
Bram mendekati wanita yang bisa dia kenali meskipun dari jarak jauh. Wanita itu masih tidak berubah wajahnya. Hanya saja saat ini badannya sedikit kurus.
"Widia?" Panggil Bram yang tiba-tiba berdiri di belakang Widia hingga membuatnya terkesima saat mendengar suara itu lagi setelah bertahun-tahun lamanya.
Ibunya Nandini yang bernama Widia lalu menoleh ke arah suara yang sangat dia kenal di masa lalu.
"Mas Bram?" tiba-tiba saja kakinya menjadi lemah seketika saat tanpa sengaja bertemu dengan mantan suaminya.
"Sudah lama sekali aku mencarimu di kampung itu. Kau kemana saja dengan bayi kita?" tanya Bram yang saat itu meninggalkan Widia dan Nandini kecil di sebuah desa. Namun saat dia kembali, mereka sudah pindah ke desa lain dan tidak ada yang tahu alamatnya.
"Aku pindah dari desa Hulu itu. Disana tidak aman. Jadi aku pergi bersama Nandini dari sana, lalu saat didesa yang baru aku dengar kau menikah di kota. Jadi aku putuskan untuk tidak menunggumu lagi," kata Widia.
"Iya. Aku menikah dalam perjodohan karena tidak menemukan dirimu. Aku mencarimu dan akan aku bawa ke kota. Tapi kau entah ada dimana saat itu. Sehingga aku tidak bisa menolak keluargaku," kata Bram teringat akan kisah lampau dirinya yang di paksa menikah oleh orang tuanya.
Widia nampak mengusap beberapa titik airmatanya yang menetes di pipi. Dan disaat itu, Nandini keluar ke halaman karena dia bosan berada didalam kamar.
"Ibu....." Nandini berjalan ke arah ibunya dan memanggilnya.
"Ibu kemana saja? Aku mencemaskanmu..." kata Nandini yang tidak melihat ibunya di pesta pernikahannya.
"Maafkan ibu tidak mengabarimu. Ibu ke rumah sakit nak. Karena tiba-tiba saat melihatmu menikah, jantung ibu berdebar sangat kencang karena sangat bahagia. Dan setelah itu ibu merasa nyeri di dada sini, jadi ibu ke rumah sakit saat itu juga," jelas ibunya dan Nandini menghambur memeluknya.
Bram terpaku di tempatnya berdiri. Dalam hati menebak jika yang memeluk Widia adalah putrinya. Dan sesaat dia terpaku karena artinya putrinya yang saat kecil dia beri nama Nandini, kini menjadi istrinya Viktor.
"Bu...ayo masuk ke dalam..." ajak Nandini menatap lekat wajah ibunya. Namun tiba-tiba dia terpaku pada pria yang berdiri di belakang ibunya.
"Bu....siapa...."
Belum sempat Nandini meneruskan kalimatnya, Widia langsung memotongnya.
"Dia adalah...." Ibunya bahkan tidak kuasa berbicara jujur dengan putrinya jika pria ini adalah ayahnya.
"Aku adalah ayahmu," kata Bram melanjutkan kalimat Widia yang tidak selesai.
Nandini terbelalak dengan terkejut dan menatap ibunya mencari kebenaran dari pengakuan pria ini.
Ibunya mengangguk perlahan dan anggukan ibunya berarti sebuah kebenaran.
__ADS_1
"Ayah....." Nandini yang memang merindukan sosok ayah sejak kecil langsung memeluknya. Bram memeluk Nandini juga dan mengusap kepalanya.
"Maafkan ayah nak. Ayah tidak bersama kalian hingga kau sebesar ini,"
"Memangnya kau kemana saja? Kenapa tidak bersama kami?" tanya Nandini seraya terus memeluk ayahnya.
"Ceritanya panjang nak," kata Bram.
Nandini melepaskan pelukannya dan menatap ayah serta ibunya.
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu..." kata Nandini menatap ayah dan ibunya secara bergantian.
Ayahnya nampak mengangguk dan sangat bahagia karena bertemu dengan Widia serta anaknya di masa lalu.
"Mari masuk kedalam. Ini adalah rumah suamiku..."
Deg.
Ibunya terkesima melihat besarnya dan mewahnya rumah suami putrinya itu. Tidak menyangka di dalam hati jika suami putrinya adalah seorang konglomerat yang kaya raya.
