
Evan yang sudah berada di perusahaan teringat sesuatu jika ia meninggalkan berkas dimeja kerjanya yang ada di mansion. Ia melupakan berkas penting itu karena kejadian Airin yang terkena kuah sop panas tadi pagi.
Evan memerintahkan kepada Hendri agar mengambil berkas yang ia perlukan secepatnya. Dan Hendri yang tau hal itu sangat mendesak, segera menghubungi orang yang berada di mansion. Menugaskan pelayanan yang bernama Nurul untuk mengantarkan berkas tersebut agar tidak memakan waktu.
"Kau mau kemana? " selidik Airin yang melihat Nurul baru turun dari tangga dengan membawa sesuatu yang tak ia ketahui apa itu.
"Aku mau mengantarkan berkas ini nyonya ke perusahaan tuan Evan. " jawab Nurul menghentikan langkahnya di depan Airin yang kebetulan juga hendak menaiki tangga.
"Berkas? bagaimana jika aku saja yang mengantarkan nya? " pinta Airin langsung mengambil berkas tersebut dari tangan Nurul.
"Tidak apa nyonya biar saya saja! " sahut pelayan yang bernama Nurul itu merasa tidak enak hati.
"Sudah tidak apa! " ucap Airin meyakinkan Nurul.
"Kalau begitu nyonya diantar oleh supir saja! " Ucap Nurul mengikuti langkah kaki Airin dari belakang.
~
~
"Kita sudah tiba nyonya! " ucap sopir yang bertugas mengantarkan Airin begitu mobil yang ia kemudikan berhenti ditempat parkir.
"Bapak tunggu saja disini, aku tidak akan lama. " Ucap Airin keluar dari dalam mobil.
"Baik nyonya! " sahut sopir tersebut.
Airin berjalan memasuki gedung yang menjulang tinggi tersebut dan untuk pertama kali ia menginjakkan kakinya disana. Begitu masuk Airin bingung harus kemana dan seorang resepsionis yang memperhatikan kedatangannya segera menegur Airin.
"Ada yang bisa saya bantu nona? " tanya wanita yang berparas cantik itu.
"Aku diminta untuk mengantarkan berkas ini kepada tuan Evan. " Jelas Airin mengatakan maksud kedatangannya.
Resepsionis itu menatap Airin dari ujung rambut hingga ujung kaki, karena ia belum pernah melihat wanita yang berada dihadapannya itu sekali pun dan yang mengejutkannya lagi wanita itu ingin menemui Evan pemilik perusahaan tempat ia bekerja.
"Tunggu sebentar, saya akan memberitahu asisten pak Evan terlebih dulu. " Ucap wanita cantik yang bernama Yuni itu.
Airin hanya menganggukkan kepalanya sambil menunggu wanita itu menghubungi Hendri.
__ADS_1
"Maaf, dengan nona siapa? " tanya Yuni sambil menjauhkan gagang telpon dari telinganya.
"Airin! " sahut nya singkat.
"Nona Airin, asisten pak Evan meminta anda untuk naik ke lantai 10 . Beliau sudah menunggu anda disana. " Terang Yuni dengan sopan setelah sambungan telepon itu terputus.
"Baik, terima kasih! " sahut Airin menganggukkan kepala dan segera menaiki lip menuju lantai yang dimaksud oleh Yuni.
"Siapa wanita itu? " bisik salah satu karyawan yang mendengar percakapan antara Airin dan juga Yuni.
"Entahlah, Aku juga baru pertama kali melihat dia datang kemari. " Jawab Yuni yang memang belum mengetahui status dari Airin yang merupakan istri dari pemilik perusahaan tempat ia bekerja.
"Tapi dari tampangnya seperti orang biasa saja! " ucap wanita itu lagi.
"Sudah lah, bukan urusan kita! " Sahut Yuni tidak ingin bergosip dengan wanita itu.
Ting
Pintu lip itu terbuka dilantai yang dituju oleh Airin. Ia keluar dari dalam lip sambil mencari-cari Hendri namun ia tidak menemukan Hendri. "Mungkin ini ruangan Hendri. " Pikir Airin setelah menemukan sebuah ruangan.
Ketika ia hendak mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu yang tidak tertutup dengan rapat, Samar-samar Airin mendengar nama ayahnya disebut dari dalam. Airin mengurungkan niatnya dan menurunkan tangannya memilih untuk mendengarkan secara diam-diam apa yang dibicarakan orang yang berada didalam ruangan itu.
