
"Kau kenapa lama sekali? " Kesal Airin kepada Sisil yang datang terlambat malam ini. Karena memang biasanya Fita dan juga Sisil bergantian menginap menemani Airin dirumah milik Airin.
"Tadi aku ada urusan sebentar." Jelas Sisil sambil berjalan mengikuti langkah Airin dari depan pintu menuju kamar.
"Kau tau? baru saja pria yang pernah aku ceritakan pada mu beberapa waktu yang lalu, tadi dia datang kemari. " Airin bercerita dengan semangat sambil senyum-senyum sendiri.
"Benarkah? tapi bagaimana bisa? " tanya Sisil tak percaya sambil terus berjalan dibelakang Airin.
"Ternyata dia adalah Evan Hamka anak dari Paris Hamka dan sebelumnya ternyata kami sudah dijodohkan. " Terang Airin dengan sumringah.
"Wah kau beruntung Airin ternyata pria yang kau sukai adalah calon suami mu! " Sisil ikut bahagia melihat Airin yang terus tersenyum.
"Dan yang paling mengejutkan lusa aku akan menikah dengannya. " Jelas Airin membuat Sisil tekejut.
"Lusa? " pekik Sisil dengan berteriak sambil menutup pintu kamar Airin.
"Ya lusa! " sahut Airin santai sambil menaiki tempat tidur dan merebahkan tubuhnya ke sembarang arah.
"Tunggu! " Sisil ikut naik keatas tempat tidur.
"Apa menurut mu ini tidak terlalu terburu-buru? "selidik Sisil yang menaruh rasa curiga dengan mendadaknya pernikahan Airin.
"Entahlah, tapi aku bahagia bisa menikah dengan Evan pria yang memang aku sukai. " Terang Airin sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Apa tidak sebaiknya kalian saling mengenal saja lebih dulu? " Sisil mengkhawatirkan temannya itu.
"Kau tenang saja orang tua ku menjodohkan kami itu berarti karna dia orang yang baik dan tepat untuk ku. " Airin tidak ambil pusing dengan memikirkan yang tidak-tidak tentang Evan calon suaminya itu.
"Semoga saja dia adalah orang yang tepat untuk mu Airin. " Ucap Sisil berharap temannya mendapatkan kebahagiaan setelah kepergian orang tuanya.
"Terima kasih sudah mendoakan ku! " Airin duduk dan memeluk Sisil. "Sudah! " Sisil mengurai pelukan dari Airin. "Kau membuat ku sesak nafas! " keluh Sisil.
"Maaf! " Airin tersenyum.
~
~
Tiba saatnya hari yang sudah ditentukan oleh Evan untuk menikahi Airin. Pagi sekali Airin dijemput orang suruhan Evan dan membawa Airin ke mansion keluarga Hamka.
__ADS_1
Airin menatap mansion yang berdiri dengan megah itu dengan perasaan takjub akan bangunan yang ada didepan matanya. Pilar-pilar besar yang berdiri dibagian depan seakan menyambut setiap orang yang akan memasuki bangunan tersebut.
Disana Evan sudah menunggunya sedari tadi dan begitu tiba Airin langsung dikejutkan dengan penjelasan Evan kepada nya.
Jika pernikahan mereka akan diadakan secara tertutup dan hanya dihadiri para saksi. Padahal Airin berharap jika ia menikah mempunyai impian dengan adanya acara yang meriah. Namun semua itu kini hanya tinggal angan-angan saja.
"Tapi aku menginginkan sebuah pernikahan yang meriah! " seru Airin protes.
"Ck, kau jangan banyak permintaan! bukankah kah yang terpenting itu adalah sebuah ikatan bahwa kita sah sebagai suami istri? " kesal Evan namun masih mencoba meredam emosinya.
"Tapi setidaknya kita kan bisa melakukan akad nikahnya hari ini dan beberapa hari lagi kita adakan resepsi. " Pinta Airin penuh dengan harap.
Brak
Evan menggebrak meja di depannya. "Kau jangan banyak protes dan ikuti apa yang aku katakan! tidak ada resepsi meriah atau apalah itu! " Tegas Evan mengejutkan Airin dimana Airin melihat sisi yang berbeda dari Evan.
"Kau tidak perlu marah begitu! jika tidak ingin mengadakan resepsi kau kan bisa bilang dengan baik-baik kepada ku. " Ucap Airin.