"Benar Bu,"
Sementara Bram menghentikan langkah kakinya saat tahu jika Nandini adalah istri dari tunangan Virlie. Dalam hati dia bimbang dan ragu akan tujuan dia datang kemari. Awalnya dia akan meluruskan semua kesalahan Virlie yang telah salah paham hingga memutuskan hubungan dengan Viktor. Namun di sisi lain, salah satu putrinya justru menggantikan posisinya. Sebagai ayah, dia benar-benar tidak bisa memilih salah satu kebahagiaan putrinya.
"Nak, ayah tidak ikut ke dalam. Ayah akan datang lagi besok. Sekarang ada urusan mendadak," kata Bram bicara pada Nandini.
Nandini menatap ayahnya dan sebenarnya dia masih ingin bersamanya lebih lama. Tapi sepertinya bukan hari ini.
"Baru bertemu tapi kau sudah akan pergi lagi?"
"Maafkan ayah nak...Besok ayah akan datang lagi menemuimu" kata Bram lalu mengecup kening putrinya dan sekali lagi menatap wajah Widia sambil tersenyum kecil lalu pergi dari halaman rumah Viktor.
"Bu...ayo masuk kedalam. Aku akan memperlihatkan padamu baju yang sangat banyak dan indah. Dan semua itu bisa aku pakai kapan saja," kata Nandini dengan bahagia.
Tapi tiba-tiba saat teringat jika suaminya dan dirinya tidak saling mencintai, wajahnya menjadi suram dan sedetik kemudian kebahagiaan itu tidak nampak lagi di wajahnya.
"Kenapa berhenti. Katanya mau mengajak ibu jalan-jalan di rumahmu yang besar ini?" tanya ibunya sambil terus memperhatikan setiap ruangan di dalam rumah itu yang sepi.
__ADS_1
"Eh, i-iya..."
Nandini lalu berjalan ke ruangan yang penuh dengan baju yang tertata rapi dan indah.
"Ibu tidak menyangka kau memiliki semua ini nak. Lalu dimana suamimu?" tanya ibunya karena dari tadi tidak melihat suami Nandini.
"Ehm, dia...dia ada di kamar Bu. Dia sedang istirahat," jawab Nandini yang sekarang suasana hatinya berubah menjadi cemas.
Jika ibunya tahu dia dan Viktor menikah namun hubungan mereka tidaklah baik, maka Nandini khawatir akan membuat ibunya sedih dan sakitnya kambuh.
"Nak, ibu tidak bisa lama-lama disini. Ibu hanya ingin bertemu denganmu. Sekarang ibu sudah tenang melihat kau bahagia. Ibu akan kembali ke kontrakan saja,"
"Tapi...."
"Ibu tahu kau ingin ibu menetap disini. Tapi rasanya tidak nyaman tinggal di rumah menantu. Ibu lebih nyaman tinggal di kontrakan saja," kata ibunya dan setelah di pikirkan matang-matang oleh Nandini, diapun mengangguk setuju.
Bagaimana pun ibunya memang tidak bisa tinggal disini. Atau akan tahu bagaimana pernikahan yang dia jalani. Sebenarnya pernikahan ini hanyalah formalitas saja, mungkin esok atau lusa, Viktor akan menceraikan dirinya dan kembali pada Virlie, batin Nandini.
Nandini lalu mengantar ibunya sampai di halaman depan.
"Sudah. Sampai sini saja nak," kata ibunya.
Setelah ibunya naik taksi, Nandini berbalik dan melihat ke jendela atas. Dia melihat Viktor berdiri disana sambil menatap dirinya tajam.
"Nandini! Tangkap ini!"
Viktor berteriak dari jendela dengan botol minuman soda yang telah habis.
Dengan cepat dia lemparkan ke arah Nandini.
Nandini terkejut dan segera menangkap botol yang sudah tidak ada isinya itu.
"Tolong di buang!" Setelah bicara seakan Nandini adalah pelayan, dia tidak terlihat lagi di jendela. Nandini menggertakkan kedua gigi serinya dan hatinya sungguh kesal karena sikap arogan suaminya itu.
"Dia bisa membuangnya sendiri. Kenapa harus aku? Bahkan melempar botol ini dari atas. Sangat keterlaluan!" rutuk Nandini sangat kesal.
Dia lalu membuka tempat sampah setelah itu melempar botol bekas ke dalamnya.
__ADS_1