
"Jika kakimu sudah lebih baik, maka aku akan minta izin padamu untuk kembali ke kantor mulai hari ini," kata Nandini setelah dua Minggu berlalu. Saat ini mereka baru saja sarapan.
Viktor menoleh sekilas kearahnya dan menatapnya.
"Memangnya kenapa harus bekerja lagi?" tanyanya.
"Pekerjaan itu sangat penting untukku. Pernikahan kita hanya sementara. Setelah itu aku akan kembali menjadi Nandini dan bukan nyonya di rumah ini. Jika tidak bekerja, bagaimana aku bisa membayar kuliahku,"
Nandini berfikir untuk mengambil kuliah sambil bekerja atas saran Viktor beberapa hari yang lalu. Bagi Viktor pendidikan sangatlah penting dan tidak cukup hanya cerdas dan pintar saja, tapi di butuhkan pengakuan seperti titel untuk membuat orang lain lebih percaya pada kemampuannya.
"Terserah kau saja," Viktor bicara sambil membuang nafasnya seakan pikiran nya sedang fokus pada hal yang lainnya. Matanya sejak tadi menatap harga saham yang sedang naik dan bangkit kembali setelah beberapa hari terpuruk.
Setelah di izinkan oleh Viktor, Nandini naik keatas dan akan mengambil tas di kamarnya. Dia baru saja mengirim pesan pada CEO Virlie jika kesehatan Viktor sudah membaik dan dia bisa bekerja sejak hari ini.
"Mengirim pesan sudah, sarapan sudah, hem...apalagi ya...?" Nandini sedikit berjingkat dan menatap wajahnya serta badanya di kaca.
"Hmm, baju ini sangat bagus. Jika aku keluar dari rumah ini, maka aku tidak bisa memakai semua baju ini lagi. Karena, baju ini di siapkan olehnya bukan untukku. Mumpung aku masih disini, ngga ada salahnya aku pakai beberapa,"
Nandini bicara sendiri sambil berputar-putar. Tinggal di rumah Viktor kadang seperti dia sedang menjalani hukuman. Namun kadangkala saat dia melihat ke ruangannya yang penuh dengan baju hingga berlusin-lusin yang tertata rapi, membuatnya sedikit merasa beruntung bisa memakai semua itu tanpa membelinya.
"Entah sampai kapan hukuman ini berakhir, aku akan berusaha menyesuaikan diri dengan sikap nya yang sangat arogan. Jika tidak, aku akan mati berdiri setiap kali mendengar teriakannya!"
"Nandini!" Saat Nandini membatin dalam hati tiba-tiba Viktor berteriak dari lantai satu.
"Dia memang menjengkelkan. Begitu banyak pelayan di rumah ini, tapi selalu saja berteriak memanggil ku!" Keluh Nandini beranjak dari kamarnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya setelah sampai di hadapan Viktor.
"Ambilkan handphone ku dikamar. Aku harus segera pergi menemui seseorang," ucap Viktor sambil menaruh majalah bisnis itu.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Jika bilang aku akan bawa sekalian. Aku bisa terlambat jika seperti ini!"
"Heh! Kau baru saja akan bekerja tapi sudah membuat aku jengkel. Cepat ambilkan, sana!"
Nandini lalu berlalu dari hadapan Viktor dan naik lagi ke atas untuk mengambilkan handphonenya. Dalam hati dia benar-benar kesal akan sikapnya. Dia bisa minta tolong para pelayan di rumah ini. Sudah tahu jika ini adalah hari pertama Nandini bekerja. Tapi pria arogan itu bahkan tidak akan mempedulikan dirinya.
"Nih. Aku berangkat sekarang!" kata Nandini dan berlalu tanpa menunggu jawaban dari Viktor. Jika aku tidak cepat-cepat pergi dari hadapannya, maka ada saja yang dia minta. Ambilkan ini, ambilkan itu. Dasar!
.
Tok tok tok! Nandini mengetuk pintu CEO Virlie.
"Masuk!" jawabnya dari dalam.
"Silahkan duduk!" kata CEO Virlie mempersilahkan Nandini untuk duduk.
"Selamat datang kembali ke kantor ini,"
"Terimakasih..." jawabnya. CEO lalu meletakkan pulpennya karena dia sedang menandatangani berkas penting dan kini menatap Nandini dengan lekat.
"Bagaimana kabar Viktor? Aku dengar kakinya sempat kambuh lagi. Apakah sekarang sudah sembuh?" tanya CEO pada Nandini.
__ADS_1
"Sekarang sudah lebih baik. Dia bisa berjalan tanpa perlu bantuan lagi,"
"Ohh...begitu ya. Kapan kalian akan berpisah? Aku dengar orang tuanya tidak menerima dirimu?"
Nandini tertunduk. Lalu menjawab pelan. "Iya. Saya maklum akan hal itu. Karena dari awal memang bukan saya yang mereka inginkan. Dan lagi, saya juga tidak tertarik menjadi istrinya,"
"Ehm, kau berada di jalur yang benar. Kau harus tetap seperti ini. Jangan berharap lebih padanya. Dia sedang marah padaku. Suatu saat jika kemarahan hilang, maka kami akan bersama lagi setelah kau dan dia berpisah," kata CEO Virlie membuat Nandini menatapnya tajam.
"I-iya. Saya tidak bisa memaksanya untuk menceraikan saya karena suatu hal,"
"Nah, kenapa dia masih mempertahankan dirimu? Bukankah itu hanya akan membuang waktunya saja?"
"Apa?" Nandini agak tergelitik dengan ucapan membuang waktu yang di katakan CEO barusan.
"Yah, maksudku, untuk apa bersama jika tidak ada cinta. Hanya membuang waktu saja. Yang aku lihat adalah, dia sedang membalasku. Dia masih marah padaku. Karena itu dia mesih mempertahankan dirimu..."
"Eh...mungkin CEO benar," Nandini juga berfikir ada benarnya apa yang di katakan CEO Virlie.
"Oke. Selamat bekerja dan setiap hari mungkin aku akan bertanya kabar tentang Viktor. Karena aku tidak bisa bertanya langsung padanya,"
"Iya, baiklah..."
Nandi lalu keluar dan kembali ke meja kerjanya. Saat duduk sambil membuka laptopnya, pikirannya malah melayang dan memikirkan rumah.
"Yang CEO katakan memang benar. Aku dan dia hanya membuang waktu saja. Tapi, aku sedang di hukum olehnya karena menyebabkan kecelakaan waktu itu. Dan tidak ada yang boleh tahu kejadian waktu itu," batin Nandini dan mulai membuka sandi laptopnya dan memasukkan data seperti biasanya.
__ADS_1