
" Apakah nona Rebecca sudah selesai?" tanya asisten Rey tanpa memperdulikan ucapan adik tirinya Rebecca.
" Sudah," jawab dokter Rebecca singkat
" Kalau begitu kita pulang saja nona karena tuan Richard menunggu nona di mansion karena dari butik sebentar lagi akan datang untuk memperlihatkan gaun pengantin dan beberapa perhiasan untuk acara pernikahan," ucap asisten Rey.
Asisten Rey mempersilahkan dokter Rebecca untuk berjalan terlebih dahulu ketika ibu tiri dan adik tirinya ingin menghalangi dokter Rebecca di tatap tajam oleh asisten Rey membuat mereka takut dan hanya bisa menahan amarah dan iri terhadap keberuntungan dokter Rebecca.
Dokter Rebecca berjalan keluar dengan diikuti oleh asisten Rey. Di dalam mobil asisten Rey melihat di spion mobil dokter Rebecca hanya diam tidak bicara sedikit pun hanya menatap keindahan jalan raya yang berlalu lalang lewat jendela mobil.
Asisten Rey hanya bisa diam dan bingung mau bicara apa sehingga dalam perjalanan mereka hanya diam membisu tanpa ada bicara sedikitpun.
Singkat cerita kini mereka sudah sampai di Mansion milik tuan Richard. Asisten Rey membuka pintu mobil untuk membuka mobil untuk dokter Rebecca.
" Sudah sampai nona." Ucap asisten Rey.
" Terima kasih tuan." Jawab dokter Rebecca sambil turun dari mobil sambil membawa tas miliknya.
" Aku bawa saja nona tasnya dan aku pinta panggil lah namaku Rey atau kak Rey seperti sebelumnya." Ucap asisten Rey.
" Tidak usah tuan dan mengenai panggilan maaf aku hanya seorang budak jadi sudah sepantasnya seorang budak memanggil majikan dengan sebutan tuan." Jawab dokter Rebecca sambil tersenyum.
Selesai mengatakan hal itu dokter Rebecca berjalan menaiki anak tangga sedangkan asisten Rey hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat.
" Aku sangat yakin nona Rebecca mendengar percakapan kami dan selalu menganggap dirinya seorang budak. Aku hanya bisa berharap tuan Richard tidak lagi mengatakan hal-hal yang menyakitkan karena aku sangat yakin kalau nona Rebecca adalah wanita berbeda seperti di luaran sana." ucap asisten Rey sambil melangkahkan ke dua kakinya ke arah tangga menuju kamar tuan Richard.
Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan dokter Rebecca masuk ke dalam kamarnya kemudian mulai membongkar tasnya dan menyimpan piala di atas meja dekat sofa dan dekat ranjang tempat tidur sedangkan foto dan kotak yang berisi perhiasan, buku tabungan dan ATM masih di dalam tas dan disimpan di kolong tempat tidur.
" Suatu saat nanti jika aku diusir aku tinggal bawa tas milikku ini tanpa membawa barang-barang yang bukan milikku." Ucap dokter Rebecca.
Setelah selesai semua dokter Rebecca membersihkan dirinya di kamar mandi dengan berendam di dalam bathtub untuk melupakan kesedihannya.
Kini asisten Rey sudah berada di depan pintu tuan Richard kemudian mengetuk pintu kamarnya.
__ADS_1
tok
tok
tok
Tuan Richard yang sudah tertidur pulas memaksakan matanya untuk di buka.
" Masuk." Ucap tuan Richard sambil menguap.
Asisten Rey membuka pintu kamar tuan Richard dan berjalan mendekatinya ke arah ranjang.
" Maaf tuan, tugasnya sudah selesai." Ucap asisten Rey.
" Baik antar aku ke kamarnya." Jawab tuan Richard.
Asisten Rey mendorong kursi roda tuan Richard keluar dari kamarnya menuju ke kamar dokter Rebecca.
tok
tok
tok
Karena tidak ada jawaban dari dokter Rebecca membuat tuan Richard menjadi panik. Tuan Richard memerintahkan asisten Rey untuk membuka pintu kamar dokter Rebecca kemudian tuan Richard berbicara ke kursi roda dan otomatis kursi roda itu pun berjalan mengikuti perintah tuan Richard.
Tuan Richard melihat sekeliling kamar dokter Rebecca tapi tidak ada. Hingga mata elangnya menangkap pintu balkon kamar dokter Rebecca terbuka.
" Tinggalkan aku sendiri." Perintah tuan Richard.
" Baik tuan." Jawab asisten Rey patuh.
Asisten Rey menunduk hormat kemudian meninggalkan mereka berdua tapi sebelumnya menutup pintu kamar dokter Rebecca terlebih dahulu.
__ADS_1
Tuan Richard memerintahkan kursi rodanya menuju ke arah balkon. Tuan Richard melihat dokter Rebecca sedang duduk termenung menatap ke arah langit dan tidak menyadari kedatangan tuan Richard.
" Sedang memikirkan apa?" Tanya tuan Richard.
" Aduh tuan bikin kaget saja untung aku tidak jantungan." jawab dokter Rebecca sambil mengusap-usap dadanya karena dirinya sangat terkejut akan kedatangan tuan Richard yang tiba - tiba.
" Dari tadi kamu menyebutku dengan sebutan tuan, ada apa?" Tanya tuan Richard yang tidak suka dokter Rebecca merubah panggilannya sambil menaikkan salah satu alisnya.
" Tidak ada apa - apa hanya saja terasa aneh kalau memanggil honey sepertinya lebih enak memanggil tuan." Jawab dokter Rebecca.
" Tapi aku tidak suka mendengarnya, mulai sekarang dan seterusnya panggil aku dengan sebutan honey." ucap tuan Richard dengan nada tegas.
" Tapi bukankah aku ini hanyalah seorang budak? Jadi sudah sepantasnya seorang budak memanggil dengan sebutan tuan Richard bukan memanggil dengan sebutan honey." Jawab dokter Rebecca
" Rebecca!!!" Bentak tuan Richard naik satu oktaf.
Tuan Richard sangat tidak suka di bantah karena itu tuan Richard tanpa sadar membentak dokter Rebecca.
" Maafkan aku, ada apa honey ke sini?" Tanya dokter Rebecca sambil menahan air matanya agar tidak keluar karena sudah dua pria yang sudah membentak dirinya pertama ayah kandungnya dan yang ke dua calon suaminya.
" Apakah calon suami datang ke kamar istri di larang? Kamu saja boleh masuk dan keluar dari kamarku. Kenapa aku tidak boleh??" tanya tuan Richard naik satu setengah oktaf membuat telinga dokter Rebecca berdengung.
" Maafkan aku." Jawab dokter Rebecca.
" Habis mandi?" tanya tuan Richard karena melihat rambut dokter Rebecca masih ditutupi handuk kecil tanpa memperdulikan perasaan dokter Rebecca yang saat ini sedang terluka akibat bentakan tuan Richard.
Dokter Rebecca hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab ucapan tuan Richard.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
🌹
Terima kasih sudah mampir di ceritaku.
__ADS_1
Sambil menunggu lanjutannya, ini ada karya teman ku di jamin pasti ok punya.... bisa mampir dan nikmati untuk para pembaca novel setiaku dengan judul :