Evan tidak menanggapi ucapan dari Airin ia hanya menatap tajam kepada wanita itu.
"Pelayan! " panggil Evan dan dua orang pelayan wanita pun datang.
"Kalian bawa dia dan lakukan sesuai perintah ku tadi! " suruh Evan tanpa melepaskan pandangan matanya dari Airin.
"Baik tuan! " keduanya pun segera menjalankan perintah tuan mereka itu dan menghampiri Airin.
"Silahkan nona ikut kami! " Pinta pelayan itu.
Airin hanya bisa pasrah dan mengikuti para pelayan itu menuju sebuah ruangan.
"Nona apa mau mandi terlebih dulu? " tanya salah satu pelayan yang bertugas untuk mendandani Airin.
Airin hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian mengikuti pelayan wanita itu menuju kamar mandi.
"Apa aku benar-benar akan menikah dengan pria itu? aku bahkan tidak tau bagaimana sifat aslinya, tadi saja sudah membuat ku takut. " Ucap Airin berkata sendiri didalam kamar mandi.
Tak lama kemudian Airin pun keluar dari kamar mandi dan dengan sigap para pelayan itu membantunya memakaikan baju pengantin yang sudah disiapkan oleh Evan sebelumnya.
Kebaya putih itu terlihat pas ditubuh Airin ditambah lagi make-up yang tidak terlalu mencolok di wajahnya membuat wanita itu terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya.
__ADS_1
Airin menatap bayangan dirinya dicermin sambil tersenyum merasa puas dengan hasil riasan di wajahnya.
Airin yang sedang tersenyum dicermin seketika senyum itu memudar begitu Evan masuk kedalam. ruangan itu bersama dengan Hendri.
"Kau sudah selesai? " tanya Evan sambil duduk disofa dibelakang Airin sementara Hendri berdiri tepat disamping tuannya tersebut.
"Sudah! " sahut Airin menatap calon suaminya dari pantulan cermin yang di depannya.
"Kalian keluarlah! " suruh Evan kepada para pelayan yang membantu Airin barusan.
Setelah para pelayan tadi meninggalkan ruangan tersebut, Airin berbalik menghadap Evan.
"Kau sebentar lagi akan menjadi istri ku tapi ada hal yang perlu kau ketahui jika pernikahan ini terjadi bukan karena adanya cinta diantara kita berdua. Dan aku tegaskan kau tidak boleh mencampiri urusan ku! " tegas Evan memperingatkan Airin akan batasannya.
"Kau benar! memang diantara kita belum ada rasa cinta tapi kan tidak menutup kemungkinan jika suatu saat nanti cinta akan tumbuh dengan seiringnya waktu. " Ucap Airin mencoba merubah pemikiran Evan.
"Aku pastikan tidak akan ada rasa cinta yang kau maksud! jadi jangan berharap terlalu jauh. " Sahut Evan dengan penuh percaya diri.
"Lantas kenapa kau mau menikahi ku? " selidik Airin menatap wajah Evan, wajah yang sudah memikat hatinya namun justru ia mengetahui kebenaran di detik -detik pernikahan nya.
Pada hal sebelumnya ia merasa beruntung bisa menikah dengan pria itu namun saat ini hatinya mulai bimbang tapi tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Belum saatnya kau mengetahui alasan ku menikahi mu! " Jawab Evan dengan santai sambil melipat kedua tangannya bersedekap dada.
"Apa maksud mu? " Airin mulai merasa curiga dengan sikap Evan.
"Aku tunggu didepan! penghulunya sudah menunggu jadi aku harap kau jangan berlama-lama. " Ucap Evan meninggalkan Airin dengan kebingungan.
Hendri menoleh kearah Airin sebelum mengikuti tuannya itu keluar dari ruangan itu. "Nona anda baik-baik saja? " tanya Hendri melihat perubahan diwajah Airin.
"Ia aku baik-baik saja! " sahut Airin tanpa melihat lawan bicaranya.
"Kasihan sekali kau nona! " Ucap Hendri didalam hati melihat wanita itu menjadi korban amarah dari tuannya padahal wanita itu tidak tau apa-apa tentang kematian kedua orang tua Evan.
Bahkan polisi saja belum bisa mengungkap siapa pembunuh yang sebenarnya tapi Evan sudah mengambil kesimpulan tanpa adanya bukti yang kuat.
Bersambung!
Like, vote dan comentnya dong!
__ADS_1