MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM

MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM
Bab 24.


__ADS_3

"Kau? " Airin terkejut dengan keberadaan seorang wanita diruang tengah mansion dan sama halnya dengan wanita itu sama terkejut nya melihat keberadaan Airin di mansion milik Evan.


Evan yang baru saja ikut masuk kedalam mansion menghentikan langkahnya tepat dibelakang tubuh Airin. "Kenapa kau diam sini? " selidik Evan kemudian mensejajarkan dirinya berada disamping Airin. Namun ketika menyadari seseorang yang ada dihadapannya tengah tersenyum kepadanya ia pun mengerutkan keningnya.


"Evan kau baru pulang? aku sudah menunggu mu sedari tadi. " Jelas Cleo menghampiri Evan yang masih berdiri disamping Airin. Bergelayut manja di lengan Evan tanpa memperdulikan keberadaan Airin disana.


"Kau sedang apa disini? " selidik Evan membiarkan Cleo yang terus menempel di lengannya. Sementara Airin melihat interaksi keduanya menatap tidak suka akan perilaku Cleo namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aku sengaja datang kemari untuk menemui mu karna jika aku datang ke kantor mu kau selalu saja sibuk. Dan wanita ini kenapa dia ada disini bersama dengan mu? " selidik Cleo melirik kearah Airin.


"Aku lelah sebaiknya kau pulang! " Evan mengalihkan pertanyaan dari Cleo.


"Tapi aku.. "


"Cleo kau jangan keras kepala seperti ini, aku sudah bilang jika aku lelah. Jadi kau pulang lah sekarang! " pinta Evan menatap tajam akan Cleo.


"Aku akan pergi tapi sebelumnya kenapa wanita ini ada disini bersama dengan mu? " Cleo mengulur waktu agar lebih lama lagi bersama dengan Evan.


"Bukan urusan mu! " tegas Evan.


Airin pun pergi meninggalkan keduanya karena merasa keberadaan nya disana tidak penting dan terlebih lagi Evan sepertinya enggan mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya.


Ia berpikir jika ia pergi meninggalkan keduanya maka Cleo tidak akan mendesak Evan untuk mengatakan siapa dan apa hubungan antara ia dan Evan yang sudah berstatus sebagai suami istri. Meskipun Evan tidak pernah menganggap keberadaan Airin dan hanya menjadikan wanita itu sebagai alat balas dendam.


"Evan, bagaimana jika kita keluar untuk makan malam? " bujuk Cleo dengan sumringah.


"Maaf Cleo, aku benar-benar tidak bisa. Pekerjaan ku membuat ku sangat lelah hari ini. " Tolak Evan secara halus sambil memijit pangkal hidungnya. Sedikit merasa tidak nyaman dengan tingkah laku Cleo yang terus berada disampingnya padahal ia sudah menolak tapi tetap saja wanita itu bersikeras dengan niatnya.


"Bagaimana jika besok atau lusa? " Cleo mencoba membujuk Evan penuh harap jika Evan akan menyetujui permintaan darinya.


"Aku harus melihat jadwal ku terlebih dahulu. " Balas Evan tidak ingin memberi harapan kepada wanita itu.

__ADS_1


Senyuman yang sedari tadi mengembang diwajah Cleo tiba-tiba menghilang dimana usahanya kembali gagal untuk bisa bersama dengan Evan.


"Sial! jika Evan terus menolak ku bagaimana bisa aku mendapatkan dirinya. " Gumam Cleo kesal namun ia harus menutupi kekesalannya itu didepan Evan.


"Baiklah jika begitu, tapi aku sangat berharap bisa makan malam bersama dengan mu. " Cleo memberanikan diri menyentuh dada bidang Evan untuk menggodanya namun Evan tidak bereaksi akan perbuatan Cleo kepadanya.


"Kau pulang lah dulu aku ingin beristirahat! " Evan menarik tangan Cleo agar berhenti menyentuh dirinya.


Kini Cleo tidak bisa menutupi rasa kecewanya atas penolakan Evan kepadanya. Terlihat jelas dari raut wajahnya namun Evan tidak perduli dengan perasaan Cleo karna baginya hal itu tidak lah penting untuk dipikirkan.


