Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh

Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh
Bab 7 Terhukum dalam pernikahan


__ADS_3

"Kenapa aku pura-pura lumpuh?" Viktor justru mengulang pertanyaan itu..Dia tertawa kecil menyeringai sambil mengerutkan dahinya, matanya tetap menatap tajam wajah Nandini.


Sambil mengangguk beberapa kali, Viktor punya jawaban yang tepat.


"Karena kau!" Tiba-tiba saja kata itu yang justru keluar dari bibirnya. Padahal sebenarnya pernikahan dirinya dengan gadis ini tidak lebih berawal karena pengkhianatan Virlie. Karena dia malu punya suami pria cacat. Dan pengkhianatan Virlie membawa Nandini masuk ke dalam lingkaran takdirnya.


Nandini terkesima dan menatap Viktor dengan wajah bingung. Dengan cepat dia lemparkan selimut itu ke atas ranjang lalu dia berdiri menatap Viktor.


"Aku? Maksudmu, semua ini sudah direncanakan?" tanya Nandini.


"Hem, ya!" Viktor sengaja menjawab seperti ini.


Nandini menatap Viktor dan membalikkan tubuhnya, mengatur pernafasannya dan memegangi kepalanya yang menjadi berat. Tiba-tiba pagi ini dia terbangun dengan status baru. Istri pria konglomerat yang tidak dia cintai. Apa yang harus dia lakukan untuk hari-hari berikutnya? Nandini menggigit bibirnya pastinya penuh penyesalan. Hari-hari suram terbentang didepan mata.


"Jika kau tidak mandi, kemasi barangmu lalu kita akan kembali ke rumah!" kata Viktor kesal saat melihat Nandini bahkan tidak melipat selimut yang sudah dia pakai.


"Kerumah? Rumahku?" tanya Nandini berharap akan kembali kerumahnya dan bertemu dengan ibunya.


"Tentu saja rumahku! Cepat lipat selimut ini lalu mandi. Kau sangat bau dan aku tidak tahan duduk dekat denganmu nanti didalam mobil jika kau tidak mandi!"


"Apa katamu?!"


Viktor keluar dari kamar pengantin itu dan akan pergi sarapan sendirian. Dia tidak mempedulikan Nandini, karena dia hanyalah gadis yang akan dia hukum karena menggagalkan pernikahan nya dengan Virlie.


Bagus! Jika bulan penjara hukumannya maka pernikahan ini akan menghukum mu! kata Viktor setelah menutup pintu kamar itu.


Melihat Viktor keluar dari kamar pengantin nya, Nandini menarik nafas lega. Dia menoleh pada selimut itu lalu dengan cepat melipatnya.


"Badanmu bau!" Gumam Nandini mengulangi ucapan Viktor setelah selesai melipat selimut. Dia lalu mengangkat kedua tangannya dan mendekatkan wajahnya pada kedua ketiaknya. Mengendus mencium baunya.


"Hanya bau sedikit, memangnya badannya tidak bau? Dasar! Belum pernah aku bertemu pria seperti dirinya! Berterus terang mengatakan badan orang bau di hadapan ku! Sangat tidak tahu adat! Tidak bisa menjaga perasaan orang!"

__ADS_1


Dengan ngedumel Nandini masuk ke kamar mandi. Dia sendiri mencium aroma tak sedap dari tubuhnya.


Saat keluar akan sarapan juga, dia melihat Viktor sedang makan sarapan di hotel itu.


Nandini kesana untuk sarapan juga. Namun saat dia baru saja minum, Viktor sudah berdiri di belakangnya.


"Ayo kita ke rumah!"


"Tapi aku mau sarapan!" kata Nandini yang sudah menelan air liurnya melihat semua hidangan buang lezat di depan matanya.


"Ini! Makan roti ini! Ayo kembali ke kamar dan bawa koperku juga kopermu!"


"Apa? Kau menyuruhku makan roti saja sementara ada makanan lain yang lebih lezat!" Nandini terbelalak kaget saat Viktor memberikan roti padanya.


"Kau tidak pantas makan semua itu. Itu makanan para konglomerat. Kau hanyalah gadis ceroboh yang harusnya ada di penjara saat ini. Kau tahu makanan penjara seperti apa bukan? Kau pilih sekarang? Roti ini atau makanan penjara?" Viktor bicara dengan menatap bulat-bulat wajah tak berdaya Nandini. Tentu saja tidak sesombong sebelumnya ketika dia bisa berdiri tegak sementara Viktor duduk di kursi roda.


