
Nandini bicara dengan Victor jika dia harus keluar kota," besok aku ada tugas ke luar kota," ucap Nandini saat dia baru saja mandi. Dan Viktor sudah berbaring di tempat tidur dengan memegang sebuah majalah bisnis di tangan nya.
Victor kaget hingga menoleh padanya dan menatapnya lekat.
"memangnya kenapa harus kamu? Apakah tidak ada pegawai yang lain?" tanyanya. Jika di dengar dari nada bicaranya, sepertinya dia keberatan.
"Karena hanya aku yang tahu daerah itu. tempat itu adalah kampung halamanku ketika aku belum merantau ke sini," Nandini mulai mengeringkan sebagian rambutnya dengan hairdryer.
"Baiklah jika begitu, aku besok aku akan ikut denganmu," jawab Viktor setelah memikirkan suatu hal.
"Apa!?" Nandini kaget. Untuk apa harus ikut dengan dirinya? Seperti dia akan pergi jauh saja! batin Nandini. Pasti dia takut aku melarikan diri, bisiknya lagi di dalam hati.
"Kita akan ke sana bersama-sama, aku juga penasaran dari mana kau berasal,"
"Penasaran, apa maksudmu?" Nandini duduk di sampingnya.
"Aku pikir kau datang dari planet lain, tapi ternyata kau juga punya kampung halaman," jawab Viktor sambil menaruh majalah yang dia pegang. Dan tertawa geli melihat wajah Nandini yang bersemu merah.
"Dasar!" Nandini segera mematikan lampu karena kesal di bilang dari planet lain.
.
Esok harinya, Victor dan Nandini sudah siap untuk berangkat. Mereka saat ini sudah sampai di kantor Nandini. Victor menunggu di parkiran dan Nandini masuk ke dalam, sebelum berangkat ke luar kota, dia harus menemui CEO Virlie dulu.
"Proyek ini sangat penting, jadi kau jangan main-main di sana," tegas CEO Virlie. Mengingat itu adalah kampung halaman Nandini.
__ADS_1
"Saya kesana untuk tugas, bukan untuk tamasya..." jawab Nandini.
"Bagus, jika kau sadar hal itu,"
Tidak lama kemudian Nandini keluar dari kantor Nest Food. CEO Virlie melihat dari jendela kantornya. Dia berdiri di dekat jendela sambil menatap ke bawah. Dan betapa terkejutnya dia, saat dia melihat Nandini masuk ke mobil mewah milik Victor.
"Victor!?"
"Bukankah itu Victor? Aku masih ingat, meskipun dari jauh aku bisa melihat jika itu adalah mobilnya."
"Nandini apakah akan pergi bersama Victor ke desa itu."
"Astaga!"
"Akhirnya CEO Virlie juga memutuskan untuk mengikuti Nandini ke desa itu. Melihat Victor mengantarkan Nandini, dia pun penasaran. Victor sangat sibuk jadi untuk apa dia peduli pada gadis desa itu batinnya. Aku ingin menjauhkan mereka berdua tapi malah Victor ikut ke sana. jika seperti ini maka rencanaku bisa gagal batin CEO.
.
Akhirnya CEO Virlie pun sampai di desa itu setelah berjam-jam menempuh perjalanan. Dan dia sangat kesal karena melihat lingkungan di desa itu sangat kotor menurutnya. Jalanannya masih belum diaspal dan tidak mudah mendapatkan restoran untuk makan setelah sampai di sana.
Yang ada hanya warung makan biasa. Memang sejak kecil, CEO Virlie di besarkan dengan kekayaan ayahnya dan tidak pernah pergi ketempat terpencil seperti ini. Kakinya selalu memakai sepatu bermerk yang harganya mahal. Kehidupan yang berbeda 180 derajat dengan Nandini. Hidup Nandini begitu keras sejak kecil tanpa ayahnya.
"Aku sangat lapar, tapi kenapa tidak ada restoran di sini?" CEO mulai menyesali karena dia datang ke tempat seperti ini.
Tentu saja tidak ada restoran di daerah ini, karena memang tempat di mana Nandini dilahirkan berada di bawah gunung dan tempat itu jauh dari kota.
__ADS_1
Jarang ada orang kota yang akan masuk ke daerah itu jika tidak ada kepentingan yang mendesak sekali, jadi tidak ada investor yang membuat atau membangun restoran untuk mereka singgah.
Saat CEO Virlie berdiri di depan warung makan, tiba-tiba Nandini dan Victor datang dan kaget saat melihatnya ada di sana.
"CEO ada juga datang ke tempat ini?" Sapa Nandini terkejut.
"Aku datang karena ingin memastikan apakah kau benar-benar sampai di tempat ini atau tidak," jawabnya dengan ketus.
"Saya pasti datang ke sini, hanya saja tadi kami mampir ke restoran dulu untuk makan," Nandini menoleh pada Viktor yang berjalan mendekatinya.
"Dasar gadis sialan, dia sudah makan sementara aku merasa sangat lapar. Ah, kenapa tadi aku tidak pergi restoran saja sebelum ke tempat ini?" batin CEO dalam hati.
"Apa yang akan kau lakukan di sini dan kenapa kau berdiri di depan warung makan ini?" tanya Victor seakan sedikit mengejeknya. Tentu saja Viktor mengenal gaya hidup Virlie sejak lama. Dia tidak mungkin datang ke tempat seperti ini. Dan kedatangan nya ini membuatnya sangat terkejut.
"Aku akan mencari restoran di sekitar sini, tapi ternyata tidak ada dan yang ada hanya warung makan ini saja," jawabnya setengah malu-malu.
"Oh begitu. Tentu saja tidak ada restoran di sini, tempat ini jauh dari kota. Ya sudah jika kamu makan, masuklah sana, nanti kalau orang ini tutup kau bisa kelaparan," ejeknya lagi. Dalam hati dia masih kesal akan sikap Virlie yang menolaknya ketika dia duduk di kursi roda.
"Sialan! Dia malah mengejekku dan menghina aku di depan Nandini," kesal CEO Virlie dalam hati.
"Nandini ayo kita jalan-jalan ke sana, lebih baik kita jalan kaki saja," kata Victor membuat hati Virlie terbakar cemburu.
"Ya baiklah," jawab Nandini karena tangannya sudah di tarik oleh Viktor.
CEO Virlie menggerutu kesal, melihat mereka berdua berjalan bersama, sedangkan dia akan masuk ke warung itu untuk makan karena perutnya yang lapar sudah tidak bisa ditahan lagi.
__ADS_1