Cleo pun keluar dari mansion dengan perasaan kesal atas penolakan Evan. Sia-sia ia datang padahal ia sudah berdandan semaksimal mungkin dan dengan pakaian seksinya namun tetap saja Evan tidak menggubris keberadaan dirinya.


Sementara disudut ruangan ternyataa Airin mengintip apa yang sedang terjadi antara wanita yang bernama Cleo itu dengan Evan. Ternyata Airin ingin tau apa yang terjadi selanjutnya setelah ia meninggalkan mereka tadi.


Dan ketika Evan mulai menaiki tangga hendak masuk kedalam kamar mereka dengan cepat Airin berlari dari tempat persembunyiannya menuju kamar agar Evan tidak mengetahui keberadaannya.


Airin tergesa-gesa membuka pintu kamar dan meletakkan tas jinjingnya ke sembarang arah, melepas sepatunya begitu saja didepan pintu kamar mandi.


Begitu Evan berada didalam kamar, ia melihat ke setiap sudut ruangan kamar. Melihat tas dan sepatu Airin yang berserak di mana-mana.


"Dimana wanita itu? " Evan mengeratkan rahangnya menatap tidak suka dengan barang milik Airin yang berserakan.


Evan memutuskan untuk menunggu Airin keluar dari dalam kamar mandi karna ia yakin jika wanita itu sedang berada didalam sana kerena mendengar suara percikan air dari dalam sana.


Menatap tajam kearah Airin begitu keluar dari dalam kamar mandi yang masih menggunakan jubah mandinya. Bahkan Airin sampai ragu menginjakkan kakinya dari depan pintu kamar mandi.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu? " Airin sedikit merasa akan terjadi sesuatu kepadanya setelah ini.


"Kebiasaan buruk mu itu jangan kau bawa kedalam mansion ku ini! " tegas Evan dengan suara datarnya.


"Maksudnya? " Airin bingung dengan ucapan Evan.

__ADS_1


"Kau tidak bisa lihat dengan mata kepala mu apa? " Evan melirik kearah yang dimaksud olehnya dan sontak hal itu membuat Airin mengikuti pandangan mata Evan.


"Astaga! " Airin baru sadar dengan apa yang di maksud oleh Evan. Dengan cepat ia memungut sepatu miliknya yang berada tepat didepannya. Kemudian tidak lupa ia juga mengambil tas miliknya dan mengembalikan ketempat yang seharusnya.


Evan masih terus menatap dan memperhatikan gerak gerik wanita itu. Membuat Airin sedikit gugup. "Maaf tadi aku terburu-buru, jadi aku meninggalkan barang ku dengan asal. " Berharap penjelasannya itu akan diterima oleh Evan begitu saja.


"Terburu-buru karna apa? "


"Aku... " Airin bingung harus mengatakan apa, otaknya seketika tidak bisa mencari alasan yang tepat agar Evan tidak mencecarnya.


Evan bangkit dari duduk nya dan menghampiri Airin. "Lain kali tidak perlu menguping pembicaraan orang lain dan kau tidak perlu tau apa yang tidak semestinya kau ketahui! " peringat Evan tepat di telinganya.


Deg


Wajah Airin seketika menjadi pucat karena ternyata Evan sudah mengetahui apa yang ia lakukan tadi. "Tau begitu untuk apa aku terburu-buru tadi sampai aku hampir terjatuh didalam kamar mandi. " Gumam Airin didalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.


"A aku tadi hanya ingin tau apa yang kalian bicarakan tidak lebih. " Tutur Airin terbata-bata.


"Benarkah? " Evan memundurkan tubuhnya satu langkah untuk melihat wajah Airin yang sedang gugup.


"Tentu saja! kau pikir apa? "


Evan tersenyum sinis. "Aku tau apa yang kau pikirkan! "


"Terserah kau saja mau berpikir seperti apa itu bukan urusan ku! "


"Kau? "


Tok


tok

__ADS_1


Ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya dan secara serentak mereka berdua melihat kearah pintu.


__ADS_2