
"Ada apa dengannya? " tanya Airin masih berdiri didepan pintu kamar. "ciuman itu? " Airin memegangi bibir yang baru saja merasakan hangatnya sentuhan dari bibir Evan.
Suasana dimeja makan terasa canggung di antara keduanya. Airin mencoba bersikap biasa saja namun ia sedang harap cemas menunggu Evan akan melahap masakan buatannya. Meskipun dibantu para pelayan mansion untuk membuatkan sarapan tersebut tetap saja Airin tidak percaya diri.
Airin terus memperhatikan Evan yang hendak menyuapkan sendok kedalam mulutnya. Seketika raut wajah Evan berubah, dan meletakkan sendok miliknya diatas piringnya kemudian beralih menatap Airin dengan perasaan kesal.
"Kenapa? apa masakannya tidak enak? " tanya Airin takut-takut.
"Kau coba saja sendiri! "suruh Evan masih dengan tatapan tajamnya.
"Asin! " pekik Airin buru-buru mengambil air minum untuknya.
"Untuk hal seperti ini saja kau tidak becus! " keluh Evan.
"Biar aku buatkan yang baru! " Airin hendak berdiri dari duduknya.
"Tidak perlu! selera makan ku sudah hilang dan kau jangan coba-coba bergerak dari sini sebelum kau menghabiskan semua masakan mu ini! " tegas Evan.
"Tapi aku mana bisa menghabiskan ini semua. " Keluh Airin menatap semua masakan yang dihidangkan diatas meja makan.
"Aku tidak mau tau! kau pikir siapa yang akan menghabiskan ini semua jika bukan dirimu. " Ucap Evan dan pergi begitu saja dari meja makan.
"Evan... " Panggil Airin berteriak namun yang dipanggil tidak menghentikan langkahnya ia tetap melangkah menuju pintu utama mansion.
Airin tentu saja tidak akan menuruti perintah semacam itu, terlebih lagi Evan sudah meninggalkan mansion. Airin menatap ke arah para pelayan yang sedang berada di ruangan itu.
"Tolong kalian bereskan ini! aku tidak bisa menghabiskan semua makanan ini dan satu hal lagi tolong jangan berkata apa-apa kepada Evan. " Suruh Airin kemudian ia juga pergi kembali ke dalam kamarnya meninggalkan meja makan tanpa menikmati sarapannya terlebih dahulu.
Dengan terpaksa pelayan itupun membereskan meja makan itu sesuai dengan perintah nyonya mereka yaitu Airin. Dan tentu saja di hatinya merasa takut jika tuan Evan menanyai masalah sarapan itu apa yang harus akan ia jawab nantinya.
Sore harinya Airin mendapat pesan dari teman nya Sisil dan Fita. Memintanya untuk bertemu dengan mereka di sebuah pusat perbelanjaan. Airin yang memang merasa bosan segera bergegas menemui kedua teman nya itu.
__ADS_1
Airin hendak keluar dari pintu utama mansion namun seorang pelayan melihat Airin dan segera menghampirinya. "Nyonya anda mau kemana? " tanya pelayan yang bernama Nurul. Pelayan yang sudah berumur setengah baya dan merupakan kepercayaan dari keluarga Hamka diantara pelayan yang lainnya.
"Aku ingin menemui teman ku sebentar. " Jelas Airin menghentikan langkah nya sejenak.
"Tapi nyonya tuan Evan melarang anda untuk keluar dari mansion ini tanpa seijin dari beliau. " Terang Nurul mencegah Airin agar tidak keluar.
"Aku hanya sebentar saja dan akan kembali sebelum Evan pulang. " Ketus Airin dan melanjutkan langkah kakinya.
"Tapi nyonya tuan Evan pasti akan marah jika mengetahui anda keluar. " Nurul masih mencoba menahan Airin agar tidak keluar tanpa ijin dari tuannya.
"Dia tidak akan tau jika kau tidak memberitahunya! " Ucap Airin tidak perduli dan bergegas keluar dari mansion.
"Tapi nyonya... " Nurul tidak lagi bisa berbuat apa-apa karena Airin telah keluar dari pintu utama mansion tanpa menghiraukan ucapannya.
"Habis aku jika tuan Evan mengetahui hal ini! " gerutu Nurul menatap nyonya Airin yang berlari meninggalkan mansion.
