MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM

MENIKAH UNTUK BALAS DENDAM
Bab 29.


__ADS_3

"Kau jangan banyak bicara, cepat obati istri ku! " Sentak Evan dan dengan seketika Adrian membulatkan kedua matanya. Pasal nya ia tidak tau jika Evan sudah menikah. Belum lagi wanita yang sedang ada dihadapannya kini tidak ia kenal.


Yang ia tau jika Evan sangat mencintai seseorang yang selama ini sudah ia tunggu kedatangannya kembali.


"Apa istri? "


"Kau ini tuli apa bagaimana? "


"I ia.. " Jawab Adrian kikuk. "Kau ini tidak sabaran sekali! "


Adrian pun mulai memeriksa pergelangan kaki wanita itu yang terlihat membengkak.


"Kenapa bisa sampai separah ini? " Adrian menyentuh kaki Airin yang membengkak itu.


"Aw.." Airin meringis kesakitan.


"Kau apakan dia? " Evan menghempaskan tangan dokter Adrian sedikit kasar.


"Aku sedang memeriksa kakinya, jika tidak menyetuh bagian itu bagaimana aku bisa mengobatinya? " Terang dokter Adrian masih sabar dengan sikap Evan yang sedikit berlebihan itu.


"Tapi dia kesakitan!"


"Kau tenang saja aku tidak akan menyakitinya!


Airin hanya bisa memperhatikan keduanya yang sedang berdebat karena dirinya tanpa berani berkata apa-apa. Dokter Adrian kembali memeriksa Airin dan setelah itu memberikan obat berupa salep.


"Ini obatnya, oleskan di area yang membengkak dan Jangan banyak bergerak dulu. " Ucap Adrian sambil membereskan beberapa alat yang ia gunakan tadi.


Kini Adrian menatap Airin dan Evan secara bergantian. "Kalian kapan menikah? dan kenapa kau tidak mengundang ku? " Cecar dokter Adrian.


"Karna kau itu tidak terlalu penting! " ketus Evan yang memang selalu bersikap seperti itu jika berhadapan dengan dokter Adrian.


Airin hanya diam sedari tadi, selain ia tidak mengenal Adrian ia juga tidak tau harus berbicara apa kepadanya.


"Kau ini selalu saja mengatakan aku ini tidak penting tapi tetap saja kau memanggil ku jika dalam keadaan seperti ini. " Sahut Adrian.


"Kau mau digantikan tugas mu sebagai dokter keluarga Hamka dengan orang lain? " ancam Evan yang membuat Adrian tidak dapat bereaksi membalas ucapannya barusan.


"Is kau ini, selalu saja mengancam ku! "


"Baik lah, karna aku sudah selesai maka aku pamit dulu! " Adrian mengambil tasnya dan kemudian beralih menatap Airin yang sedang berbaring diatas ranjang.

__ADS_1


"Kenalkan, aku dokter Adrian." Adrian mengulurkan tangannya kepada Airin dan Airin pun membalas uluran tangan Adrian. "Airin. " Ucapnya memperkenalkan dirinya.


"Nama yang bagus! " Puji Adrian seraya melepaskan jabatan tangan keduanya.


"Sudah cukup, kau keluarlah! " suruh Evan dengan tegas.


"Berani sekali kau bersentuhan dengannya didepan ku. " Gumam Evan didalam hatinya.


Adrian pun berjalan keluar melewati Adrian tanpa berkata apa pun lagi dan seorang pelayan yang sedari tadienunggu disana ikut keluar dengan dokter Adrian.


"Apa benar jika mereka berdua sudah menikah? " tanya dokter Adrian kepada pelayan tersebut begitu mereka sudah berada diluar kamar Evan.


"Benar tuan. "


"Aku tidak percaya ternyata Evan bisa melupakan wanita yang sangat ia cintai. " Ucap Adrian sambil membayangkan wajah wanita yang dicintai Evan sebelumnya dan juga wanita yang pernah ia tak air dulu. Tapi karna Evan juga mencintai wanita yang sama maka ia memilih untuk memendam perasaannya.


"Maaf tuan, tapi itu lah kenyataan nya. " Balas pelayan itu.


"Kau benar! " sahut Adrian menghentikan lamunannya.


Pelayan itu mengantarkan dokter Adrian sampai kedepan pintu mansion dan tidak lupa ia mengatakan Terima kasih kepadanya. Dokter Adrian pun segera pergi dari mansion keluarga Hamka setelah tugasnya sebagai dokter pribadi keluarga Hamka selesai.


