatapan matanya ke sembarang arah menghindari kontak mata dengan Evan.
"Ini semua karna ulah mu! " kesal Evan meninggalkan Airin begitu saja.
"Dasar! sebentar bersikap manis, sebentar kembali lagi dengan sikap dinginnya. " gerutu Airin namun masih jelas terdengar oleh Evan.
Evan hanya menarik sudut bibirnya sambil terus berlalu meninggalkan Airin dengan semua ucapannya yang terdengar lucu bagi Evan.
"Anda kenapa tuan? " selidik Hendri yang melihat tuannya itu keluar dari dalam mansion sambil tersenyum menuju mobil dimana sudah ada Hendri yang bersiap membukakan pintu untuk nya.
"Memangnya kenapa? apa aku tidak boleh untuk tersenyum? " cecar Evan menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Bukan begitu tuan, tapi saya sudah lama tidak melihat Anda tersenyum seperti barusan. Apa ada sesuatu yang membuat hati anda merasa senang? " Selidik Hendri dengan penasaran ada apa dengan tuannya itu.
"Jangan banyak bertanya, ayo berangkat! " suruh Evan masuk kedalam mobil tanpa meladeni ucapan asisten nya tersebut.
Mau tidak mau Hendri pun ikut masuk kedalam mobil dan segera mengemudikan mobil yang mereka tumpangi menuju perusahaan milik Hamka.
"Seperti nya aku salah langkah dalam menindas wanita itu. " Terang Evan dari kursi penumpang.
"Maksud anda nona Airin? " tanya Hendri sambil melirik tuannya itu dari kaca spion mobil didepannya.
"Umm.. " Sahut Evan memejamkan katanya sambil menyandarkan kepalanya disandaran kursi penumpang.
"Seperti nya anda terjebak sendiri dengan permainan yang anda buat tuan! " lirih Hendri dengan suara pelan nyaris tak terdengar oleh Evan.
"Apa kata mu? " Kesal Evan dari belakang.
"Maaf tuan! " Hendri tidak lagi melanjutkan pembicaraan mereka dan memilih untuk menyudahinya dengan kata maaf. Jika tidak ia akan ikut terkena masalah karna salah mengucapkan kata-kata nya.
"Menurut mu apa langkah yang tepat untuk memberikan pelajaran bagi wanita itu? " tanya Evan kepada Hendri karna jujur ia tidak tau untuk bagaimana cara menyiksa wanita itu karna pada dasarnya Evan bukan lah orang yang bisa bersikap kasar kepada perempuan.
Walaupun ia terkenal dengan sikap dinginnya kepada wanita bukan berarti ia bisa melakukan hal yang sangat tidak pantas. Hatinya ingin membalas dendam kepada Airin namun ia justru tidak bisa membuat wanita itu menderita seperti rencana awalnya.
"Menurut ku sebaiknya tuan berhenti saja sebelum tuan berbuat lebih jauh lagi dan itu akan menyakiti hati nona Arin. Dan yang paling aku takutkan suatu saat nanti tuan akan menyesali perbuatan anda sendiri. " Terang Hendri mengingatkan tuannya itu tanpa menoleh dan terus menatap kedepan mengemudikan mobilnya.
"Ck, kau ini jangan menggurui ku! untuk apa aku akan menyesal ha? " Evan menggelengkan kepalanya tidak terima dengan peringatan yang Hendri sampaikan.
"Saya harap juga demikian tuan, namun seiringnya waktu kita tidak tau apa yang akan terjadi dikemudian hari. Bisa saja tuan jatuh cinta kepada nona Airin. " Terang Hendri melirik tuannya itu dari kaca mobil didepannya.
__ADS_1
"Tidak akan! " sahut Evan singkat sekaligus meyakinkan dirinya sendiri.