
"Apa? "
Airin sedikit bingung harus menjawab apa.
"Aku bilang kenapa? " Evan hendak mengulangi kata-katanya namun belum selesai kalimat yang hendak ia katakan Airin sudah memotong lebih dulu.
"Karena hanya dengan begitu aku bisa bertahan bersama mu. " Terang Airin menatap dalam kedua bola mata milik Evan. Seolah mencari tau apakah pria masih tetap pada pendiriannya.
Evan tersenyum kecut dengan apa yang sudah didengarnya. Ternyata wanita itu mempunyai pemikiran diluar dari dugaannya. Karena bukannya merasa tersiksa malah ia mencoba menerima kenyataan dengan hati yang ikhlas.
Semenjak hari itu Evan sudah tidak lagi banyak bicara kepada Airin. Beberapa hari ini ia sangat sibuk. Bahkan ia tiba di mansion ketika hari sudah hampir larut malam. Dan keesokan paginya berangkat lebih awal dari biasanya.
Airin sedikit heran dengan kesibukan Evan yang tidak seperti biasanya, namun ia mencoba untuk tidak memikirkan hal itu. Karena baginya lebih baik memang jika ia dan Evan jarang bertemu.
"Tuan, apa tidak sebaiknya tuan beristirahat saja lebih dulu karena beberapa hari ini tuan sudah bekerja keras hingga larut malam. " Ucap Hendri yang melihat tuannya seperti sedang kelelahan padahal hari masih pagi.
"Tidak bisa Hen! aku harus menyelesaikan semuanya tepat pada waktunya. " Sahut tuannya Evan yang sedang sibuk dengan tumpukan dokumen di depannya.
Pada hal seharusnya beberapa proyek belum waktunya namun Evan sengaja menyiapkan semuanya lebih awal. Itu semua karena ia mengalihkan pikirannya dari Airin dan mencoba untuk sibuk bekerja. Dengan demikian rasa bersalah dihatinya sedikit berkurang karena tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu.
Tapi semakin ia berusaha keras untuk menyibukkan diri tetap saja hal itu mengganggu pikirannya. Hendri yang mengetahui hal itu pun memberikan saran kepada tuannya itu.
"Sebaiknya tuan perbaiki semuanya sebelum terlambat. "
Evan menghentikan gerakan tangannya dan meletakkan dokumen yang ditangannya beralih menatap kepada Hendri yang sedang berdiri tepat didepan meja kerjanya.
"Maksudnya? "
"Tuan, nona Airin tidak ada hubungannya dengan semua yang sudah terjadi dan tak seharusnya ia menerima semua ini. Dan saya rasa semua ini belum terlambat. " Jelas Hendri.
"Entahlah. Aku tidak bisa berpikir dengan baik untuk saat ini. "
"Anda bisa memulainya dari sekarang tuan, sebelum nona Airin benar-benar berubah pikiran. " Saran Hendri.
__ADS_1
"Maksudnya berubah pikiran? " Evan mengkerutkan keningnya sambil melihat kearah Hendri.
"Awalnya nona Airin mau menikah dengan tuan karena saya tau betul jika nona Airin menyukai tuan, tapi setelah mengetahui tujuan tuan yang sebenarnya untuk menikahi dirinya, saya tidak yakin jika beliau akan tetap memiliki perasaan yang sama atau bahkan ia tidak mau semakin kecewa dan perlahan perasaan itu memudar." Terang Hendri panjang lebar kepada tuannya itu agar tidak ada penyesalan dikemudian hari.
"Yang benar saja? kau berbicara berlebihan! " Sahut Evan menepis perkataan dari asistennya tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
"Saya hanya sekedar memberi saran tuan, agar nantinya tidak ada penyesalan. " Ucap Hendri menundukkan pandangannya.
Selepas kepergian Hendri dari ruangan tersebut, Evan terus memikirkan apa yang dikatakan oleh asistennya itu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? " bertanya pada dirinya sendiri sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya. Menatap langit-langit ruangan itu sambil berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang.
Karena sebenarnya Evan merasa sedikit terusik dengan apa yang sudah dikatakan Hendri sebelumnya, namun ia sendiri tidak tau bagaimana dengan perasaannya sendiri terhadap wanita yang sudah ia nikahi itu beberapa waktu yang lalu.
Tengah asik dengan pikirannya yang sedang memikirkan hubungannya dengan Airin, terdengar suara kegaduhan dari luar ruangannya.