"Tapi pah.. "
"Tidak ada tapi tapian! untuk apa aku bersusah payah melenyapkan Paris dan istrinya jika tetap saja perusahaan ini tidak jatuh ke tangan ku. Bahkan Prasetio sudah meninggal pun aku tidak bisa memiliki semua aset peninggalan dari Paris. "
Deg
Airin terkejut dengan apa yang didengarnya, ia tak percaya dengan ucapan orang yang berada didalam ruangan itu. Airin memberanikan dirinya untuk melihat siapa orang yang berada didalam sana.
"Nona anda sedang apa? " suara Hendri mengejutkan Airin yang sedang mengintip dari pintu yang tidak tertutup dengan rapat itu.
"A aku.. aku sedang mencari mu tapi seperti nya aku tersesat. " Seru Airin dengan gugup.
"Maaf, sudah merepotkan anda! " ucap Hendri.
"Ada apa ini? " Seorang wanita cantik dengan pakaian seksinya keluar dari dalam yang juga disusul oleh Pandu Winata orang tua dari wanita yang bernama Cleo itu.
__ADS_1
"Nona Cleo anda disini? " Hendri malah balik bertanya.
"Ya, kenapa? " sahut Cleo acuh.
"Tidak apa-apa, maaf jika sudah mengganggu kalian! " ucap Hendri kemudian mengajak Airin pergi dari tempat itu.
"Nona Airin mari ikut dengan ku! " Hendri melakangkah kan kakinya dan Airin pun mengikuti dari belakang.
"Siapa dia pah? " Cleo menatap Pandu.
"Papa juga tidak tau siapa dia! sudah lah itu tidak penting sekarang. " Pandu kembali masuk keruangannya yang disusul oleh Cleo.
"Nona terima kasih sudah mengantarkan berkas ini dengan tepat waktu. " Ucap Hendri begitu tiba didepan pintu ruang rapat dimana Evan dan yang lainnya sudah berada didalam dan hendak memulai rapat.
"Sama-sama. " Sahut Airin singkat.
"Kalau begitu anda bisa tunggu diruangan itu! " tunjuk Hendri keruangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Sebaiknya aku pulang saja, karna supir yang membawa ku kemari sedang menunggu diluar. " Tolak Airin.
"Begitu rupanya! ya sudah kalau nona ingin pulang apa perlu saya antar kebawah? " tawar Hendri.
"Tidak perlu aku bisa sendiri! " ucap Airin tidak ingin merepotkan Hendri yang akan menghadiri rapat bersama Evan.
"Aku pamit! " Airin pun segera pergi meninggalkan Hendri dan begitu Airin pergi Hendri pun masuk kedalam ruang rapat.
Airin berpapasan dengan Pandu yang hendak mengikuti rapat. Airin menundukkan badannya sebagai bentuk sapaannya kepada orang tersebut. Sementara Pandu hanya melewatinya tanpa memperdulikan Airin.
Airin membalikkan badannya mengikuti punggung pria yang bernama Pandu itu sampai tak terlihat dibalik pintu ruang rapat. "Apa sebenarnya yang terjadi? apakah benar semua yang aku dengar tadi? " isi kepala Airin kembali mengingat pembicaraan Pandu dan juga Cleo yang sudah ia dengar tadi.
"Hei kau sedang apa disini? " suara Cleo membuyarkan lamunan Airin.
"Tidak ada hanya saja aku mau keluar. " Jelas Airin hendak pergi namun Cleo menahan lengannya.
"Siapa kau sebenarnya? kelihatannya kau dekat dengan Hendri. " Selidik Cleo menatap tajam kepada wanita yang baru saja ia temui bahkan namanya saja Cleo tidak tau siapa.
"Maaf nona, sepertinya aku tidak perlu menjelaskan siapa aku kepada mu! " sahut Airin melepaskan genggaman tangan Cleo dari tangannya. Kemudian Airin pergi meninggalkan Cleo tanpa menghiraukan Cleo yang berteriak memanggil dirinya.
__ADS_1
"Enak saja kau ingin merebut suami ku! aku tidak akan tinggal diam saja jika kau melakukan hal itu! " gerutu Airin sambil berjalan menuju lip.
Like, vote dan coment ya gaes!!!!