Menikahi CEO Cacat Dan Lumpuh

Menikahi CEO Cacat Dan Lumpuh
Kenapa menangis?


__ADS_3

" Oh iya satu hal yang belum kukatakan pada tuan?" tanya asisten Rey.


" Apa itu?" tanya tuan Richard penasaran.


" Setelah nona Rebecca melahirkan, tuan akan menceraikan dan memberikan kompensasi benar begitu tuan?" tanya asisten Rey..


" Iya benar, aku akan menceraikan nya dan memberikan kompensasi yang besar untuk usaha atau terserah dia menghamburkan uangnya aku tidak akan peduli" Ucap tuan Richard.


" Nona Rebecca tidak akan mau menerimanya karena nona Rebecca akan pergi jauh dan tinggal di panti asuhan untuk mengurus anak-anak yang terlantar" Ucap asisten Rey.


" Dari mana kamu tahu?" tanya tuan Richard dengan nada curiga.


" Nona Rebecca cerita padaku." Ucap asisten Rey.


" Aku tidak percaya." Jawab tuan Richard.


" Itu hak tuan, kita bisa tahu setelah nona Rebecca sudah melahirkan." Ucap asisten Rey pasrah karena sulit menyakinkan tuan Richard.


Tuan Richard hanya diam tidak menjawab ucapan asisten Rey. Tidak berapa lama pintu kamar operasi terbuka dan tampak dokter berjalan ke arah mereka berdua begitu dengan tuan Richard dan asisten Rey. Asisten Rey mendorong kursi roda tuan Richard menuju ke arah dokter tersebut.


" Bagaimana keadaan calon istriku?" tanya tuan Richard.


" Lukanya tidak terlalu dalam dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan VVIP jika biusnya sudah habis nona Rebecca akan tersadar." Ucap dokter tersebut.


Tuan Richard dan asisten Rey merasa lega karena nona Rebecca tidak mengalami luka serius. Tidak berapa lama ruang operasi terbuka dan dua orang perawat membuka pintu ruang operasi kemudian mendorong brankar di mana nona Rebecca masih terbaring lemah.


Asisten Rey langsung mendorong kursi roda tuan Richard dan masuk ke dalam ruang perawatan VVIP.


" Tinggalkan kami berdua." Perintah tuan Richard


" Baik tuan." Jawab asisten Rey patuh.


Asisten Rey pun meninggalkan tuan Richard berdua dengan nona Rebecca. Tuan Richard menatap wajah pucat calon istrinya tapi masih terlihat sangat cantik yang masih setia memejamkan matanya.


" Jujur aku sangat takut ketika kamu terluka seperti ini. Di satu sisi aku sudah mulai mencintaimu dan takut kehilanganmu tapi di sisi yang lainnya ketika hatiku sudah siap untuk mencintaimu aku takut kamu sama seperti mantanku terlebih mengingat ibumu selingkuh dengan pria lain yang bisa saja kamu pun bisa juga selingkuh dengan pria lain mengikuti jejak ibumu. Jujur aku sangat nyaman bersamamu dan aku sudah mulai ada perasaan padamu tapi di saat yang bersamaan aku berusaha menghilangkan semua rasa karena aku tidak ingin terluka lagi." Ucap tuan Richard.


" Eughhh... sstttt sakit." Ucap dokter Rebecca merintih.

__ADS_1


Dokter Rebecca menggeliatkan tubuhnya namun baru saja menggerakkan tubuhnya perut dokter Rebecca terasa perih membuat dokter Rebecca menyentuh perutnya secara perlahan.


Ketika dokter Rebecca menggeliatkan tubuhnya tuan Richard meletakkan kepalanya di samping ranjang dokter Rebecca dan memejamkan matanya. Tuan Richard pura-pura tidak mendengar rintihan dokter Rebecca.


Sebenarnya tuan Richard ingin memperhatikan dokter Rebecca tapi perasaan takut kecewa membuatnya menghilangkan semua rasa empatinya. Dokter Rebecca perlahan membuka matanya dan melihat sekelilingnya.


Dokter Rebecca melihat tuan Richard sedang tertidur dan kepalanya berbaring di samping ranjangnya. Dokter Rebecca perlahan menyentuh wajah tuan Richard.


" Aku tidak tahu kenapa dekat denganmu aku merasakan nyaman. Jujur baru kali ini aku merasakan nyaman yang tidak pernah aku rasakan seumur hidupku, jantungku berdetak kencang ketika dirimu memelukku apakah aku sudah mulai jatuh cinta padamu? tapi bagaimana mungkin aku secepat itu cinta padamu?" Gumamnya pelan tapi terdengar jelas di telinga tuan muda Richard.