Airin tiba didepan sebuah pusat perbelanjaan yang dimaksud oleh Sisil dan Fita menjadi tempat mereka kali ini melepaskan rasa bosan satu sama lainnya.
Sisil menatap layar ponselnya yang berdering dan setelah melihat nama yang tertera dilayar yang merupakan Airin, mengarahkan pandangan matanya ke sekeliling begitu menangkap sosok yang ia cari Sisil pun mengangkat ponselnya sambil melambaikan tangan. "Airin disini! " teriaknya dari kejauhan.
Airin pun mematikan ponselnya kemudian berlari kecil mendekati Sisil dan Fita.
"Maaf lama! " seru Airin merasa tidak enak hati sudah membuat keduanya menunggu dirinya.
"Tidak apa, kami juga belum lama menunngu. " Sahut Fita.
"Oya, kau berutang penjelasan kepada kami berdua. " Ucap Sisil meminta penjelasan tentang pernikahan Airin.
"Ia nanti aku ceritain semuanya tapi kita cari tempat makan terlebih dulu, soalnya aku lapar! " Terang Airin memegangi perutnya.
"Baiklah, ayo! " Fita menarik kedua tangan temannya itu menuju sebuah tempat makan didalam pusat perbelanjaan tersebut.
__ADS_1
Begitu memesan makan untuk mereka, Fita yang sudah tidak sabar mendengar cerita dari Airin segera meminta Airin untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi kepada temannya itu.
"Sekarang ceritakan bagaimana kau bisa menikah secara mendadak? " selidik Fita antusias.
"Airin menghela nafasnya. Belum juga aku bernafas kau sudah mencecar ku dengan pertanyaan yang sama sedari tadi? " Keluh Airin menyandarkan punggungnya disandaran kursi yang ia duduki.
"Bukannya menanyakan bagaimana kabar ku kalian malah lebih penasaran dengan kisah ku! " gerutu Airin lagi.
"Kami tidak perlu menanyakan kabar mu! bukan kah sudah cukup melihat mu kami sudah tau jika kau baik-baik saja. " Sahut Sisil menimpali.
"Dasar teman laknat! " ejek Airin sambil tertawa kecil kepada keduanya.
Dan akhirnya Airin pun menceritakan semua yang ia alami beberapa hari ini. Mulai dari pernikahannya yang diadakan secara mendadak dan tertutup, tak lupa juga ia menceritakan tujuan Evan menikahi dirinya. Sontak keduanya terkejut mendengar cerita Airin sekaligus merasa kasihan kepada Airin yang tidak tau menau tentang kematian dari orang tua Evan.
"Lantas kau akan menerima semua perlakuan Evan dengan begitu saja? " Sisil tidak Terima jika temannya itu diperlakukan buruk oleh Evan sekalipun mereka sudah menikah.
"Tentu saja aku tidak akan mengikuti semua permainan yang ia lakukan kepada ku. Justru sekarang aku berencana akan membuat Evan jatuh cinta kepada ku dan melupakan tujuannya untuk balas dendam kepada ku! karna aku yakin ayah ku tidak seperti yang Evan tuduhkan. " Jelas Airin dengan penuh keyakinan.
"Apa rencana mu itu akan berhasil? " tanya Fita yang sedikit ragu dengan niat Airin yang akan menaklukkan hati Evan.
"Aku tidak terlalu yakin, namun aku harus mencoba bukan? " sahut Airin menatap Sisil dan Fita secara bergantian.
Obrolan mereka pun terhenti sejenak ketika makanan pesanan mereka datang. Airin yang memang sudah merasa lapar langsung melahap makanan miliknya.
"Kau terlihat seperti orang yang sudah beberapa hari tidak makan saja! " keluh Fita yang memperhatikan Airin makan dengan lahap.
"Bukan begitu tapi selama tinggal di mansion bersama Evan aku merasa tidak pernah kenyang dan tidak bisa makan dengan benar. Pria itu selalu saja menyulitkan ku dengan berbagai macam keinginannya. " Airin berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Sisil dan Fita pun hanya saling menatap sambil menghela nafas mereka masing-masing. Begitu selesai makan baru mereka berkeliling pusat perbelanjaan tersebut, membeli beberapa barang kebutuhan mereka.
Sementara Airin hanya ikut menemani keduanya tanpa membeli sesuatu untuknya.
__ADS_1