
Virlie dan kedua orang tuanya serta suaminya tengah makan malam. Mereka datang berkunjung sebagai pasangan pengantin baru karena ada yang ingin di sampaikan.
"Mama, papa, ada yang ingin kami katakan pada kalian berdua," kata Virlie ketika makan malam telah usai.
"Hem....?" sang papa menatap putranya, sementara Vivi sang ibu nampak diam saja.
"Sebentar lagi aku akan menjadi ibu, dan kalian akan menjadi kakek dan nenek...." kata Virlie dengan mata berbinar.
Sang papa langsung tersenyum dan memeluk putrinya.
"Apakah artinya kau sedang mengandung? Oh, selamat sayang. Kau akan menjadi seorang ibu," Sang papa mencium kening putrinya dengan suka cita. Karena kedua anak perempuannya akan menjadi seorang ibu. Dalam sekali waktu, dia akan mendapatkan dua orang cucu dari kedua putrinya, batin Bram.
Sementara Vivi nampak kaget. Dia terdiam. Dalam hati sebenarnya dia merasa senang. Namun dia tidak berekspresi karena masih kesal pada Virlie yang menikahi pelayannya sendiri.
Bram memeluk Aji. Dan mengucapkan selamat padanya.
"Jaga dia baik-baik. Dia sedang mengandung," pesan Bram pada menantunya itu.
"Tentu...pa...." Aji mengangguk dan menjawab dengan tegas.
Sementara Vivi sang ibu masih terdiam dan akhirnya berdiri. Virlie menunggu sang ibu untuk memeluknya, namun Vivi malah pergi ke kamarnya tanpa bicara sepatah katapun.
"Jangan tersinggung, beti waktu pada mamamu...." kata Bram pada Virlie juga Aji.
Mereka berdua mengangguk dan tersenyum kecil. Mereka tahu jika mamanya masih kesal dan masih butuh waktu untuk meluluhkan hatinya.
.
__ADS_1
Virlie dan Nandini semakin dekat saat ini, bahkan karena usia kehamilan mereka sama maka mereka mulai berjanji untuk pergi ke dokter bersama-sama dan melahirkan bersama.
"Mulai sekarang, mari kita sepakat untuk bersama dan melahirkan bersama," Ajak Virlie pada Nandini.
"Okey..." Nandini dan Virlie lalu saling mengaitkan jari mereka sambil tertawa kecil.
Nandini dan Virlie bicara di ruang tamu rumah Nandini. Viktor yang heran dengan kedekatan mereka mondar-mandir di lantai dua dan sesekali melihat ke bawah.
"Memangnya sejak kapan mereka dekat seperti itu?" gumam Viktor dari tempatnya berdiri. Dia nampak terheran karena tidak tahu apa yang membuat dua wanita itu menjadi begitu dekat.
Nandini dan Virlie terus saja asyik berbicara dan ngobrol seputar kehamilan mereka. Lalu Aji datang untuk menjemput Virlie.
"Aku pulang dulu ya, bye....." Virlie pamit lalu memeluk Nandini seperti seorang teman akrab begitu Aji datang menjemputnya. Aji mengangguk pada Nandini saat akan menjemput istrinya.
"Ya. Hati-hati...." kata Nandini. Setelah Virlie pergi, Nandini berbalik dan mendongak ke atas. Dia melihat Viktor berdiri dengan wajah cemberut dari lantai dua.
"Kau baik-baik saja?" Viktor nampak ragu dengan ke akrab an Nandini dan Virlie. Dia khawatir Nandini sedang di manfaatkan oleh Virlie. Nandini yang lugu tentu akan mudah sekali di hasut, pikir Viktor.
"Aku tidak sakit. Kenapa bertanya begitu? Apakah kau mengigau?" Nandini tertawa kecil sambil menoleh pada Viktor.
"Apa yang kalian bicarakan?" Viktor ingin tahu.
"Seputar kehamilan, itu saja..." jawab Nandini sambil tertawa kecil dan riang karena teringat kedekatan nya dengan saudara tirinya tadi.
"Aku khawatir dia ....." belum sempat melanjutkan kalimatnya Nandini sudah menaruh jari telunjuknya di bibir Viktor. Mereka lalu berhadapan dan Viktor terdiam.
"Dia sudah berubah. Jangan cemas...." seakan Nandini tahu apa yang Viktor cemas kan. Nandini lalu memeluknya, dan membuat Viktor tertawa kecil diam-diam.
__ADS_1
Dia selalu suka momen ini. Ketika Nandini memeluknya dengan erat seperti saat ini.
.
Nyonya Vivi masih kesal pada Virlie saat tahu dirinya sudah hamil. Dan Virlie sangat mencintai Aji hingga dia merasa di abaikan oleh putrinya itu. Telah membuatnya tersiksa karena sepanjang hari terus di dalam rumah, kini dia bersiap untuk menghadapi orang-orang.
Nyonya Vivi mulai berani keluar karena terlalu lama berdiam di rumah membuatnya bosan. Hari ini ada pertemuan arisan seperti biasanya. Arisan rutin bulanan bersama teman sesama istri pengusaha.
"Jeng....kemana aja? Lama tidak kelihatan?" tanya seorang anggota yang duduk di dekatnya.
Vivi menaruh tas bermerk ya di atas meja di dekatnya lalu duduk dengan tenang.
Bibirnya tersenyum dan menatap temannya satu persatu.
"Aku sangat sibuk. Beberapa bisnis di luar negeri menyita waktuku," jawabnya ringan.
Beberapa temannya saling melirik dan berpandangan. Dua di antaranya berbisik-bisik.
"Putrinya menikahi ajudan ayahnya. Dia kesal dan mengurung dirinya di rumahnya," bisiknya pada temannya.
Teman yang mendengar nampak tersenyum sinis.
"Keluarga penuh scandal. Ingat gadis bernama Nandini? Dia adalah anak Bram bersama wanita lain. Dan kini putrinya mengikut jejak ayahnya. Pasti sudah hamil duluan, makanya akhirnya menikahi ajudannya sendiri, ck....."
"Shttt....dia melihat ke sini...." Dua wanita itu lalu terdiam saat Vivi melihat kearah mereka berdua yang membicarakan dirinya.
Kini dia telah bersiap untuk menjadi percaya diri tanpa peduli pada scandal putrinya lagi. Diapun hanya tersenyum kala tahu beberapa temannya membicarakan nya di belakangnya.
__ADS_1