" Jika aku memelukmu aku merasakan tubuhku hangat dan merasakan nyaman aku juga merasakan aman jika dekat denganmu." sambung dokter Rebecca.


Setelah berkata demikian dokter Rebecca memejamkan matanya kemudian tidak berapa lama dokter Rebecca pun sudah tertidur kembali dengan pulas karena efek dari obat tidur yang masih tersisa.


Tuan Richard yang mendengar dengkuran halus langsung membuka matanya dan mengecup bibir dokter Rebecca singkat.


" Aku juga merasakan nyaman bersamamu." Ucap tuan Richard sambil tersenyum.


Tidak berapa lama tuan Richard membaringkan kepalanya ke ranjang dengan menggunakan ke dua tangannya dan tangan kanan dokter Rebecca sebagai bantalannya sedangkan tubuhnya duduk di kursi rodanya. Mereka berdua tidur mengarungi lautan mimpi yang sangat indah.


" Ssttt.. tanganku kenapa berat dan kram." Ucap dokter Rebecca sambil melihat ke arah samping.


" Apakah kamu ingin mengatakan gara - gara aku tanganmu jadi kram?" tanya tuan Richard sambil membuka matanya dan menatap tajam ke arah dokter Rebecca.


" Tidak tuan Richard, hmm.... tuan Richard aku lapar." Ucap dokter Rebecca mengalihkan pembicaraan walau sebenarnya gara - gara tuan Richard lah tangannya kram tapi tidak diakui.


" Aku akan menghubungi asisten Rey, mau pesan apa?" Tanya tuan Richard.


" Apa saja tuan." Ucap dokter Rebecca


" Ok." Jawab tuan Richard dengan nada singkat.


Tuan Richard duduk dengan tegak kemudian mengambil ponselnya yang berada di meja dekat ranjang dokter Rebecca. Tuan Richard menghubungi asisten Rey untuk membelikan makanan untuk dokter Rebecca berupa bubur. Setelah selesai menghubungi asisten Rey tuan Richard menyimpan kembali ponselnya di atas meja.


" Tuan Richard." Panggil Karen


" Panggil honey,'' ucap tuan Richard.

__ADS_1


" Bukankah aku budak yang di beli? jadi sudah sepantasnya aku memanggil dengan sebutan tuan Richard," jawab dokter Rebecca.


" Sebentar lagi kita menikah panggil aku dengan sebutan honey," ucap tuan Richard sambil menatap tajam ke arah dokter Rebecca.


" Baiklah, kenapa honey membawaku di rumah sakit?" tanya dokter Rebecca yang tidak ingin ribut.


" Aku tidak mau kamu mati di mansion ku." Ucap tuan Richard dengan nada dingin dan wajah datar tanpa mengetahui kalau ucapannya membuatnya terluka.


" Berarti jika seandainya aku sekarat di luar, honey tidak akan memperdulikan aku?" Tanya dokter Rebecca.


" Ya benar." jawab tuan Richard.


Dokter Rebecca hanya bisa tersenyum menahan kesedihannya.


" Honey, aku masih mengantuk tolong telepon asisten Rey kalau aku tidak lapar." Ucap dokter Rebecca sambil memejamkan matanya.


" Apakah kamu yakin?" Tanya tuan Richard.


" Ya sangat yakin." Ucap dokter Rebecca sambil memiringkan tubuhnya dengan perlahan karena perut dan punggungnya mulai terasa perih dan membelakangi tuan Richard.


" Baiklah." Jawab tuan Richard sambil menghubungi asisten Rey untuk membatalkan membeli makanan setelah selesai tuan Richard menyimpan ponselnya di saku celana panjangnya.


" Bisakah aku di tinggal sendiri." Pinta dokter Rebecca


" Apakah kamu yakin?" Tanya tuan Richard


" Yakin." jawab dokter Rebecca.


" Baiklah, aku akan menyuruh pengawal untuk menjagamu." Ucap tuan Richard.


" Tidak usah dan jangan kuatir aku tidak akan kabur karena aku adalah seorang budak yang tahu diri." Ucap dokter Rebecca tidak berapa lama air matanya keluar.


Tuan Richard tidak suka mendengar ucapan dokter Rebecca dan tangannya diarahkan ke dagu Rebecca agar menatap dirinya. Matanya membulat sempurna melihat wajah dokter Rebecca dipenuhi air mata.


" Kenapa menangis?" Tanya tuan Richard sambil menghapus air mata dokter Rebecca tanpa menyadari kalau perkataannya melukai perasaannya.


" Tidak apa - apa, aku mohon tinggalkan aku." Mohon dokter Rebecca sambil menatap mata calon suaminya dengan sendu.

__ADS_1


__ADS_2