Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh

Menikahi Konglomerat Pura-pura Lumpuh
Bab 12 Berharap diceraikan


__ADS_3

"Aku harus ke dokter. Bisa bantu aku bangun?" kata Viktor karena nyeri di kakinya semakin tidak tertahankan saja. Nandini terpaku sedikit serius. Lalu beralih menatap kaki Viktor. Membuat dia teringat akan kecelakaan itu akibat kecerobohan nya yang tidak hati-hati saat menyeberang jalan.


"Bukankah kau sudah sembuh?" tanyanya kemudian.


"Ini semua karena dirimu. Jika kau tidak keluar kemarin maka kakiku tidak akan sakit," Viktor mulai marah lagi pada Nandini.


"Apa maksudmu?" Nandini terbelalak saat dia bertanya baik-baik tapi malah di marahi olehnya.


"Aku berjalan setengah berlari. Dokter melarangnya," aku Viktor.


"Aku tidak menyuruhmu mengikutiku. Sudah ku bilang aku hanya pergi sebentar," Nandini menjadi kesal juga akhir nya jika terus menerus di salahkan.


"Aku pikir kau akan kabur. Jadi aku diam-diam mengikuti mu," katanya sambil meringis menahan ngilu.


"Cepatlah. pegang tanganku. Ayo segera temui dokter!" Melihat ekspresi wajah Viktor, Nandini yakin jika kakinya benar-benar membutuhkan pertolongan segera.


"Jika kau memaksa kakimu untuk berlari lagi, maka kau bisa benar-benar lumpuh," rutuk Nandini sambil memapahnya turun ke lantai satu.


"Diamlah! Dan jangan banyak bicara! Awas jika menyumpahiku lagi!" Viktor kesal mendengar kata-kata lumpuh dari gadis kampung ini.


Mereka akhirnya sampai ke rumah sakit. Mereka segera menemui dokter yang merawat Viktor sebelumnya.


"Memangnya kakinya parah ya dok?" tanya Nandini ketika Viktor selesai di periksa.


"Ya. Kecelakaan itu membuat kakinya cedera di bagian yang fatal," jawab Dokter sambil membuat catatan obat untuk pasiennya.


"Ohh," Nandini merasa bersalah tiba-tiba.


Keluar dari rumah sakit, Nandini menatap Viktor diam-diam dan dalam hati merasa bersalah.

__ADS_1


"Aku sangat senang main futsal sejak kecil. Aku juga senang main basket. Tapi sekarang aku tidak bisa lagi melakukan nya," kata Viktor tiba-tiba saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Ohh, apakah itu karena cedera di kakimu?" tanya Nandini sambil menoleh padanya.


Viktor tidak menjawabnya. Tapi jelas wajahnya menunjukkan ekspresi kesedihan yang mendalam.


Nandini lalu menyuruh sopir berhenti di dekat pemancingan ikan.


"Kenapa berhenti?" tanya Viktor terheran.


"Sudah ikut saja. Ayo turun..." ajaknya sambil turun lebih dulu lalu berputar dan menghampiri Viktor lalu membantunya turun dan memapahnya berjalan.


"Aoooo!" keluh Viktor saat Nandini menyenggol sesuatu di bawah perutnya. Nandini menjadi terpaku dan wajahnya bersemu merah.


"Jangan ulangi lagi! Kau lakukan dengan pelan. Aku bukan barang atau robot! Awas jika kau tidak hati-hati!" ancam Viktor karena Nandini sudah menyenggol barangnya yang paling berharga dengan sedikit keras.


Mereka lalu masuk kedalam setelah membayar di kasir. Nandini sempat melihat tempat ini ketika membawa ibunya ke rumah sakit kala itu. Dan dia ingin sekali menenangkan diri sambil memancing, namun rupanya belum juga kesampaian. Dan kini terlintas untuk menebus rasa bersalahnya pada pria yang sudah dia celakai kala itu.