"Ada apa? " terusik dengan suara keributan yang tak seperti biasanya. Melangkahkan kakinya menuju pintu keluar namun belum sempat ia meraih gagang pintu tersebut, lebih dulu pintu itu terbuka dan menampilkan Hendri dari balik pintu.
"Tuan! "
"Beberapa petugas kepolisian datang untuk menemui pak Pandu dan sekarang mereka semua sudah berada didalam ruangan pak Pandu. Tapi sepertinya ada sedikit perdebatan disana. " Tutur Hendri menjelaskan apa yang terjadi.
"Kepolisian? "
"Ia tuan. "
"Apa yang sebenarnya terjadi? " tanya Evan penasaran karena Pandu adalah sosok yang baik dimatanya jadi sedikit terkejut kenapa bisa Pandu berurusan dengan kepolisian.
"Sebaiknya tuan lihat secara langsung saja tuan. "
"Baiklah, ayo! " Evan keluar dari ruangannya menuju ruangan Pandu yang tidak jauh dari ruangannya dan diikuti oleh Hendri dari belakang.
Begitu tiba diruangan Pandu, dan benar saja sudah ada beberapa kepolisian yang sudah berada didalam sana.
__ADS_1
"Ada apa ini? " tanya Evan begitu ia tiba.
"Maaf tuan Evan Hamka, kami datang membawa surat penangkapan atas pak Pandu." Jelas salah satu diantara beberpa orang yang mengenakan seragam kepolisian itu.
"Maksudnya? " Evan belum mengerti kenapa bisa mereka membawa surat perintah penangkapan kepada Pandu.
"Pak Pandu terlibat dalam kasus atas meninggalnya orang tua dari tuan Evan sendiri. " Jelasnya lagi yang membuat Evan terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar olehnya.
"Tapi bagaimana bisa? " Evan masih ingin memastikan lebih lagi tentang kebenaran yang baru terungkap itu.
"Tuan, biarkan saja mereka melakukan tugasnya. " Kali ini Hendri yang berbicara kepada tuannya itu.
"Evan... Tolong jangan percaya begitu saja. Aku tidak bersalah dalam kasus ini, dan tidak ada hubungannya dengan ku. " Ucap Pandu berjalan mendekati Evan dan meminta Evan agar percaya dengan ucapannya.
Evan yang berada di situasi seperti itu tidak dapat berbuat apa-apa. Sejenak ia berpikir untuk mencerna apa yang terjadi pada saat itu.
"Maaf Pak Pandu, sebaiknya anda tidak bersikeras disini dan lebih baik membuktikan jika anda memang tidak terlibat. " Peringat Hendri karena ia tau betul apa yang terjadi dan hal itu terjadi karena ia lah yang berada dibalik itu semua tanpa sepengetahuan dari Evan tuannya itu.
"Kau! " Pandu menatap tajam kepada Hendri memperlihatkan ketidak sukaannya kepada asisten dari Evan tersebut yang selalu saja membuatnya kesal.
"Maaf tuan Evan, kami harus segera membawa pak Pandu. " Ucap salah satu polisi itu lagi.
"Tidak bisa seperti itu! " tolak Pandu yang tidak ingin dibawa oleh pihak kepolisian karena bisa hancur reputasi yang ia bangun selama ini dalam sekejap saja.
"Tuan? " Hendri kembali ingin mengingatkan tuannya itu agar tidak membela Pandu pada saat itu. Evan yang mengerti maksud dari Hendri segera mengijinkan petugas kepolisian itu untuk menjalankan tugasnya.
"Silahkan lakukan tugas anda! " perintah Evan yang membuat Pandu tidak terima.
"Evan... Kenapa kau tidak mempercayai aku ha? aku tidak ada hubungannya dengan semua ini! " Kesal Pandu sambil menghempaskan tangan kepolisian yang hendak membawanya.
"Aku bisa berjalan sendiri! " Ketus Pandu karena tidak ingin dibawa layaknya seperti penjahat karena ia tidak ingin terlihat demikian didepan para karyawan diperusahaan itu.
Dan benar saja semua karyawan yang melihat seorang Pandu dibawa pihak yang berwajib membuat mereka bertanya-tanya dan tidak sedikit juga yang berbisik-bisik menggunjingnya.
__ADS_1
"Bisa kau jelaskan semua ini? "