Adrian pergi dengan banyak pertanyaan didalam hatinya namun ia tidak dapat bertanya secara langsung kepada Evan mengingat pria itu selalu saja berbicara ketus terhadapnya.


Selain itu, yang ia tau selama ini Cleo selalu mengejar-ngejar Evan dengan mati-matian tapi Evan memilih dengan wanita lain.


"Kau istirahatlah dulu! " ucap Evan setelah membantu Airin mengoleskan obat salep yang baru saja diberikan oleh dokter Adrian tadi.


"Terima kasih? " ucap Airin menghentikan langkah kaki Evan yang hendak keluar dari kamar.


"Umm" Evan kemudian pergi tanpa menoleh keadaan Airin yang mengucapkan terimakasih kepadanya.


"Apa susahnya sih membalas ucapan ku barusan? ini dia hanya mengatakan kata umm." Pekik Airin.


Tak lama kemudian seorang pelayan datang membawakan nampan berikan sarapan untuk Airin.


"Letak disana saja. " Tunjuk Airin keatas nakas dimana pelayan itu hendak bertanya.


"Nyonya, tuan bilang barusan anda sarapan dulu dan saya ditugaskan untuk memastikan anda menghabiskan sarapan ini. " Terang pelayan itu.


"Dimana dia? "

__ADS_1


"Tuan sudah berangkat baru saja nyonya. "


"Oh. Kau keluar lah nanti aku akan sarapan. " Airin masih sibuk membalas sebuah pesan diponsel miliknya.


"Tapi nyonya saya takut tuan Evan marah kepada saya jika saya meninggalkan nyonya sebelum sarapan yang saya bawakan ini anda makan. " Ucap pelayan itu.


Airin menghela nafasnya panjang kemudian meletakkan ponsel yang sedari tadi ia mainkan. "Baiklah! " Terpaksa Airin menyantap sarapannya sambil diawasi oleh pelayan tadi.


Airin melahap sarapannya sampai tidak bersisa karena memang dia sudah sangat kelaparan karena tadi malam ia tertidur tanpa mengisi perutnya terlebih dahulu.


"Jika nyonya butuh sesuatu panggil saya saja. " Ucap pelayan itu sebelum ia pamit keluar dari kamar itu dan Airin pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Tunggu! " panggil Airin.


"Ia ada apa nyonya? " Pelayan itu berbalik menghadap Airin.


"Apa tadi itu memang dokter pribadi keluarga Hamka? " tanya Airin ingin lebih tau tentang Adrian yang terlihat santai saja ketika sedang berbicara dengan Evan.


"Benar nyonya. "


"Apa dia dan Evan begitu dekat? "


"Sepertinya begitu nyonya, bahkan mereka pernah menyukai wanita yang sama. " Pelayan itu kelepasan bicara dan dengan cepat ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Merasa bersalah sudah membicarakan tuannya itu.


Namun hal itu justru menarik bagi Airin untuk bertanya lebih jauh lagi.


"Wanita? siapa dia? "


"Maaf nyonya saya tidak berani mengatakan apa pun tentang hal itu. "


"Kau tenang saja, Evan tidak akan marah pada mu karna sudah memberitahu ku tentang itu. "


Dengan takut-takut terpaksa pelayan itu mengatakan apa yang ia ketahui tentang tuannya dan dokter Adrian.


"Tuan Evan mencintai seseorang dan pada saat yang bersamaan dokter Adrian juga mencintai wanita itu namun dokter Adrian memutuskan untuk mengalah karna memang wanita itu lebih memilih bersama dengan tuan Evan dari pada bersama dokter Adrian." Jelas pelayan itu panjang lebar.


"Benarkah? aku penasaran seperti apa wanita yang dicintai Evan itu. " Ucap Airin.


"Wanita itu sangat cantik nyonya! " Pelayan itu spontan menundukkan kepalanya karena sudah berani memuji kecantikan wanita lain didepan nyonya nya itu yang merupakan istri dari tuan Evan.


Airin hanya tersenyum tipis agar pelayan itu tidak merasakan enak hati atas ucapannya sendiri.

__ADS_1


"Ya sudah kau boleh pergi! " suruh Airin dan pelayan itu pun menuruti perintah Airin.


"Aku penasaran siapa wanita itu? "


__ADS_2