"Apa yang akan kita lakukan disini?" tanya Viktor ketika mereka sudah duduk di pinggir kolam. Seumur hidupnya dia memang belum pernah memancing. Dia tidak menyukainya dan lagi dia punya hobi main futsal dan Basket. Jadi jika ada waktu luang akan dia gunakan untuk kedua hobinya itu. Namun sudah sebulan lebih dia tidak melakukannya karena dokter melarangnya.


"Kita akan memancing. Duduk dan pegang ini!" ucap Nandini memberikan kail pada Viktor.


"Aku tidak mau. Ini membosankan!" tolaknya.


"Cobalah dulu. Ini akan seru. Dan kau tidak perlu terlalu banyak bergerak. Kau cukup menarik kailnya jika merasa ada ikan yang tersangkut,"Nandini tetap memaksanya untuk memegang kail itu. Karena dalam hati dia yakin Viktor akan menyukainya. Saat ini dia tidak bisa melakukan hobinya karena kakinya. Jadi memancing sambil duduk tidak akan berpengaruh pada kakinya yang sakit.


"Ck, kampungan!" rutuknya.


"Kau akan suka setelah mencobanya," Nandini tetap berusaha membuat Viktor menyukai hal ini.

__ADS_1


Akhirnya Viktor mengikuti apa yang di katakan Nandini. Dan benar saja, ketika dia berhasil mendapatkan satu ikan lumayan besar, dia merasa senang hingga tanpa sengaja tersenyum lebar.


"Ahh, kena kau!" Ucap Viktor saat menggantung di ujung kailnya ikan yang besar. Nandini menoleh padanya dan segera membantu Viktor agar ikan itu tidak jatuh lagi ke kolam.


Byuurr! Ikan masuk kedalam ember yang di isi sedikit air.


Nandini juga tersenyum. Rasanya dia juga ikut senang karena bisa melakukan kegiatan ini yang sudah lama dia inginkan. Setidaknya ada seseorang yang menemaninya. Meskipun orang itu sering membuatnya kesal dan sedih. Tapi tetap saja, terasa menyenangkan.


"Ayo kita pulang. Kita akan goreng ikan ini. Aku akan memasaknya untuk makan kita berdua," ajak Nandini sambil membantu Viktor bangun.


"Pasti rasanya hambar. aku tidak yakin kau bisa memasak," ejek Viktor. Gadis kampungan seperti Nandini mana bisa memasak ikan yang lezat, batinnya.


"Kau akan tahu setelah merasakan masakanku," Nandini sangat percaya diri kali ini meskipun Viktor mengejeknya.


"cih...rasanya pasti tidak enak!" timpalnya lagi.


Sreeekkk!


"Aoooo!" hampir saja Viktor jatuh ketika Nandini melepaskan pegangan nya.


"Kau gila! Kau mau membuat aku celaka, hah!" Teriaknya.


"Makanya, bisa ngga sih, sebentar saja bicara yang lembut dan baik padaku? Kata-kata mu selalu menyakitkan hati!" kesal Nandini dan menarik lagi tangan Viktor saat dia hampir terjatuh barusan.


"Jika kau tidak ikhlas maka tidak usah membantuku!" Teriak Viktor marah karena Nandini melepaskan tangannya barusan.


"Sudahlah. Kau tidak akan mengerti bagaimana bicara dengan wanita. Aku tidak ingin bertengkar denganmu. Masuklah lebih dulu," Nandini membuka pintu untuk Viktor lalu dia berputar dan masuk juga, duduk di sebelahnya.


"Arah pulang pak!" titah Viktor pada sopir yang sudah menyalakan mobilnya. Nandini terdiam menatap ke jendela dengan hati yang tidak karuan. Baru beberapa hari rasanya terasa sangat lama dan waktu berjalan begitu lambat. Dalam hati dia tidak yakin akan kuat menghadapi pria seperti Viktor. Berharap dia segera di ceraikan olehnya dan mereka tidak berjumpa lagi setelahnya.

__ADS_1


__ADS_2