
Virlie tertawa sendirian di kantornya. Namun tanpa di duga Bram sang papa masuk dan melihat dengan mata kepala sendiri apa yang sudah di lakukan Virlie pada Nandini.
"Jadi kau yang melakukan semua ini?" Mendengar suara papanya membuat Virlie tersentak dan menoleh.
"Papa? Bagaimana papa bisa ada disini?" Tentu saja Virlie terkejut. Jangan-jangan papanya mendengar semua ocehannya tadi.
"Papa kecewa padamu Virlie," Benar saja, sang papa mendengar semua ocehan putrinya.
"Maaf pa. Aku tidak bermaksud menyakiti papa. Aku hanya ingin Nandini keluar dari rumah Viktor," Virlie membuat alasan kenapa dia sampai menyebarkan berita Nandini pada media.
"Nandini adalah saudara mu. Dia anak papa. Papa menyayangi nya sebagaimana papa menyayangi mu. Jika kau menyakiti saudara mu sama saja kau menyakiti papa," Sang papa menatap dalam mata Virlie.
"Papa lebih menyayangi Nandini daripada aku. Sekarang papa menyalahkan aku juga," ketus Virlie.
Virlie berpaling dan menatap ke jendela. Sementara Bram mendekati nya. Lalu menyentuh bahu putrinya dan memeluknya.
"Papa tahu kamu masih mencintai Viktor. Tapi jika dia juga mencintaimu, maka dia akan meninggalkan Nandini. Jika mereka tetap bersama, artinya yang kau harapkan hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Putri papa ini biasanya kuat dan tangguh. Ayolah. Kembali seperti kau yang papa kenal dulu. Lupakan Viktor dan Nandini juga masalah yang kalian hadapi...." Dari nada suaranya nampak sang papa marah, namun kasih sayangnya untuk meluruskan sikap Virlie lebih dia kedepankan.
Sesaat Virlie menatap wajah papanya dengan tanpa bicara.
"Papa pergi dulu. Papa harus ke luar negeri selama dua Minggu. Bangkitlah. Jangan menyakiti dirimu sendiri dan akan kau sesali suatu hari nanti..." nasehat Bram pada putrinya.
Virlie mengangguk pelan.
Saat Bram sudah pergi, tiba-tiba masuk ajudan papanya.
__ADS_1
"Aji?" tanya Virlie kaget saat Aji tiba-tiba masuk ke ruang kantornya.
"Mulai sekarang aku akan menjadi pengawal mu. Ini perintah dari Presdir langsung," kata Aji saat Virlie terkejut menatapnya.
"Papa? Kenapa?" Virlie menggeser tangannya.
"Tuan sangat khawatir padamu. Kau yang tiba-tiba menyebarkan berita soal Nandini semakin membuat Tuan khawatir," terang Aji berdiri di hadapan Virlie.
"Jadi, papa mencemaskan aku?"
"Tentu saja. Tuan sangat sayang padamu. Dia sering membicarakan mu saat aku sedang menyetir untuknya," Aji juga ingin Virlie bangkit lagi seperti dulu.
"Aku pikir, papa sudah melupakan aku sejak bertemu dengan Nandini," katanya lirih.
"Duduk!" kata Virlie menyuruh Aji duduk sementara dia berdiri didekat Jendela memikirkan sesuatu.
"Apa...."
"Diamlah. Dan duduk saja," kata Virlie ketika Aji akan mengatakan sesuatu.
Seperti yang di minta nonanya. Aji tidak bicara sepatah katapun selama Virlie melamun dan berfikir sambil berdiri menatap keluar gedung.
Aji sebenarnya diam-diam menaruh hati pada Virlie. Namun perasaan itu hanya dia simpan didalam hati. Dia adalah seorang ajudan, sementara wanita yang dia cintai adalah konglomerat. Maka mana mungkin dia akan berani mengungkapkan nya?
.
__ADS_1
Nandini dan Viktor sama-sama terdiam sesaat ketika ibunya sudah pergi.
"Jangan khawatir. Aku akan memperbaiki nama baikmu," kata Viktor pada Nandini. Mereka sama-sama melihat sampul majalah yang sama.
"Bagaimana caranya?" Nandini nampak mengkhawatirkan ibunya saat ini. Karena ibunya pernah menjalani operasi jantung.
"Kau mau kemana?" tanya Viktor saat melihat Nandini akan pergi.
"Aku akan pergi kerumah ibu,"
"Biar aku antar...." kata Viktor.
Viktor lalu mengantar kan Nandini kerumah ibunya. Sampai disana, dia mengetuk pintu namun tidak juga ada sahutan. Nandini menjadi cemas, dan ternyata benar saja, ketika Viktor memaksa untuk mendobrak pintu itu dengan mencongkelnya, Ibunya Nandini sedang memegang dadanya yang sakit.
"Ibu...." Nandini langsung membaringkan ibunya dan mencari obatnya di laci.
"Minum ini," Nandini meminumkan obat untuk ibunya dengan segelas air putih. Viktor juga membantu nya.
"Tidak papa. Jangan cemas. Apakah kau baik-baik saja? Ibu justru mencemaskanmu?"
"Ibu. Jangan pikirkan aku. Pikirkan kesehatan mu sendiri," kata Nandini dengan sedih.
"Apakah sebaiknya kita ke rumah sakit?"
"Tidak usah," tolak ibunya.
__ADS_1