Jika di ingat kan akan penjara, maka Nandini menjadi penurut. Sekarang dia bersama pria kaya ini, lebih baik bersamanya daripada di lempar ke dalam penjara dan mendekam disana.


Rupanya hal itu juga di perhatikan dan di ketahui oleh Viktor. Bukannya kasihan atau punya rasa iba, dia malah tersenyum menyeringai saat bisa menghukum gadis itu seperti kehendaknya.


"Ayo cepat. Aku tunggu disini!" Viktor berkacak pinggang. Sementara Nandini berbalik akan ke kamar mereka untuk mengambil kopernya juga koper Viktor.


Nandini turun tidak lama dengan dua koper di tangannya keluar dari Lift.


Viktor merasa puas melihat gadis itu kepayahan dan baginya ini adalah pembalasan darinya karena kelakuan Nandini yang membuat pernikahannya dengan Virlie gagal karena dia mengalami kecelakaan.


Dengan terseok-seok Nandini berjalan mendekati suaminya. Roti itu sudah habis dia makan karena lapar sebelum menarik kedua koper itu. Viktor melihat cara jalannya yang membuatnya kesal karena lambat seperti siput.


"Cepatlah!"


Nandini tidak menjawabnya. Hanya menatap wajah suaminya dengan semua kutukan dalam hatinya untuk sikap arogannya ini.

__ADS_1


.....


Mereka akhirnya sampai di rumah Viktor. Lima pelayan sudah menunggu Nandini di teras. Dan didepan pelayan nya, Viktor bersikap lembut pada Nandini.


"Mari nona," Sambil berkata demikian, dua orang dari pelayan itu mengambil koper dari tangannya.


"Selamat atas pernikahan mu nona," kata salah seorang pelayan itu.


"Kami sudah merapikan kamar serta menyiapkan semua pakaian untuk anda,"


"Pakaian apa maksudnya?" tanya Nandini bingung.


"Saya akan mengantar anda untuk melihatnya," kata pelayan itu mengajak Nandini.


Saat ini Viktor entah pergi kemana. Tiba-tiba saja sudah tidak ada disampingnya.


Mereka sampai di kamar yang luas. Dan kamar itu penuh dengan bajunya juga baju Viktor. Tertata rapi bak toko baju. Nandini sampai terpana melihat semua baju indah yang kata pelayan nya semua adalah miliknya.


"Semua pakaian ini sudah dipersiapkan Tuan sejak dua bulan yang lalu," kata pelayan nya.


Dalam hati Nandini terkejut dan membatin, "Artinya semua baju ini dipersiapkan untuk calon istrinya bukan? Ah, siapa calon istrinya itu? Kenapa mereka batal menikah?" batin Nandini yang tidak tahu jika calon pengantin Viktor adalah atasannya sendiri, CEO Virlie.


"Silahkan ganti baju anda dengan yang ini nona. Sebentar lagi Tuan dan Nyonya besar akan datang," kata pelayan itu.


Nandini melihat gaun indah yang biasanya dia lihat di pakai para artis di televisi. Kini dia benar-benar memakainya, dalam hati tidak pernah terlintas sedikitpun bisa memiliki gaun seindah ini. Jelas saja, dia sadar sebabnya. Dia adalah orang miskin didesanya, mungkin paling miskin di antara para tetangganya.


Ketika keluar dari ruang ganti, pelayan itu tersenyum ramah dan mengangumi kecantikannya.


"Kau sangat cantik nona," kata pelayan itu yang sebenarnya tidak tahu jika Nandini bukanlah wanita yang di jodohkan sebelumnya. Melainkan dia adalah pengantin pengganti dadakan.


"Mari keluar, Tuan dan Nyonya sudah datang dan sedang menunggu anda," kata pelayan itu berjalan lalu di ikuti Nandini di belakangnya. Mereka saat ini berada di rumah yang besar dan luar bak istana. Rumah keluarga Viktor sang Konglomerat. Rumahnya begitu banyak dan ada di setiap kota. Dan disini, biasanya hanya ada Viktor saja, karena ayah dan ibunya sering berpindah-pindah dari kota ini ke kota lainnya karena bisnis yang ada di mana-mana.

__ADS_1


__ADS_2